INDOPOSCO.ID – Lebih dari 200 undangan dari negara-negara anggota Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan komunitas industri penerbangan menghadiri Resepsi Diplomatik Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Markas Besar ICAO, Montreal, Kanada pada 8 Oktober 2026. Sebagai tamu kehormatan, hadir Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, dan Presiden Dewan ICAO, Toshiyuki Onuma. Turut hadir Sekretaris Jenderal ICAO, Juan Carlos Salazar, dan Direktur Utama AirNAV Indonesia, Capt. Avirianto Suratno.
“Perkembangan Indonesia tidak lepas dari sektor aviasi, dan penerbangan sipil telah menghubungkan Indonesia dengan dunia dan membuka kesempatan yang lebih luas,” ujar Duta Besar Muhsin Syihab dalam sambutannya sebagai Wakil Tetap RI untuk ICAO.
Bagi Indonesia yang memiliki 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, konektivitas udara menjadi salah satu penggerak ekonomi sekaligus penghubung antardaerah.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa, yang hadir mewakili Kementerian Perhubungan RI, menegaskan pentingnya penerbangan bagi masyarakat Indonesia. “Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak melihat penerbangan sipil hanya sebagai industri, tetapi sebagai cara hidup yang menghubungkan komunitas,” ujarnya.
“Tanpa Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), apakah kita dapat berada di sini hari ini?” Pernyataan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Majelis Umum PBB ke-80 itu kembali digaungkan dalam presentasi video yang menyerukan pentingnya ICAO sebagai lembaga yang mengatur sektor penerbangan internasional. Momen tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para undangan.
Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menyampaikan pencalonannya sebagai anggota Dewan ICAO periode 2026-2028, untuk berkontribusi lebih besar bagi ICAO dan penerbangan sipil global. Pencalonan Indonesia akan dibawa ke Sidang Majelis Luar Biasa ICAO ke-43 pada 19-20 November 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Dewan ICAO Toshiyuki Onuma menyoroti rekam jejak kontribusi Indonesia bagi negara berkembang. “Sejak menjadi anggota pada tahun 1950, dan melalui program Indonesia Developing Countries Training Program (DCTP), Indonesia telah berbagi kepakaran dengan lebih dari 60 negara,” ujar Onuma.
Onuma juga menyoroti capaian Indonesia dalam bidang keselamatan dan keamanan penerbangan. “Indonesia secara konsisten menunjukkan standar keselamatan dan keamanan di atas rata-rata global, yang merefleksikan komitmennya terhadap standar tertinggi,” katanya.
ICAO terbentuk pada tahun 1947 dan Indonesia tercatat pernah duduk sebagai anggota Dewan ICAO sejak tahun 1962 hingga 2002. Sejak tahun 2012, Indonesia membuka Kantor Kepentingan Indonesia pada ICAO (KKIP ICAO) di Montreal untuk mempererat kerja sama dan berpartisipasi aktif dalam pertemuan di markas besar ICAO.
Dalam satu dekade terakhir, Indonesia juga tercatat aktif memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang dalam bentuk pelatihan, berbagi kepakaran, hingga dukungan finansial untuk peningkatan kapasitas.
Resepsi Diplomatik ini terselenggara melalui kerja sama KBRI Ottawa, KKIP ICAO Montreal, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Luar Negeri, dengan dukungan penuh AirNav Indonesia (Perum LPPNPI). Kegiatan ini juga mempersembahkan kebudayaan Indonesia yang dibawakan oleh kelompok gamelan bali Giri Kedaton Montreal dan berbagai masakan khas Indonesia yang menuai pujian dan kekaguman para undangan.(bro)

















