PRIHATIN, kecewa, jengkel campur aduk rasanya, ketika menyaksikan pertandingan di level pembinaan MSI YOUTH DEVELOPMENT 2026 (KU 10–18) yang mempertontonkan bobroknya perwasitan usia dini. Seyogyanya esensi kompetisi adalah sarana pembentukan karakter, pengasah pemahaman regulasi (laws of the game), dan penanaman nilai fair play. Ketika keputusan wasit di lapangan justru dipenuhi kekeliruan berulang—baik bad call maupun missed call—dampak buruknya meluas ke mana-mana.
- Kerusakan Mental dan Karakter Atlet Muda: Anak-anak belajar dari apa yang mereka alami di lapangan. Ketika keputusan yang salah terus dibiarkan, anak yang tidak melanggar tapi terkena call akan merasa cemas dan frustrasi. Sebaliknya, anak yang melakukan pelanggaran tapi tidak ditemukan kesalahannya akan menganggap perilaku tersebut wajar. Ini merusak kompas moral dan mental bertanding mereka sejak dini.
- Pencegahan Pemborosan Investasi Orang Tua dan Tim: Mengirim anak ke sebuah kompetisi membutuhkan pengorbanan besar—mulai dari materi, waktu, hingga tenaga dari orang tua dan pelatih. Mengorbankan semua investasi tersebut hanya karena kepemimpinan wasit yang buruk adalah hal yang sangat merugikan.
- Isu Suap dan Permainan di Usia Dini: Rumor terkait adanya oknum wasit yang dapat dipengaruhi atau diintervensi (baik karena ‘titipan’, tekanan pihak tertentu, maupun imbalan finansial) memang bukan rahasia umum di beberapa ajang kompetisi lokal. Ketika integritas di tingkat usia dini saja sudah tercemar, kita sedang membangun fondasi olahraga di atas dasar yang rapuh. Tidak ada gunanya membina akhlak atlet muda jika otoritas tertinggi di lapangan (wasit) tidak menjunjung akhlak dan moral yang sama.
Langkah Evaluasi Teknis dan Sistemik yang Sangat Mendesak:
- Penerapan Referee Assessor dan Sistem Grade: Setiap kompetisi harus menempatkan penilai wasit independen. Wasit yang terus-menerus melakukan kekeliruan mendasar harus diturunkan grade-nya atau diistirahatkan (punishment), bukan malah terus diberi panggung.
- Sertifikasi Wasit Khusus Grassroots: Memimpin laga anak-anak butuh pendekatan berbeda. Wasit usia dini tidak cukup hanya paham aturan teknis, tetapi juga wajib dibekali pemahaman psikologi anak dan jiwa edukatif. Wasit di level ini adalah seorang “pendidik” di lapangan.
- Transparansi dan Keterbukaan Komplain: Panitia dan asosiasi cabang olahraga harus memiliki mekanisme protes yang jelas dan ditindaklanjuti. Rekaman video pertandingan harus dijadikan bahan evaluasi wajib pasca-kompetisi agar ada efek jera dan perbaikan nyata.
- Penegakan Sanksi Etik yang Tegas: Jika terbukti ada indikasi kecurangan, suap, atau “permainan” di level kelompok umur, sanksi yang dijatuhkan harus berat, seperti pencabutan lisensi permanen demi memberi efek jera dan membersihkan ekosistem perwasitan.
Pembinaan olahraga yang sehat tidak bisa hanya menuntut atlet muda untuk sportif, sementara perangkat pertandingannya justru membiarkan atau mempraktikkan ketidakadilan. Evaluasi menyeluruh terhadap moral, kapabilitas, dan kinerja wasit memang sudah menjadi harga mati.
Stop Merusak Mental Atlet Muda! Reformasi Total Akhlak dan Kinerja Wasit Sekarang!
Salam Olahraga.
( */ Nelly Marinda Situmorang )















