• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Cegah Karhutla Gambut, BRIN Kembangkan Teknologi Pemantauan Berbasis Satelit

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:09
in Nasional
brin

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan gambut. Foto: Dok BNPB

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pengelolaan lahan gambut berbasis riset untuk menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain menjaga gambut tetap basah, BRIN mengembangkan teknologi pemantauan berbasis satelit hingga formulasi pemadam api berbahan pati singkong.

Peneliti Pusat Riset Ekologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dony Rachmanadi, mengatakan persoalan kebakaran gambut sejatinya merupakan persoalan hidrologi sebelum menjadi persoalan api.

BacaJuga:

Malam Ini MK Putus Perkara Gibran, Kepala Bakom Ungkap Sikap Prabowo

8 Fraksi Sepakati RUU Perampasan Aset Jadi Inisiatif DPR, Pengawasan dan Hak Warga Jadi Catatan

Kemekdikdasmen Serahkan Perkara Pendidikan Gibran ke MK

“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” ujar Dony di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem tersebut memiliki peran penting dalam mengatur tata air, termasuk mengurangi risiko banjir saat musim hujan dan menjaga ketersediaan air ketika kemarau.

Ia menjelaskan, fungsi ekologis tersebut dapat terganggu apabila gambut dikeringkan secara berlebihan. Kondisi tersebut menyebabkan muka air tanah turun, gambut mengering, risiko kebakaran meningkat, sekaligus memicu subsiden dan emisi karbon.

“Ketika gambut dikeringkan, gambut berubah menjadi sumber risiko. Muka air tanah turun, gambut mengering, kemudian risiko kebakaran meningkat,” jelasnya.

Dony menerangkan, kebakaran gambut memiliki dua karakter, yakni flaming atau api yang membakar permukaan dan smouldering atau pembakaran yang berlangsung di dalam lapisan gambut.

Berbeda dengan api permukaan, masih ujar dia, smouldering berlangsung pada suhu lebih rendah dan dapat bertahan lama. Api juga sulit dideteksi karena mampu merambat di bawah permukaan, sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

“Pengalaman kebakaran di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada 2026 menjadi salah satu pembelajaran,” katanya.

Kebakaran bermula dari titik panas berukuran kecil yang kemudian berkembang menjadi front api ketika kondisi lingkungan mendukung,” imbuhnya.

Karena itu, Dony menekankan pentingnya pemantauan hidrologi dan kelembapan gambut sebagai bagian dari strategi pencegahan karhutla.

“Kuncinya adalah menjaga air tetap berada di dalam gambut. Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya dapat dipertahankan, risiko kebakaran dapat ditekan, karbon tetap tersimpan, dan masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengembangkan sumber penghidupan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Di sisi lain, BRIN juga mengembangkan teknologi pemantauan karhutla dengan memanfaatkan data satelit penginderaan jauh. Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi hotspot, anomali termal, kondisi tutupan lahan hingga area yang telah terbakar.

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, mengatakan data satelit memungkinkan wilayah berisiko dipantau dalam cakupan luas sebelum dilakukan verifikasi langsung di lapangan.

Tak hanya mendeteksi, BRIN juga mengembangkan teknologi untuk meningkatkan efektivitas pemadaman kebakaran gambut. Salah satunya adalah Singkong-APP, formulasi berbasis pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air.

Dalam pengujian awal, dikatakan dia, Singkong-APP membutuhkan sekitar 65 liter formulasi, lebih rendah dibandingkan 120 liter air. Setelah 60 menit pengamatan, tidak ditemukan api maupun asap pada perlakuan Singkong-APP. Sementara penggunaan air masih menyisakan enam titik api atau asap, bahkan bara api ditemukan setelah 12 jam.

“Singkong-APP dirancang tidak hanya untuk pendinginan. Sistem singkong–APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai barrier termal, sehingga dapat menghambat perpindahan panas dan membantu menekan pembakaran lanjutan,” kata Julinton. (nas)

Tags: BRINKarhutla GambutSatelitTeknologi Pemantauan

Berita Terkait.

bowo
Nasional

Malam Ini MK Putus Perkara Gibran, Kepala Bakom Ungkap Sikap Prabowo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:03
puannn
Nasional

8 Fraksi Sepakati RUU Perampasan Aset Jadi Inisiatif DPR, Pengawasan dan Hak Warga Jadi Catatan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 21:01
atip
Nasional

Kemekdikdasmen Serahkan Perkara Pendidikan Gibran ke MK

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:13
nasir
Nasional

Pengurus BEM UI Diserang OTK, Komisi III Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:19
dpd
Nasional

Komite IV DPD RI Dorong Pemerintah Pusat Optimalkan TKD dan Dana Otsus di Papua

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:08
Konfederasi ASPEK Indonesia Soroti RUU Ketenagakerjaan: Masih Menyisakan Paradigma Upah Murah
Nasional

Konfederasi ASPEK Indonesia Soroti RUU Ketenagakerjaan: Masih Menyisakan Paradigma Upah Murah

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:32

OLAHRAGA

PB FORKI
Olahraga

GGK Indonesia Diperkuat, PB FORKI Siapkan Program Bela Diri untuk Perempuan

Editor Ali Rachman
Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:35

INDOPOSCO.ID – Gerakan Guardian Girls Karate (GGK) Indonesia memasuki tahap baru. Pengurus Besar Federasi Karate-Do Indonesia (PB FORKI) memperkuat struktur...

SelengkapnyaDetails
elkan

Elkan Baggott Usai Indonesia Juara: Kami adalah Raja Asia Tenggara

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:07
timnas

Soal Bonus Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Kata Prabowo

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:06
John Herdman Ungkap Alasan Pilih para Bek Jadi Eksekutor Penalti Timnas Indonesia

John Herdman Ungkap Alasan Pilih para Bek Jadi Eksekutor Penalti Timnas Indonesia

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:21
Ole Romeny

Ole Romeny Rasakan Arti Istimewa Gelar FIFA ASEAN Cup 2026 di GBK

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:17

BERITA POPULER

  • Todotua

    Asian Games 2026 Ditutup Manis, Kontingen Indonesia Bawa Pulang 39 Medali dan Catat Hasil Optimal

    2712 shares
    Share 1085 Tweet 678
  • Cetak 5 Gol ke Gawang Bangladesh, Mitchell Baker Samai Rekor Iswadi Idris

    1209 shares
    Share 484 Tweet 302
  • Firli Bahuri Raih Doktor, Tawarkan Model Baru Penyelesaian Konflik Sosial

    970 shares
    Share 388 Tweet 243
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    957 shares
    Share 383 Tweet 239
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    841 shares
    Share 336 Tweet 210
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.