INDOPOSCO.ID – Alih-alih berlomba menghadirkan aplikasi baru, pemerintah kini mengubah arah transformasi digital menuju satu tujuan besar: menghadirkan layanan publik yang terhubung, sederhana, dan benar-benar memudahkan masyarakat. Perubahan pendekatan ini sekaligus menandai berakhirnya praktik pembangunan sistem yang berjalan sendiri-sendiri di setiap instansi.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan, tantangan transformasi digital saat ini bukan lagi soal menambah jumlah platform, melainkan menyatukan cara kerja pemerintah agar masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih mudah dan terpercaya.
“Tantangan kita hari ini bukan lagi membangun lebih banyak aplikasi, melainkan membangun pemerintah yang bekerja sebagai satu kesatuan, sehingga pelayanan publik menjadi lebih sederhana, terintegrasi, aman, dan dapat dipercaya,” ujar Rini pada Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026 di Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, pelayanan publik harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat sepanjang perjalanan hidup mereka, bukan berdasarkan batas kewenangan antarinstansi. Karena itu, kelompok penyandang disabilitas, masyarakat di wilayah terpencil, lanjut usia, warga berpenghasilan rendah, hingga mereka yang memiliki keterbatasan akses digital harus dilibatkan sejak tahap awal perancangan layanan.
Sebagai fondasi transformasi tersebut, pemerintah membangun Digital Public Infrastructure (DPI) yang mengintegrasikan identitas digital, pertukaran data, sistem pembayaran digital, serta pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan. Infrastruktur bersama ini memungkinkan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah berbagi sistem, mempercepat inovasi, sekaligus menghindari pembangunan layanan yang terpisah-pisah.
Implementasi pendekatan tersebut mulai terlihat pada digitalisasi penyaluran bantuan sosial. Program ini telah diterapkan di 38 provinsi dan 152 kabupaten/kota, dengan sekitar 67 persen wilayah implementasi berada di luar Pulau Jawa. Cakupannya mencapai sekitar 111 juta penduduk atau 36,6 juta rumah tangga.
Pemanfaatan identitas digital, verifikasi biometrik, dan pertukaran data yang aman berhasil memangkas proses verifikasi penerima bantuan dari sebelumnya sekitar 75–200 hari menjadi hanya satu menit hingga enam jam. Biaya verifikasi yang semula sekitar Rp150 ribu pun turun drastis menjadi sekitar Rp10 ribu, bahkan lebih rendah.
Bagi Rini, keberhasilan transformasi digital tidak boleh diukur dari banyaknya teknologi yang dibangun, melainkan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Keberhasilan tidak diukur dari banyaknya sistem yang dibangun, tetapi dari seberapa besar waktu yang dapat dihemat, biaya yang dikurangi, dan kemudahan layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Rini.
Ia juga mengingatkan bahwa digitalisasi tidak boleh melahirkan kesenjangan baru. Untuk itu, pemerintah menerapkan pendekatan omnichannel melalui layanan tatap muka, layanan bergerak, kios mandiri, hingga layanan digital jarak jauh sehingga setiap warga tetap dapat memperoleh pelayanan sesuai kondisi dan kebutuhannya.
“Yang harus disatukan bukanlah kanal pelayanannya, melainkan proses bisnis, data, dan sistem yang bekerja di baliknya. Dengan demikian, masyarakat memperoleh pelayanan yang sama, cepat, dan konsisten melalui kanal apa pun yang mereka pilih,” jelas Rini.
Lebih jauh, Rini mengajak seluruh ekosistem digital nasional—mulai dari dunia usaha, industri teknologi, akademisi, masyarakat sipil, komunitas, hingga mitra pembangunan—untuk terlibat aktif dalam mewujudkan transformasi digital yang inklusif.
“Layanan publik yang inklusif hanya dapat diwujudkan ketika mereka yang membangun kebijakan, mengembangkan teknologi, dan merasakan langsung layanan duduk bersama sejak awal,” tambahnya.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi penggerak utama lahirnya pemerintahan digital yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan pelayanan publik yang lebih dekat, lebih setara, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa ada yang tertinggal. (her)


















