INDOPOSCO.ID – Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Ali Muktiyanto menuturkan, Universitas Terbuka memiliki program kelompok riset profesor. Kelompok ini menjadi ikon dan lokomotif riset hingga hilirisasi.
“Kami menginginkan riset bisa dihilirisasi dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Program ini sesuai dengan program kampus berdampak Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek),” ujar Ali kepada indoposco.id usai mengukuhkan 6 profesor di kampus UT, Kamis (6/8/2026).
Menurut Ali, para profesor yang dimiliki UT menjadi ketua kelompok riset. Sehingga riset tidak hanya berhenti di publikasi internasional saja. Tetapi bisa dihilirisasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kami sudah siapkan pendanaan riset Rp100 juta hingga Rp1,5 miliar,” kata Ali.
Ia menegaskan, dengan jumlah 45 profesor yang dimiliki UT, bisa menghasilkan 45 ribu karya ilmiah yang terpublikasi di internasional dan 10 persen karya ilmiah dihilirisasi.
“Harapan kami 40-45 karya ilmiah ini bisa dihilirisasi dan kemudian bisa dimonetisasi,” kata Ali.
Lebih jauh Ali mengungkapkan, pengukuhan 6 profesor hari ini melengkapi profesor UT yang sebelumnya berjumlah 39 profesor. Jumlah profesor saat ini, menurutnya, 5 persen dari jumlah dosen universitas terbuka.
“Kami ingin para profesor yang dikukuhkan hari ini tidak hanya menjadi puncak karir akademik dari semata-mata kepakaran. Mereka bisa menjadi motivasi dan role model, serta panutan akademik dan non akademik,” kata Ali.
Diketahui, UT mengukuhkan 6 profesor hari ini, di antaranya Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd., Prof. Dr. Suparti, M.Pd., Prof. Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd., Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si., Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si., dan Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si.
Enam profesor yang dikukuhkan menyampaikan orasi ilmiah bertema “Transformasi Menuju Ekosistem Peradaban Berkelanjutan”. Masing-masing menawarkan solusi dari berbagai persoalan strategis, mulai dari pendidikan, tata kelola pemerintahan, lingkungan, literasi, kecerdasan artifisial (AI), hingga perlindungan pekerja migran.
Di bidang pendidikan, Prof. Dr. Tita Rosita, M.Pd. menekankan pentingnya membangun ekosistem pembelajaran abad ke-21 yang adaptif, personal, dan berpusat pada mahasiswa melalui pemanfaatan teknologi, analitik pembelajaran, serta AI.
Penguatan pendidikan juga disampaikan Prof. Dr. Suparti, M.Pd. yang mengusulkan strategi pembelajaran literasi agar peserta didik mampu berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif di era digital. Sementara Prof. Dr. Mery Noviyanti, S.Si., M.Pd. memperkenalkan pembelajaran matematika berbasis AI, Python Virtual Lab, dan GeoGebra guna memperkuat kemampuan computational thinking serta literasi AI.
Tak hanya pendidikan, tata kelola pemerintahan juga menjadi sorotan. Prof. Dr. Siti Aisyah, M.Si. menawarkan konsep smart governance yang mengintegrasikan teknologi digital, data, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan agar pelayanan publik menjadi lebih cepat, transparan, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Dr. Rahmat Hidayat, S.Sos., M.Si. mengembangkan model pelaporan kolaboratif berbasis End Mobile Traffick App untuk memperkuat perlindungan pekerja migran dari praktik forced scamming atau penipuan digital lintas negara yang semakin marak.
Di sektor lingkungan, Prof. Dr. Ir. Edi Rusdiyanto, M.Si. memperkenalkan konsep River-Settlement Symbiotic System (RS3) yang memandang sungai sebagai bagian tak terpisahkan dari ruang hidup masyarakat. Pendekatan tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana di kawasan perkotaan. (nas)


















