INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi menjadi pusat solusi berbagai persoalan sosial di daerah, termasuk kemiskinan. Kampus diharapkan mampu mengoptimalkan potensi akademik, penelitian, dan sumber daya manusia untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut Fauzan, penguatan peran perguruan tinggi menjadi penting di tengah tantangan pembangunan daerah. Terlebih, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, tingkat kemiskinan di wilayah tersebut mencapai 17,52 persen pada Maret 2026.
Kondisi tersebut, kata dia, membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih kolaboratif dengan mengintegrasikan potensi perguruan tinggi, program pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.
“Ini terus akan kita dorong bagaimana perguruan tinggi di beberapa instansi, di beberapa daerah, harus bisa memberikan kontribusi,” katanya.
“Dan inilah yang saya inginkan. Perguruan tinggi harus menjadi pusat problem solver persoalan sosial di daerah,” imbuh Fauzan.
Dia mengapresiasi langkah LLDikti Wilayah XV yang mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam program pemberdayaan masyarakat. Fauzan juga meminta agar program kampus diselaraskan dengan prioritas pembangunan daerah melalui pelibatan program studi yang relevan, kemitraan lintas sektor, serta pemanfaatan hasil penelitian dan inovasi.
Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari capaian akademik dan pelaksanaan program kelembagaan. Lebih dari itu, kampus harus mampu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Paradigma baru yang dimulai, ini sebenarnya adalah membawa perguruan tinggi menjadi salah satu arsitek pembangunan masyarakat sehingga posisinya sejajar antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri,” tutur Fauzan.
Ia menambahkan, untuk mewujudkan hal tersebut, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi perlu diarahkan pada penyelesaian persoalan pembangunan secara terintegrasi. Pengembangan riset kolaboratif berbasis konsorsium, pendampingan masyarakat, serta sinergi dengan pemerintah dan dunia industri.
“Upaya ini bisa mendorong pengentasan kemiskinan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi daerah melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelanjutan,” ungkapnya. (nas)


















