INDOPOSCO.ID – Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof. Ali Muktiyanto menegaskan, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di lingkungan perguruan tinggi tidak boleh mengesampingkan etika dan moral. AI, menurutnya, hanya berperan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran, bukan menggantikan peran manusia.
Pernyataan tersebut diungkapkan Prof. Ali Muktiyanto kepada indoposco.id usai Seminar Wisuda Universitas Terbuka yang juga menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sebagai pembicara utama di kampus UT, Senin (27/7/2026).
Ali mengatakan, pandangan Yusril mengenai pentingnya nilai-nilai kemanusiaan di era AI sejalan dengan kebijakan yang diterapkan UT. Kampus tersebut memanfaatkan AI untuk mendukung proses belajar, mengajar, hingga pengelolaan pendidikan agar lebih efektif dan efisien.
Namun demikian, dikatakan dia, seluruh pemanfaatan teknologi harus tetap berada dalam koridor akademik. “Di atas pemanfaatan AI ada etika dan moral yang harus menjadi patokan serta penimbang segala aktivitas kita. Etika dan moral tetap berada di atas semuanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, UT telah memiliki ketentuan mengenai kode etik serta pedoman penggunaan AI. Aturan itu dibuat agar teknologi tidak digunakan secara berlebihan, khususnya dalam penyusunan tugas maupun karya ilmiah mahasiswa.
Selain itu, UT juga mengintegrasikan berbagai mekanisme pengawasan ke dalam sistem Learning Management System (LMS). Sistem tersebut dirancang untuk mencegah praktik plagiarisme, falsifikasi, fabrikasi, maupun bentuk pelanggaran akademik lainnya.
“Kami ingin memastikan karya ilmiah benar-benar menjadi karya sivitas akademika, bukan sepenuhnya dihasilkan oleh alat,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan, bahwa perkembangan AI tidak akan menghilangkan kebutuhan terhadap manusia di dunia kerja.
Menurutnya, manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan mesin, seperti pengalaman, nilai moral, hubungan sosial, serta kemampuan memahami konteks. “Dunia kerja tetap membutuhkan pendekatan humanistik. Hal itulah yang menjadi salah satu keunggulan manusia ketika bekerja bersama teknologi,” katanya.(nas)


















