INDOPOSCO.ID – Universitas Terbuka (UT) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya handal secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, integritas tinggi, serta daya saing global.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Rektor (Warek) Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT, Prof. Rahmat Budiman, dalam seminar wisuda yang mengangkat tema “Generasi Cerdas, Berintegritas, dan Siap Mendunia” di kampus UT di Tangerang Selatan, Senin (26/10/2026).
Ia mengatakan, bahwa tema wisuda kali ini sangat relevan dengan dinamika zaman yang ditandai oleh disrupsi teknologi yang sangat cepat. Transformasi digital dan kompetisi global yang semakin terbuka menuntut lulusan perguruan tinggi untuk memiliki lebih dari sekadar penguasaan ilmu pengetahuan.
Menurutnya, kecerdasan sejati di era kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan transformasi digital saat ini mencakup kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, mengambil keputusan secara bijak, serta kemampuan untuk terus belajar sepanjang hayat (lifelong learning).
”Pengetahuan berkembang dengan sangat cepat. Individu yang mampu beradaptasi dan terus meningkatkan kompetensinya akan memiliki peluang yang lebih besar untuk berhasil,” ujarnya.
Selain kecerdasan, Rahmat memberikan penekanan khusus pada pentingnya integritas. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa integritas tidak ada artinya, karena integritas adalah fondasi utama keberhasilan yang berkelanjutan.
Integritas, lanjutnya, tercermin dari kejujuran, tanggung jawab, disiplin, komitmen, serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Di tengah arus informasi dan berbagai godaan dalam kehidupan profesional maupun sosial, integritas harus menjadi nilai yang mutlak dipegang teguh.
”Dunia kerja membutuhkan profesional yang tidak saja kompeten, tetapi juga menjunjung tinggi etika. Oleh karena itu, jadikan integritas sebagai identitas diri yang melekat dalam setiap langkah, keputusan, dan tindakan saudara-saudara,” tegasnya.
Ia menuturkan, menjadi generasi yang siap mendunia bukan berarti melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Sebaliknya, para lulusan UT dituntut untuk mampu membawa nilai-nilai luhur budaya bangsa dan karakter Indonesia ke panggung dunia melalui karya, prestasi, dan kontribusi nyata.
”Melalui sistem pembelajaran yang fleksibel dan berbasis teknologi, UT telah membekali para mahasiswanya dengan kemandirian belajar, wawasan global, serta keterampilan digital yang mumpuni,” ungkapnya.
“Bekal inilah yang diyakini menjadi modal berharga bagi para wisudawan untuk menjawab tantangan dunia global yang semakin dinamis dan kompetitif,” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Sesditjen Saintek) di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Samsuri, melontarkan pandangan kritis sekaligus menggugah kesadaran publik terkait tantangan pendidikan tinggi di tanah air.
Di tengah hiruk-pikuk diskursus soal perguruan tinggi yang kekurangan mahasiswa, Samsuri mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah raksasa yang kerap luput dari perhatian. Bahwa 65 persen anak usia kuliah di Indonesia belum terjangkau bangku kuliah.
Menurut Samsuri, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia hingga saat ini masih tertahan di kisaran 35 persen. Padahal, jika negara terus-menerus terjebak hanya meributkan nasib institusi yang kekurangan mahasiswa, termasuk perguruan tinggi yang kerap memprotes penurunan jumlah pendaftar maka target pembangunan SDM unggul mustahil tercapai.
”Kalau kita berbicara APK, kita baru 35 persen. Artinya, masih ada 65 persen orang yang berusia 18 sampai 23 tahun itu belum mendapatkan kesempatan untuk kuliah, atau belum tertarik untuk kuliah,” tegas Samsuri.
Oleh karena itu, Samsuri mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para alumni perguruan tinggi, untuk turut serta mensosialisasikan pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
”Maka sebetulnya, lulusan perguruan tinggi juga perlu menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa masih ada 65 persen orang yang waktunya kuliah tapi belum berkuliah. Ini tugas kita bersama,” ujarnya. (nas)

















