INDOPOSCO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang menyalahkan guru atas kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) justru memperkeruh masalah.
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Zanatul Haeri mendesak Kepala BGN Sudaryono meminta maaf dan mengundurkan diri karena gagal dalam menghentikan keracunan MBG, serta meresahkan masyarakat setelah menyalahkan guru, orang tua dan wartawan yang protes dan memberitakan keracunan MBG.
Menurutnya, sumber masalah sebenarnya ada pada makanan program MBG, bukan pihak sekolah. Namun, Kepala BGN justru mengumpulkan para kepala sekolah untuk literasi gizi di tengah maraknya kasus keracunan.
“Kepala BGN harusnya intropeksi diri, keracunan MBG disebabkan ada persoalan serius dalam desain kebijakan MBG oleh BGN. Masalahnya di internal BGN dan SPPG. Maka salah alamat jika menyalahkan guru dan sekolah. Kenapa guru disalahkan?,” kritik Iman dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Kepala BGN juga diminta berhenti membuat pernyataan yang membuat gaduh. Misal menyatakan bahwa keracunan MBG diakibatkan masalah politik dan ideologis.
“Selain tidak punya empati kepada korban keracunan MBG, Kepala BGN harus bisa menjelaskan, apakah 50.000 orang keracunan MBG, itu gara-gara masalah ideologi? dan mereka keracunan akibat perbedaan ideologi?” Iman bertanya.
Kepala BGN Sudaryono menyebut bahwa keramaian isu keracunan MBG turut dibesar-besarkan oleh sejumlah pihak di media sosial, termasuk guru, orang tua, hingga wartawan. Kendati demikian, BGN menegaskan bahwa pihak dapur dan pengawas gizi sebenarnya memiliki kewajiban mencicipi makanan terlebih dahulu.
“Satu, adalah ideologis, ini masalah urusan politik. Nomor satu. Yang ramein gurunya, yang ramein orang tua siswanya, yang ramein adalah wartawannya, yang ramein adalah orang-orang oknum yang LSM dan lain sebagainya, itu ideologis politis,” klaim Sudaryono baru-baru ini. (dan)















