INDOPOSCO.ID — Beasiswa ternyata bukan sekadar soal membayar biaya pendidikan. Bagi siswa berprestasi, dukungan tersebut juga bisa menjadi “tiket” untuk mengasah kemampuan, membangun karakter, hingga mempersiapkan diri menghadapi dunia yang terus berubah.
Hal itu menjadi sorotan dalam program beasiswa yang digulirkan SCG bagi siswa berprestasi. Program tersebut dinilai menjadi contoh bahwa pengembangan talenta muda tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan dunia usaha dan berbagai elemen masyarakat.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Kapuspeka), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Maria Irene menilai kolaborasi untuk membangun pendidikan bermutu kini tidak lagi sebatas kerja sama antarlembaga di dalam negeri.
“Sinergi dalam pengembangan pendidikan telah melibatkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, kemudian dunia industri, ini bahkan lintas negara,” kata Maria ditemui indoposco.id di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Ia menegaskan, pembangunan ekosistem pendidikan membutuhkan apa yang disebut sebagai partisipasi semesta. Masing-masing pihak, mulai pemerintah, masyarakat, industri hingga media, mempunyai kontribusi dalam memastikan talenta muda memperoleh ruang untuk berkembang.
Media, lanjut Maria, juga memiliki peran penting untuk menyebarkan informasi mengenai berbagai praktik baik serta program yang dapat membantu pengembangan generasi muda.
“Di tengah-tengah kita ada media. Media ini menjadi bagian yang penting untuk kita bisa membagi, menginformasikan hal-hal baik yang menjadi dukungan bagi pengembangan talenta di Indonesia,” ujarnya.
Maria mengingatkan bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti pada persoalan akses. Anak-anak yang sudah memperoleh pendidikan juga perlu dibekali kompetensi yang dapat digunakan ketika mereka terjun ke kehidupan nyata.
Ia mengungkapkan, Pusat Prestasi Nasional sebelumnya pernah melakukan riset mengenai kebutuhan siswa yang memiliki talenta dan prestasi. Dari kajian tersebut, terdapat dua kebutuhan yang paling banyak diharapkan, yakni dukungan beasiswa dan kesempatan pengembangan diri.
“Anak yang memiliki talenta dan prestasi di Indonesia, apa yang dibutuhkan? Yang pertama beasiswa. Siapa yang tidak perlu beasiswa? Yang kedua, pengembangan diri,” tuturnya.
Menurut Maria, capaian prestasi seharusnya bukan menjadi garis akhir. Anak-anak berprestasi justru perlu mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memperdalam kemampuan dan meningkatkan kapasitasnya.
Karena itu, ia mengapresiasi pola dukungan SCG yang tidak berhenti pada pemberian beasiswa. Para penerima juga mendapatkan pelatihan sebagai bagian dari proses pengembangan kemampuan.
“Dan itu yang diberikan oleh SCG. Mereka tidak hanya memberi beasiswa di sekolah, tetapi mereka memberikan pelatihan. Itu berangkat dari dua kebutuhan anak-anak kita yang memiliki prestasi,” ungkap Maria.
Ia menambahkan, pengembangan talenta harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Prestasi akademik maupun nonakademik saja dinilai belum cukup untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat.
Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, memiliki daya tahan dalam menghadapi tantangan, serta mengubah gagasan menjadi tindakan menjadi bekal yang tidak kalah penting.
Maria menyebut resiliensi dan kemampuan belajar sebagai modal yang telah dimiliki anak-anak Indonesia. Modal tersebut perlu diperkuat melalui pembinaan yang berkelanjutan.
“Resiliensi dan kemampuan belajar ini akan didukung dengan penyiapan yang baik dari SCG untuk mereka bisa beradaptasi, mengembangkan creative generation, dari idea to action,” katanya.
Diketahui, program beasiswa SCG pada 2026 diberikan kepada 8 siswa berprestasi. Selain dukungan pendidikan, mereka mendapatkan pembinaan yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas dan karakter.
Program tersebut diharapkan tidak sekadar menghasilkan siswa dengan prestasi yang gemilang, tetapi juga talenta muda yang mampu beradaptasi, berani menciptakan gagasan, serta mengubah ide menjadi karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza mengatakan, kesempatan mendapatkan pendidikan dan dukungan pengembangan diri merupakan sesuatu yang tidak dimiliki semua anak Indonesia.
Karena itu, menurutnya, para penerima beasiswa diminta tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh. Dukungan tersebut harus dimanfaatkan untuk terus belajar sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa.
“Pemerintah tidak mungkin berjalan sendirian dalam memperluas kesempatan pendidikan berkualitas. Perusahaan, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya perlu mengambil bagian dalam menciptakan ruang tumbuh bagi anak-anak Indonesia,” ujar Fajar. (nas)




















