INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, ,Bambang Purwanto, menyoroti pernyataan Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia Pacific Bernadia Irawati Tjandradewi mengenai pertumbuhan Kota Global kini berpusat di Asia.
Bambang mengatakan, proyeksi tersebut berarti sekitar tujuh dari 10 penduduk Indonesia akan tinggal di wilayah perkotaan. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi pemerintah karena berpotensi memengaruhi regenerasi petani dan ketahanan pangan nasional.
Menurut dia, pemerintah perlu memikirkan keberlangsungan lahan pertanian dan sektor pangan di tengah semakin tingginya perpindahan penduduk dari desa ke kota.
“Artinya pemerintah perlu menyiapkan langkah konkret untuk menghadapi tren tersebut. Bila prediksi ini benar, bagaimana nasib sawah kita yang selama ini menopang ketahanan pangan kita? Dan apa upaya yang harus dilakukan?” kata Bambang di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Menurut Bambang, urbanisasi telah lama menjadi persoalan karena turut memperlebar kesenjangan antara desa dan kota. Kondisi tersebut mendorong masyarakat pedesaan, terutama generasi muda, berpindah ke perkotaan untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang dianggap lebih baik.
“Hal ini akibat semua kegiatan produksi selalu tumbuh di wilayah perkotaan, sehingga wajar generasi muda menyerbu kota untuk mencari pekerjaan. Sementara di desa tidak tumbuh sentra-sentra produksi, hanya produksi pangan di sawah dan ladang yang selama ini dianggap berkubang lumpur dengan mencangkul,” ujarnya.
Bambang mengingatkan persoalan tersebut semakin serius karena rata-rata usia petani saat ini telah berada di atas 50 tahun. Jika generasi muda tidak tertarik meneruskan profesi tersebut, Indonesia berpotensi menghadapi persoalan serius dalam keberlanjutan produksi pangan.
“Kondisi ini sudah mulai dirasakan saat ini. Apalagi bila terjadi semakin tajam kesenjangan, urbanisasi akan makin besar. Tentu kondisi ini harus mulai diwaspadai karena petani kita rata-rata sudah berusia 50 tahun ke atas,” tegasnya.
“Ketika generasi mudanya tidak mau menggantikan, dapat dipastikan tidak ada petani lagi yang akhirnya produksi padi terhenti. Tentu akan mengancam ketahanan pangan,” sambung Bambang.
Karena itu, Bambang mendorong pemerintah melakukan transformasi sektor pertanian agar profesi petani semakin modern dan memiliki daya tarik bagi generasi muda. Salah satunya melalui peningkatan produktivitas pertanian hingga mencapai sekitar 10 ton gabah per hektare.
“Perlu revolusi di bidang pertanian agar menjadi petani yang modern dengan hasil produksi 10 ton per hektare, sehingga menarik minat generasi muda untuk kembali ke desanya,” katanya.
Bambang menyebut sejumlah langkah modernisasi pertanian telah mulai dilakukan, antara lain melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), baik untuk kegiatan prapanen maupun pascapanen. Pemerintah juga mulai menyediakan dryer atau mesin pengering padi untuk membantu petani, khususnya saat musim hujan.
Namun, menurut dia, pemberian alsintan harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah agar benar-benar tepat guna dan memberikan manfaat bagi petani.
Selain alsintan, Bambang mendorong adanya kemudahan akses bahan bakar bersubsidi bagi alsintan milik petani. Ia juga menilai perlu tersedia titik pengisian bahan bakar khusus di sekitar kawasan persawahan.
“Dukungan jalan usaha tani dan jembatan di saluran irigasi juga diperlukan untuk memperlancar pergerakan alsintan, baik prapanen maupun pascapanen,” ujarnya.
Bambang juga menekankan pentingnya pengembangan benih unggul dengan produktivitas lebih tinggi. Menurut dia, peningkatan hasil produksi menjadi salah satu kunci untuk membuat sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
“Perlu didorong juga benih unggul yang lebih produktif dan dapat menghasilkan padi minimal 10 ton per hektare agar menarik minat generasi muda untuk terjun di pertanian,” tandasnya.(dil)















