INDOPOSCO.ID – Gerakan Guardian Girls Karate (GGK) Indonesia memasuki tahap baru. Pengurus Besar Federasi Karate-Do Indonesia (PB FORKI) memperkuat struktur program tersebut dengan menunjuk Shihan Ucok Marisi Sihotang sebagai Direktur Teknik GGK Indonesia.
Penunjukan itu dilakukan Ketua Umum PB FORKI, Hadi Tjahjanto, sebagai bagian dari upaya mempercepat pelaksanaan program GGK di Tanah Air. Program ini diarahkan untuk membekali perempuan dengan kemampuan dasar bela diri melalui olahraga karate.
GGK Indonesia sendiri lahir melalui licensing agreement antara World Karate Federation (WKF) dan PB FORKI. Kesepakatan yang ditandatangani Presiden WKF Antonio Espinos Ortueta dan Hadi Tjahjanto tersebut menjadi landasan pengembangan GGK Indonesia, termasuk melalui seminar dan pelatihan.
“Guardian Girls Karate Indonesia telah terbentuk secara sah di bawah naungan Federasi Karate-Do Indonesia berdasarkan licensing agreement antara World Karate Federation sebagai induk organisasi karate dunia dengan FORKI,” ujar Hadi saat memberikan arahan kepada Ucok dan juga instruktur GGK Indonesia, Sensei Puspa Meonk, di Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Menurut Hadi, setelah struktur GGK Indonesia terbentuk, pekerjaan berikutnya adalah memperkuat personel sekaligus menyusun program yang sejalan dengan arahan WKF. Orientasinya bukan semata memperkenalkan karate, melainkan menghadirkan kemampuan dasar bela diri bagi perempuan yang belum memilikinya.
“Saya berharap program-program GG Karate selain melatih para perempuan Indonesia yang belum memiliki basic bela diri, untuk dibekali dasar karate dalam menghadapi ancaman baik berupa agresor maupun pelecehan terhadap perempuan, kegiatan ini juga sebagai misi kemanusiaan yang dapat dilakukan GGK Indonesia,” tutur Hadi.
Penetapan Ucok sebagai Direktur Teknik GGK Indonesia telah dituangkan dalam Surat Keputusan Ketua Umum PB FORKI. Artinya, pelaksanaan program GGK di Indonesia kini berjalan dalam koordinasi sekaligus pembinaan PB FORKI.
Dari sisi instruktur, GGK Indonesia juga memiliki dua karateka perempuan yang telah mengantongi lisensi GGK dari WKF, yakni Sensei Puspa Meonk dan Sensei Tenne. Keduanya mengikuti pelatihan GGK Internasional WKF pada Maret 2026 yang berafiliasi dengan Kayomada International Foundation di Osaka, Jepang.
Hadi menilai keberadaan dua instruktur berlisensi internasional tersebut menjadi modal penting agar pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia tetap berada dalam koridor misi yang ditetapkan.
“Dengan dua srikandi karate yang telah memiliki lisensi GGK International maka pelatihan dan pembinaan GGK di Indonesia akan berjalan sesuai misi tersebut,” terangnya.
Ke depan, PB FORKI ingin GGK Indonesia tidak berhenti sebagai program di tingkat pusat. Jangkauan kegiatan diharapkan meluas ke berbagai daerah sehingga semakin banyak perempuan Indonesia memperoleh keterampilan dasar untuk menghadapi situasi yang berpotensi mengancam keselamatan mereka.
“GGK Indonesia berkomitmen untuk memajukan GGK di seluruh Indonesia melalui Federasi Karate-Do Indonesia sejalan dengan misi membantu perempuan Indonesia menghadapi situasi kekerasan berbasis gender melalui praktik olahraga karate,” tambahnya.(her)

















