INDOPOSCO.ID – Transisi energi tak lagi sekadar bicara soal mengganti sumber energi fosil dengan energi yang lebih bersih. Di balik agenda tersebut, terbuka pula peluang ekonomi baru yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkirakan pemanfaatan sekitar 10 juta ton biomassa berpotensi menciptakan hingga 150 ribu green jobs. Potensi itu muncul dari terbentuknya rantai pasok bioenergi yang mencakup sektor hulu hingga hilir.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menyampaikan hal tersebut dalam West Java Leader Fest yang digelar Yayasan IDNextLeader bersama Telkom University di Bandung.
“Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru,” kata Hokkop dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Menurut dia, lapangan kerja tersebut tidak hanya berada di sektor pembangkit. Kebutuhan tenaga dan pelaku usaha muncul sejak tahap penyediaan bahan baku, pengumpulan, pengolahan, transportasi, hingga pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit.
Artinya, ekosistem bioenergi membuka ruang bagi masyarakat di berbagai daerah untuk masuk ke industri energi bersih. Petani, koperasi, BUMDes, pelaku usaha, agregator, hingga penyedia jasa logistik dapat mengambil bagian dalam rantai pasok tersebut.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan 10 juta ton biomassa juga diproyeksikan mampu berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 12 juta ton CO2e.
Peluang itu ditopang oleh besarnya sumber daya biomassa Indonesia. PLN EPI memetakan berbagai sumber, mulai dari kayu, residu pertanian, sekam padi, hingga sumber hayati lainnya.
Saat ini, pemanfaatan biomassa disebut telah mencapai sekitar 30,7 juta ton. Sementara itu, potensi biomassa yang belum dimanfaatkan diperkirakan masih mencapai 60,6 juta ton.
Namun, angka tersebut masih bersifat indikatif. Realisasinya tetap bergantung pada aspek teknis dan keekonomian, akses terhadap bahan baku, serta kesiapan rantai pasok dari hulu sampai hilir.
PLN EPI sendiri terus memperbesar kapasitas ekosistem tersebut. Sepanjang 2023–2026, perusahaan telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Untuk kebutuhan cofiring, pasokan saat ini masih didominasi biomassa berbasis kayu dengan porsi lebih dari 77 persen.
Pengembangan bioenergi juga tidak berhenti pada biomassa untuk pembangkit. PLN EPI mendorong pengembangan sejumlah produk, seperti biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, dan bioetanol.
Produk-produk tersebut diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mendukung cofiring, menggantikan bahan bakar pembangkit diesel, memasok kebutuhan industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.
Peluang ekonomi itu semakin terbuka seiring ekspansi energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034. Dalam skenario ARED, PLN merencanakan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 12,22 GW pada 2025–2029. Angka tersebut setara sekitar 44 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 27,9 GW.
Rencana itu mencakup PLTS 5,91 GW, PLTA 3,20 GW, PLTB 1,55 GW, panas bumi 0,95 GW, serta bioenergi 0,61 GW. Target bauran energi terbarukan pada 2029 dalam skenario tersebut mencapai 19,7 persen.
Bagi Hokkop, besarnya ekspansi tersebut seharusnya dibaca generasi muda sebagai peluang untuk masuk lebih jauh ke industri energi terbarukan. Perannya pun tidak sebatas menjadi pekerja, tetapi juga membangun usaha dan mengisi mata rantai bisnis energi bersih.
“Teman-teman bisa menjadi tenaga kerja, pemainnya, agregatornya, dan lain-lain,” jelas Hokkop.
Salah satu sektor yang terus digenjot PLN EPI adalah cofiring biomassa di PLTU. Sebanyak 52 lokasi pembangkit batu bara dengan total kapasitas terpasang sekitar 18.154 MW memiliki potensi untuk menerapkan cofiring, dengan kebutuhan biomassa diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun.
Program tersebut turut menjadi bagian dari target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 sektor energi. Pemanfaatan biomassa melalui cofiring menjadi salah satu langkah untuk mendukung penurunan emisi gas rumah kaca.
Hokkop menilai perubahan menuju sistem energi yang lebih bersih juga akan mengubah lanskap ekonomi dan profesi. Ruang baru terbuka dari sektor hulu hingga hilir, termasuk bagi tenaga profesional, inovator, pelaku usaha, dan agregator.
“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi dan menurunkan emisi. Di dalamnya ada peluang ekonomi, lapangan kerja baru, dan ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelaku utama masa depan energi Indonesia,” tutupnya. (her)















