INDOPOSCO.ID – Peta kekuatan partai politik mulai menunjukkan perubahan. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kini berada di posisi teratas dalam elektabilitas partai politik jika pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) digelar saat ini.
Berdasarkan survei nasional Indonesia Political Opinion (IPO), Gerindra meraih elektabilitas 17,5 persen. Partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu mengungguli Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang berada di posisi kedua dengan 12,8 persen.
Sementara Partai Golongan Karya (Golkar) menempati posisi ketiga dengan elektabilitas 10,4 persen. Posisi keempat ditempati Partai Demokrat dengan 8,1 persen. Selanjutnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh 7,0 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 5,1 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,6 persen, dan Partai NasDem 4,4 persen.
Adapun sejumlah partai lainnya masih berada di bawah dua persen. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memperoleh 1,9 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 1,6 persen, Perindo 0,9 persen, Partai Gerakan Rakyat 0,5 persen, Partai Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) 0,4 persen, dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,2 persen. Sedangkan Partai Ummat, Partai Buruh, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), serta Partai Partai Garda Republik Indonesia (Garuda) belum memperoleh dukungan yang terukur dalam survei tersebut.
Yang menarik, sebanyak 24,6 persen responden mengaku belum menentukan pilihan atau memilih merahasiakan pilihannya. Angka ini menunjukkan persaingan elektoral antarpartai masih sangat terbuka dan dapat berubah menjelang Pemilu.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, posisi Gerindra sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi tidak terlepas dari efek positif sebagai partai pengusung Presiden Prabowo Subianto.
“Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat, meskipun jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya terjadi penurunan, tetapi itu tetap menempatkan Gerindra sebagai parpol dengan elektabilitas tertinggi saat ini,” kata Dedi dalam keterangannya, Sabtu (8/8/2026).
Menurutnya, hasil tersebut memperlihatkan adanya pergeseran preferensi pemilih dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya PDIP kerap mendominasi dukungan dalam berbagai survei nasional, kini sebagian basis pemilih mulai bergeser ke Gerindra.
Pergeseran tersebut, lanjut dia, tidak terlepas dari posisi Gerindra sebagai salah satu kekuatan utama pemerintahan saat ini.
“Tentu dimaklumi sebagai parpol penguasa, Gerindra cenderung mampu mengambil alih porsi pemilih yang sebelumnya dikuasai PDIP. Jika kebijakan Presiden ke depan kian diterima publik, bukan tidak mungkin elektabilitas Gerindra semakin kuat di posisi puncak,” ujarnya.
Meski Gerindra berada di posisi teratas, Dedi mengingatkan peta persaingan politik masih dinamis. Tingginya jumlah responden yang belum menentukan pilihan menjadi ruang bagi partai-partai politik untuk mendulang dukungan baru.
“Partai-partai politik masih memiliki ruang untuk meningkatkan dukungan melalui penguatan konsolidasi organisasi, kaderisasi, maupun komunikasi politik kepada masyarakat,” ujarnya.(nas)















