INDOPOSCO.ID – Persoalan jarak dan kondisi geografis kepulauan tak menghalangi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperluas pemanfaatan gas untuk pembangkit listrik. Perseroan kini menyiapkan jaringan logistik LNG yang akan menghubungkan pasokan gas dengan sejumlah pembangkit di Nusa Tenggara.
Melalui pengembangan LNG Logistics Network Cluster Nusa Tenggara, PLN EPI menargetkan pembangkit dengan total kapasitas 477 megawatt (MW) di lima lokasi dapat memperoleh pasokan gas. Jaringan tersebut dirancang membentang dari Lombok, Sumbawa hingga Flores dan ditargetkan mulai onstream pada awal 2029.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengatakan proyek tersebut menjadi penting karena sistem kelistrikan di Nusa Tenggara memiliki tantangan yang berbeda dengan daerah yang telah memiliki jaringan pipa gas.
Lombok menjadi salah satu contoh wilayah yang membutuhkan pola distribusi LNG. Tidak adanya pasokan gas langsung dari sisi hulu membuat PLN EPI perlu membangun infrastruktur di sisi tengah rantai pasok agar gas dapat tiba di pembangkit.
“Untuk kasus Lombok, karena tidak ada pasokan gas yang langsung dari upstream, kita harus mengembangkan _midstream_nya supaya kita bisa menyediakan sumber gas untuk pembangkit di Lombok,” kata Erma dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Jaringan tahap awal akan diarahkan untuk memasok lima lokasi, yakni PLTMG Lombok Peaker, PLTMG Lombok-2 Sambelia, pembangkit di Sumbawa, Flores, serta Maumere. Total kebutuhan gas rata-rata yang diproyeksikan mencapai 39,8 BBTUD.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi PLN EPI mengoptimalkan pembangkit yang sejak awal memiliki kemampuan menggunakan gas, tetapi selama ini masih beroperasi dengan bahan bakar minyak (BBM).
Peralihan bahan bakar diharapkan tidak hanya memberikan efisiensi pada penggunaan energi primer, tetapi juga membantu menurunkan emisi dari sektor pembangkitan.
“Pembangkit-pembangkit yang sebenarnya bisa menggunakan gas dan selama ini masih menggunakan BBM, ini bisa kita ganti sumbernya dengan gas. Selain lebih efisien, gas juga lebih bersih dibandingkan BBM,” jelas Erma.
Untuk menjalankan rantai pasok tersebut, PLN EPI menyiapkan satu LNG carrier berkapasitas 22.000 CBM. Kapal ini dirancang melakukan satu siklus perjalanan atau roundtrip sekitar 10 hari dan memasok LNG secara bergiliran ke lima lokasi dalam jaringan Nusa Tenggara.
Sistem penerimaan LNG juga disiapkan di masing-masing lokasi. PLTMG Lombok Peaker, misalnya, direncanakan memiliki tangki LNG berkapasitas 8.000 m3 serta fasilitas regasifikasi berkapasitas 32,07 MMSCFD.
Adapun PLTMG Lombok-2 Sambelia akan dilengkapi tangki 5.000 m3 dengan kapasitas regasifikasi 23,75 MMSCFD. Fasilitas Sumbawa dirancang memiliki tangki 7.500 m3 dan kapasitas regasifikasi 29,29 MMSCFD.
Untuk wilayah Flores, PLN EPI menyiapkan tangki penyimpanan LNG berkapasitas 2.500 m3 dengan fasilitas regasifikasi 19,08 MMSCFD. Sementara Maumere direncanakan memiliki kapasitas penyimpanan 4.500 m3 dan regasifikasi 9,50 MMSCFD.
Menurut Erma, model distribusi LNG melalui infrastruktur midstream menjadi solusi bagi pembangkit yang lokasinya tidak memungkinkan untuk memperoleh pasokan melalui jaringan pipa.
“Kalau gas menggunakan gas pipa, itu harus dekat antara sumber pasokan gas dengan sumber pembangkit. Karena itu, untuk wilayah seperti Lombok kita perlu membangun infrastrukturnya agar gas bisa sampai ke pembangkit,” tutur Erma.
Skala pengembangan Cluster Nusa Tenggara juga tidak berhenti pada lima titik penerima LNG. Secara keseluruhan, PLN EPI merencanakan pembangunan sembilan onshore gasification unit dan dua kapal LNG.
Dalam rancangan tersebut, LNG akan diangkut dari sumber pasokan menggunakan kapal, kemudian diterima di fasilitas penyimpanan. Setelah melalui proses regasifikasi, gas selanjutnya dialirkan menuju pembangkit untuk digunakan sebagai bahan bakar.
Dengan pola tersebut, rantai pasok LNG dibangun secara menyeluruh, mulai dari sumber gas, pengangkutan melalui laut, penyimpanan, regasifikasi hingga pemanfaatannya di pembangkit.
“Kalau midstream gasnya sudah tersedia, selain bisa menghemat BBM, tentu juga bisa menjaga keandalan dari sistem kelistrikan di Lombok,” tambahnya.
Pengembangan infrastruktur tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Mataram. Sekretaris Daerah Kota Mataram Lalu Alwan Basri menyebut koordinasi antara pemerintah daerah dan PLN selama ini telah berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah, sudah cukup lama kerja sama kita berjalan. Kita juga selalu berkoordinasi dengan teman-teman PLN. Kerja sama yang ada selama ini berjalan dengan bagus,” kata Alwan.
Menurut Alwan, peluang kerja sama dengan PLN EPI masih terbuka, terutama untuk program yang mampu menghadirkan manfaat secara langsung bagi masyarakat Kota Mataram.
Namun, ia menilai aspek kemanfaatan bagi masyarakat harus tetap menjadi perhatian dalam setiap pengembangan program maupun infrastruktur.
“Yang paling penting, setiap pengembangan program di Mataram harus memberikan manfaat semaksimal mungkin bagi masyarakat. Karena itu, kita perlu mengelaborasikan program selanjutnya bersama PLN, termasuk memastikan keberlanjutan usaha dan kepentingan masyarakat di sekitar wilayah kegiatan,” katanya.
Bagi PLN EPI, pembangunan jaringan LNG di Nusa Tenggara bukan sekadar proyek distribusi gas. Infrastruktur tersebut dirancang menjadi tulang punggung baru pasokan energi primer untuk pembangkit di kawasan kepulauan yang sulit dijangkau jaringan pipa.
Jika berjalan sesuai rencana, jaringan ini akan membuka ruang lebih besar bagi penggunaan gas sebagai pengganti BBM pada pembangkit yang kompatibel. Dampaknya diharapkan terasa pada efisiensi biaya energi primer, pengurangan emisi, sekaligus peningkatan keandalan sistem kelistrikan dari Lombok hingga wilayah Nusa Tenggara lainnya. (her)















