INDOPOSCO.ID – PT Pertamina (Persero) memperkuat ketahanan energi nasional dengan membangun portofolio liquefied natural gas (LNG) yang makin fleksibel dan terintegrasi. Strategi tersebut dilakukan melalui kombinasi sumber pasokan domestik dan global yang ditopang infrastruktur LNG serta jaringan gas di berbagai wilayah Indonesia.
Strategi penguatan tersebut menjadi salah satu fokus Pertamina dalam gelaran Gastech 2026 di Bangkok, Thailand. Forum energi global ini dimanfaatkan Pertamina untuk memperluas konektivitas dengan pelaku industri energi dunia sekaligus membuka peluang pengembangan portofolio dan bisnis LNG di tengah perubahan lanskap energi global.
Volatilitas pasar, dinamika geopolitik, dan pertumbuhan kebutuhan energi membuat ketahanan energi tidak lagi semata ditentukan oleh besarnya volume pasokan. Kemampuan memperoleh sumber energi yang tepat, pada waktu dan lokasi yang sesuai, dengan biaya kompetitif menjadi faktor yang makin penting.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan diversifikasi sumber dan fleksibilitas portofolio merupakan bagian penting dari strategi Pertamina dalam menjaga ketahanan energi di tengah dinamika pasar global.
“Bagi Pertamina, ketahanan energi bukan hanya mengenai seberapa besar pasokan yang tersedia, tetapi juga kemampuan untuk mendapatkan energi dari sumber yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan biaya yang kompetitif. Karena itu, diversifikasi sumber dan fleksibilitas portofolio LNG menjadi penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujar Baron dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).
Untuk meningkatkan fleksibilitas tersebut, Pertamina mengembangkan portofolio LNG dari berbagai sumber. Selain mengoptimalkan pasokan domestik, Pertamina juga memiliki portofolio internasional, antara lain dari Australia dan Amerika Serikat.
Diversifikasi sumber pasokan tersebut memberikan ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan sumber LNG dan pola pengiriman berdasarkan kebutuhan, kondisi pasar, serta pertimbangan keekonomian.
Fleksibilitas pasokan juga diperkuat dengan infrastruktur LNG dan gas yang dimiliki Pertamina Group, di antaranya Perta Arun Gas, Nusantara Regas, fasilitas penerimaan LNG Jawa-1, serta jaringan pipa gas PGN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Integrasi antara sumber pasokan, infrastruktur penerimaan dan penyimpanan, fasilitas regasifikasi, jaringan pipa, hingga distribusi menjadi fondasi bagi pengembangan rantai pasok LNG yang lebih adaptif.
Melalui ekosistem tersebut, LNG dapat dikelola secara lebih fleksibel, mulai dari penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi, hingga distribusi ke berbagai wilayah sesuai kebutuhan.
“Pertamina memiliki portofolio LNG dan infrastruktur gas yang saling melengkapi. Integrasi dari sumber pasokan, fasilitas penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi hingga jaringan distribusi memberikan fleksibilitas bagi Pertamina untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan energi di berbagai wilayah,” jelas Baron.
Salah satu infrastruktur yang memiliki posisi strategis adalah Perta Arun Gas di Aceh. Berada di kawasan Selat Malaka yang merupakan salah satu jalur perdagangan energi utama dunia, Arun dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai hub LNG regional yang menghubungkan pasokan internasional dengan kebutuhan Indonesia maupun pasar Asia Tenggara.
Posisi tersebut memberikan berbagai opsi dalam pengelolaan LNG, mulai dari penerimaan dan penyimpanan hingga reload, transhipment, regasifikasi, dan distribusi. Fleksibilitas tersebut memungkinkan pengelolaan LNG disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan pertimbangan keekonomian.
Penguatan portofolio dan infrastruktur LNG menjadi semakin relevan seiring perubahan lanskap energi Indonesia. Di tengah pertumbuhan kebutuhan energi dan industri, Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir LNG juga menghadapi potensi peningkatan kebutuhan LNG domestik pada masa mendatang.
Perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri energi nasional. Dengan menghubungkan pasokan global, produksi LNG domestik, infrastruktur nasional, dan kebutuhan regional, Pertamina dapat mengoptimalkan portofolio LNG sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok LNG.
Baron mengatakan strategi LNG Pertamina ke depan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan volume pasokan, tetapi juga pada kemampuan mengelola, mengoptimalkan, dan menyalurkannya secara fleksibel untuk menciptakan nilai yang lebih besar.
“Ke depan, yang menjadi pembeda bukan hanya kemampuan memperoleh LNG, tetapi kemampuan mengelola, mengoptimalkan dan menyalurkannya ke tempat yang memberikan manfaat terbesar. Pertamina ingin menghubungkan pasokan LNG global dengan ketahanan energi Indonesia sekaligus menangkap peluang pertumbuhan,” tutup Baron.(rmn)















