• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Pajak hingga Biaya Hidup Menekan Kelas Menengah, Ekonom Bicara Efek Domino

Folber Siallagan Editor Folber Siallagan
Sabtu, 26 September 2026 - 06:16
in Ekonomi
dipo

Ekonom CORE Indonesia, Dipo Ramli mengingatkan pemerintah agar tidak terus menekan kelas menengah melalui beban pajak dan kenaikan biaya hidup yang dapat menggerus daya beli masyarakat. Foto: Tangkapan layar YouTube Hendri Satrio Official

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Tekanan terhadap kelas menengah dinilai tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Selain menjadi kelompok yang masih memiliki kemampuan untuk berbelanja, kelas menengah juga berperan penting dalam menjaga perputaran konsumsi dan aktivitas usaha.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Ramli mengingatkan pemerintah agar tidak terus menambah beban kelompok tersebut melalui kebijakan perpajakan maupun kenaikan biaya hidup.

BacaJuga:

Tenun dan Songket UMK Binaan Pertamina Unjuk Produk di Kriyanusa 2026

Perkuat Layanan Nasabah, Pegadaian Borong 10 Penghargaan TBCCI 2026

Hotel Platinum Yogyakarta Beralih ke CNG, Operasional Dapur Makin Efisien

Dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official, Dipo menyoroti berbagai tekanan yang belakangan membayangi kelas menengah, termasuk rencana pengenaan pajak terhadap sejumlah konsumsi masyarakat.

“Jadi kelas menengah ini dia enggak bisa ditekan terus. Dia enggak bisa ditekan terus dari pajak. Kan sempat ngomong misalnya mau pajakin makanan dan minuman, minuman manis gitu kan. Jadi ada saja lah pokoknya,” ujar Dipo dalam tayangan tersebut, dikutip pada Jumat (25/9/2026).

Menurut Dipo, kebijakan terhadap kelas menengah tidak seharusnya hanya dihitung dari potensi penerimaan negara. Sebab, ketika kelompok ini tetap memiliki ruang untuk berbelanja, uang yang dikeluarkan akan menciptakan efek berantai bagi sektor ekonomi lainnya.

“Jadi buat membetulkan Indonesia, gimana si kelas menengah ini yang harus digenjot. Kalau dia digenjot ada namanya efek pengganda, multiplier effect. Jadi dengan dia belanja, misalnya dia belanja baju, yang bikin baju jadi hidup. Yang bikin baju hidup, dia jadi beli bahan baku. Jadi ada banyak efeknya,” jelasnya.

Efek pengganda tersebut, kata Dipo, membuat konsumsi rumah tangga tidak berhenti pada satu transaksi. Belanja masyarakat dapat menjadi pendapatan bagi pelaku usaha lain, kemudian kembali berputar ke berbagai sektor.

Karena itu, ia menyebut stimulus yang langsung menyasar daya beli dapat menjadi salah satu pilihan kebijakan.

“Nah, jadi solusi apa sih buat Indonesia? Menurut saya sih paling gampang ya, kalau mau, kasih cash saja langsung. Biar mereka belanja,” kata Dipo.

Dalam perbincangan yang sama, Hendri Satrio atau Hensa mengingatkan bahwa kelas menengah bukan hanya berasal dari pekerja swasta. Aparatur sipil negara (ASN) juga menjadi bagian dari kelompok tersebut.

“Kelas menengah itu kebanyakan kan ASN. Jadi jangan cuma disangka pegawai swasta doang, itu ASN-ASN juga kelas menengah. Jadi kalau mereka ditekan di kantor, ditekan juga di kehidupan nih, lama-lama bisa pecah,” ucap Hensa.

Dipo kemudian memperingatkan bahwa tekanan terhadap kelas menengah berpotensi menjalar ke kelompok masyarakat di bawahnya. Jika daya beli kelas menengah terus melemah, dampaknya bukan hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha yang bergantung pada konsumsi masyarakat.

“Saya khawatir bila ekonomi begini terus, tekanan kepada kelas menengah tidak berhenti. Dan tentunya kalau tekanan kelas menengah tidak berhenti, tekanan itu juga akan langsung masuk ke kelas bawahnya,” tutur Dipo.

Menurutnya, persoalan kelas menengah pada akhirnya bukan sekadar soal kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan. Daya beli kelompok tersebut juga berkaitan dengan keberlangsungan usaha, perputaran uang, dan kondisi ekonomi masyarakat secara lebih luas.

“Kalau itu (tekanan terhadap kelas menengah dan bawah) terjadi, budaya amuk yang sudah lama tidur itu bisa saja bangkit. Dan kalau sudah bangkit, pemerintah pasti akan lebih repot ngurusin negara ini,” tutupnya. (her)

Tags: biaya hidupDipo RamliEfek Dominoekonompajak

Berita Terkait.

Perkuat Reformasi, Produk Hukum Daerah Wajib Sejalan dengan Prioritas Nasional
Ekonomi

Tenun dan Songket UMK Binaan Pertamina Unjuk Produk di Kriyanusa 2026

Sabtu, 26 September 2026 - 13:40
Perkuat Layanan Nasabah, Pegadaian Borong 10 Penghargaan TBCCI 2026
Ekonomi

Perkuat Layanan Nasabah, Pegadaian Borong 10 Penghargaan TBCCI 2026

Sabtu, 26 September 2026 - 11:28
cng
Ekonomi

Hotel Platinum Yogyakarta Beralih ke CNG, Operasional Dapur Makin Efisien

Sabtu, 26 September 2026 - 04:14
kayu
Ekonomi

150 Ribu Green Jobs dari Biomassa, Peluang Ekonomi Baru di Era Transisi Energi

Jumat, 25 September 2026 - 22:02
phr
Ekonomi

Teknologi Geosteering Bawa Hasil, PHR Temukan Tambahan 1.528 BOPD dari Reco

Jumat, 25 September 2026 - 20:12
3
Ekonomi

4 Dokter Australia Bikin Kasur Berbasis Riset, DrRest Resmi Masuk Indonesia

Jumat, 25 September 2026 - 20:02

OLAHRAGA

Jadi Tersangka Korupsi, Aset Miliaran Rupiah Bupati Gowa Disita Polri
Olahraga

Lolos Seleksi Barca Academy, Pesepak Bola Muda Bekasi Terbang ke Spanyol

Editor Ali Rachman
Sabtu, 26 September 2026 - 13:09

INDOPOSCO.ID - Kabar membanggakan datang dari panggung sepak bola usia dini Tanah Air. Arfa Senopati Ibrahim, pesepak bola muda asal...

SelengkapnyaDetails
Analis: MK Dihadapkan 2 Lapis Persoalan dalam Gugatan Gibran

Reaksi Ole Romeny Usai Indonesia Tekuk Singapura di FIFA ASEAN Cup

Sabtu, 26 September 2026 - 11:10
laga

Laga Pembuka FIFA ASEAN Cup 2026, 3.582 Personel Gabungan Dikerahkan

Jumat, 25 September 2026 - 17:36
Demi Kemanusiaan, DPR Dorong Basarnas Lanjutkan Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Jelang Indonesia vs Singapura, John Herdman Bicara Soal Risiko Permainan Kaku

Jumat, 25 September 2026 - 11:54
28 Tahun Menanti, Indonesia Kembali Rebut Emas Beregu Putra Bulutangkis di Asian Games

28 Tahun Menanti, Indonesia Kembali Rebut Emas Beregu Putra Bulutangkis di Asian Games

Jumat, 25 September 2026 - 10:09

BERITA POPULER

  • Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    Transformasi Pelayanan BPN Banten Dimulai, Urus Balik Nama Tanah Tak Lagi Berbulan-bulan

    1648 shares
    Share 659 Tweet 412
  • Kemendiktisaintek Siapkan Rp 2 Triliun Lebih untuk Dana Riset

    1029 shares
    Share 412 Tweet 257
  • Soal Klaster Mewah di Lapas Cibinong, Pakar Hukum Minta Menteri Imipas Terima Sanksi

    1002 shares
    Share 401 Tweet 251
  • Pasca-OTT KPK, Pegawai ATR/BPN Syok dan Buka Suara Soal ‘Struktur Bayangan’

    984 shares
    Share 394 Tweet 246
  • Pelayanan Pertanahan di Kabupaten Bogor Tetap Berjalan Pascapenangkapan Kepala BPN

    874 shares
    Share 350 Tweet 219
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.