INDOPOSCO.ID – Persoalan tata kelola kembali membayangi kompetisi futsal profesional Indonesia. Pergantian struktur organisasi hingga perubahan nama menjadi Asosiasi Futsal Indonesia (AFI) yang telah disahkan melalui Kongres dinilai belum membawa perubahan berarti. Sejumlah persoalan, mulai dari subsidi klub yang tak kunjung cair hingga regulasi kompetisi, kembali memantik kekecewaan pemilik klub.
Owner Halus Futsal, Tirta Lunggana menilai federasi belum memberikan kepastian atas hak klub peserta. Ia menyebut keterlambatan subsidi yang terjadi musim lalu kembali terulang, sementara pelaksanaan Super Cup serta Pro Futsal League (PFL) 1 dan 2 berlangsung di tengah ketidakjelasan tersebut.
“Kami selaku pemilik klub sangat kecewa. Permasalahan klasik kembali terulang, salah satunya adalah hak subsidi klub yang sejak pekan pertama liga dimulai hingga saat ini tak kunjung direalisasikan. Kami diminta menaati seluruh aturan federasi, namun hak kami sebagai peserta justru dipandang sebelah mata dan hanya diberi janji-janji belaka,” kata Tirta di Jakarta, Kamis (29/1026).
Bagi para pemilik klub, persoalan ini bukan sekadar keterlambatan administratif. Ketidakpastian subsidi beriringan dengan sorotan terhadap regulasi pertandingan dan berkurangnya jumlah peserta liga. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya pengelolaan kompetisi sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai konsistensi federasi dalam menjalankan amanah Kongres Futsal sebelumnya.
Kritik juga diarahkan pada slogan “Futsal Satu Keluarga” yang dinilai belum sejalan dengan realitas. Hubungan federasi dan klub dianggap berjalan satu arah: klub dituntut memenuhi kewajiban, tetapi hak yang semestinya diterima justru belum mendapatkan kepastian.
Melihat situasi tersebut, Tirta berharap PSSI turun tangan untuk mendorong pembenahan manajerial federasi futsal. Menurutnya, perkembangan dan prestasi futsal Indonesia selama ini tidak terlepas dari perhatian serta dukungan anggaran PSSI.
“Prestasi futsal yang telah ditorehkan selama ini tak lepas dari kepedulian dan bantuan PSSI. Demi keberlangsungan futsal nasional dan para pencintanya di tanah air, kami berharap PSSI bersama para pemilik klub bisa duduk bersama membahas situasi kritis ini,” jelas Tirta.
Ia menegaskan, dialog antara PSSI, federasi, dan pemilik klub perlu segera dilakukan agar persoalan yang terus berulang tidak semakin mengancam keberlangsungan kompetisi nasional.
“Pilihannya hanya dua, (yaitu) berbenah hari ini atau sejarah futsal Indonesia akan berhenti dan tidak ada lagi keberlangsungan bagi kompetisi nasional,” tambahnya. (her)

















