• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Petakan SWOT Dalam Rangkaian Forum Nasional Stunting 2021

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 15 Desember 2021 - 22:59
in Nasional
bkkbn

Kepala BKKBN, DR Hasto Wardoyo (kiri) saat diwawancarai di Kantor BKKBN, Rabu (15/12/2021).

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Dua tahun setengah, waktu efektif kerja tim percepatan penurunan stunting nasional, yang diamanatkan lewat Perpres 72 tahun 2021. Target penurunan stunting dari 27,6 persen tahun 2019, menuju 14 persen pada 2024 mendatang.

“Ini target pemerintah pusat yang dituangkan lewat Peraturan Presiden, menargetkan penurunan prevalensi stunting 14 persen di tahun 2024,” jelas Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Hasto Wardoyo, kepada INDOPOSCO.ID di kantornya, Rabu (15/12/2021).

BacaJuga:

Komisi VIII DPR: Jemaah Haji 2027 Cukup Siapkan Rp23,24 Juta, Dapat Subsidi Rp3 Juta

Wamendagri Dorong Percepatan Pemenuhan Hak Anak atas Akta Kelahiran

Jelang Kongres XXIV, PP INI Serukan Notaris Tetap Solid dan Tak Terprovokasi

Dia melanjutkan, Perpres ini merupakan payung hukum bagi Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Penurunan Stunting. Dimana BKKBN sebagai leader tim percepatan tersebut. “Target 14 persen itu tercapai pada pertengahan tahun 2024. Artinya efektif bekerja 2,5 tahun lah,” imbuh dr Hasto.

Baca Juga : BKKBN: Edukasi Kurang, Bayi dengan Berat Badan Rendah Meningkat

Pada rangkaian Forum Nasional Stunting 2021 yang digelar 14-15 Desember kemarin, dipetakan pula peluang dan tantangan menuju pencapaian target 2024. Dalam forum tersebut, analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) masuk dalam peta pembahasan. Sehingga, siapa mengambil peran apa akan lebih jelas dalam mengerjakan strategi nasional yang sudah diamanahkan lewat Perpes.

“Target ini memang tidak mudah, tapi berbagai upaya akan kita lakukan, terutama langkah prepentif pencegahan stunting. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati. Sehingga 3 bulan sebelum menikah, calon mempelai sudah dibekali ilmu dan keterampilan,” katanya.

Dia juga menghimbau agar masyatakat Indonesia turut berperan dalam menuju pencapaian target tersebut lewat cara menghindari 4 hal terlalu.

Baca Juga : BKKBN Sebut Angka Stunting di Sumbar Masih Cukup Tinggi

“Pertama jangan menikah dan melahirkan terlalu muda, jangan menikah dan melahirkan terlalu tua, jangan terlalu dekat jarak kehamilan pertama dan kedua, jangan melahirkan terlalu sering,” pinta Dr Hasro seraya mengatakan itu sebagai tagline yang nyeleneh tapi mengena.

Pada kesempatan lain, Deputi Advokasi, Penggerakan dan Informasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, perlu ada terobosan untuk menjembatani langsung kelompok sasaran dan faktor dominan dalam percepatan penurunan stunting.

Pembentukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) merupakan salah satu langkah terobosan yang dilakukan BKKBN dalam upaya mewujudkan target 14 persen prevalensi stunting di 2024.

“Ini berarti tersisa waktu 2,5 tahun untuk mencapai target 14 persen di 2024. Sebuah target ambisius yang harus diwujudkan melalui langkah-langkah dan terobosan yang tidak biasa biasa saja,” tandas Sukaryo.

Menurut Sukaryo, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, ada lima prioritas kegiatan TPK. Di antaranya pendampingan keluarga yang memiliki risiko stunting tinggi dan pendampingan semua calon pengantin (catin) hingga pasangan usia subur (PUS).

TPK terdiri dari bidan, Tim Penggerak PKK dan kader KB. Bidan bertugas sebagai koordinator dan pemberi layanan medis. PKK sebagai penggerak dan fasilitator (mediator). Sementara kader KB bertugas melakukan pencatatan dan pelaporan data pendampingan.

“Kader KB memiliki kepiawaian dalam pengumpulan data. Mereka sudah berpengalaman, karena terlibat langsung dalam melakukan Pendataan Keluarga tahun 2021,” terang Sukaryo.

Adapun sasaran utama TPK adalah catin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, anak usia 0-5 tahun dengan prioritas pada anak usia 0-2 tahun.

Tugas pokok TPK adalah melakukan deteksi dini pada keluarga dengan risiko stunting, penyuluhan, KIE (Komunikasi, Edukasi, Informasi), anjangsana, memfasilitasi layanan rujukan hingga pendampingan bantuan sosial.
“Para pendamping keluarga harus memastikan bahwa keluarga yang didampingi mendapat dukungan yang menjadi haknya,” tandas Sukaryo dalam paparannya bertema “Peran TPK dalam Percepatan Penurunan Stunting“.

Dalam upaya mendukung pencapaian target 14 persen, TPK melakukan koordinasi dengan tim percepatan penurunan stunting di lapangan. Saat ini seluruh TPK telah direkrut. Jumlahnya 600.000 orang atau 200.000 tim. Mereka akan ditempatkan, setidaknya satu tim di satu desa.

Hingga akhir tahun 2021, seluruh TPK yang kegiatannya mendapat dukungan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) telah mengikuti pembekalan/orientasi awal yang bersifat umum tentang stunting. Mereka dibekali pengetahuan tentang hak-hak dasar anak, pengetahuan adminitratif kependudukan, pengetahuan gender dalam menerapkan KIE, pengasuhan dalam keluarga, serta materi pengayaan persoalan stunting.

“Substansinya tidak hanya terbatas pada persoalan fisik, tetapi juga psikologi calon ibu, ibu hamil dan menyusui serta pengasuhan anak,” ujar Sukaryo.

Operasional TPK dimulai Januari 2022. Tim akan dibantu relawan lintas kementerian. Dengan begitu, TPK bukan satu-satunya tim yang melakukan pendampingan keluarga berisiko stunting. Hanya saja, TPK membutuhkan dukungan aparat/petugas desa dan perangkat daerah lainnya, serta kader-kader lain di desa. Hal yang perlu diperhatikan adalah pelayanan minimal di desa harus dilaksanakan dengan baik sebagai bentuk dukungan terhadap kerja TPK di lapangan.

Sukaryo juga menyorot soal pola asuh terhadap anak. Katanya, “Sejauh pola asuh bisa dilakukan dengan baik, maka akan menjadi upaya yang baik dan mencegah terjadinya stunting pada anak.”

Karena itu, gender menjadi menjadi isu penting dalam program percepatan penurunan stunting. “Pola asuh anak bukan tanggungjawab istri saja, tapi juga suami. Ini menjadi pekerjaan rumah kita,” tutur Sukaryo. (ney)

Tags: bkkbnForum Nasional Stunting 2021stunting

Berita Terkait.

Wamendagri Dorong Percepatan Pemenuhan Hak Anak atas Akta Kelahiran
Nasional

Komisi VIII DPR: Jemaah Haji 2027 Cukup Siapkan Rp23,24 Juta, Dapat Subsidi Rp3 Juta

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:15
Wamendagri Dorong Percepatan Pemenuhan Hak Anak atas Akta Kelahiran
Nasional

Wamendagri Dorong Percepatan Pemenuhan Hak Anak atas Akta Kelahiran

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:04
Jelang Kongres XXIV, PP INI Serukan Notaris Tetap Solid dan Tak Terprovokasi
Nasional

Jelang Kongres XXIV, PP INI Serukan Notaris Tetap Solid dan Tak Terprovokasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:05
Tito Karnavian
Nasional

Mendagri Hadiri Penyampaian Taklimat Presiden kepada 800 Perwira Tinggi TNI-Polri

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:43
Bima Arya Sugiarto
Nasional

Wamendagri Dorong Pemda Bangun Ketangguhan Bencana dengan Paradigma Responsif dan Antisipatif

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:06
Rini Widyantini
Nasional

Bukan Sekadar Angka di Server, UU Satu Data Resmi Disahkan demi Keadilan Sosial

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:15

OLAHRAGA

Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid
Olahraga

Sentuhan Magis Pertamina di Bandara Lombok: Antarkan Semarak MotoGP Langsung Saat Mendarat

Editor Ali Rachman
Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:23

INDOPOSCO.ID - Perjalanan menuju Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 ternyata tidak dimulai saat mesin motor menderu di Pertamina Mandalika...

SelengkapnyaDetails
novendra

Novendra Priasmoro Berjaya, Percasi DKI Siapkan Skuad Terbaik untuk Kejurnas 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 23:13
PB FORKI

GGK Indonesia Diperkuat, PB FORKI Siapkan Program Bela Diri untuk Perempuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:35
elkan

Elkan Baggott Usai Indonesia Juara: Kami adalah Raja Asia Tenggara

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:07
timnas

Soal Bonus Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Kata Prabowo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:06

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2714 shares
    Share 1086 Tweet 679
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1211 shares
    Share 484 Tweet 303
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    979 shares
    Share 392 Tweet 245
  • Firli Bahuri Raih Doktor, Tawarkan Model Baru Penyelesaian Konflik Sosial

    973 shares
    Share 389 Tweet 243
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    873 shares
    Share 349 Tweet 218
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.