INDOPOSCO.ID – Di era ketika teknologi kedokteran gigi berkembang sangat cepat, kemampuan seorang dokter tidak lagi hanya diukur dari keterampilan melakukan tindakan klinis. Ketepatan mendiagnosis masalah, memilih terapi yang sesuai, hingga terus memperbarui kompetensi menjadi faktor yang semakin menentukan kualitas layanan bagi pasien.
Prinsip itulah yang menjadi fondasi praktik drg. Christine Hendriono, Sp.KG, FICD, MSc Implant (Rome), GCOI. Sebagai dokter spesialis konservasi gigi yang juga mendalami implantologi dan bedah implan, ia menempatkan upaya mempertahankan gigi alami sebagai prioritas sebelum memutuskan tindakan rehabilitasi menggunakan implan.
Baginya, setiap pasien memiliki kondisi klinis yang berbeda sehingga keputusan terapi tidak dapat disamaratakan.
“Konservasi gigi dan implantologi bukan dua bidang yang saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Seorang dokter harus mampu menentukan kapan gigi masih dapat dipertahankan dan kapan rehabilitasi dengan implan menjadi pilihan terbaik bagi pasien,” ujar drg. Christine kepada awak media di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Pendekatan tersebut lahir dari perjalanan akademik yang terus berkembang. Setelah menuntaskan pendidikan Spesialis Konservasi Gigi di Universitas Trisakti, drg. Christine melanjutkan studi Master of Science in Implantology di UniCamillus International Medical University, Roma, Italia.
Tak berhenti di bangku pendidikan formal, ia juga memperdalam kompetensi melalui berbagai pelatihan tingkat internasional. Mulai dari Advanced Periodontal & Implant Surgery di Seoul National University, Mastership Zygoma, Pterygoid & All-on-X with Immediate Loading, Soft & Hard Tissue Mastership Program, hingga Advanced Perio Graft & Digital Implant Guide di Roma.
Berbekal pengalaman tersebut, drg. Christine menangani beragam kasus rehabilitasi gigi, mulai dari kehilangan satu gigi hingga kasus kompleks yang membutuhkan rekonstruksi fungsi kunyah secara menyeluruh.
Komitmennya terhadap dunia akademik juga tercermin melalui sejumlah penghargaan ilmiah. Ia pernah meraih Best Presentation Award pada International Federation of Endodontic Association (IFEA) World Endodontic Congress lewat presentasi kasus endodontik. Selain itu, inovasi rehabilitasi estetik menggunakan teknik veneer minimal invasif membawanya memperoleh penghargaan Best Case Report pada Temu Ilmiah Nasional IKORGI (TINI).
Pencapaian tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam menerapkan evidence-based dentistry, yaitu pendekatan yang menggabungkan pengalaman klinis dengan hasil penelitian ilmiah terbaru agar setiap keputusan medis memiliki dasar yang kuat.
Dalam praktik sehari-hari di J Smile Dental Clinic, perkembangan teknologi digital turut dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan perencanaan perawatan. Berbagai perangkat seperti Cone Beam Computed Tomography (CBCT), digital intraoral scanner, hingga teknologi pendukung perawatan saluran akar dan implantologi digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh sebelum tindakan dilakukan.
Melalui pendekatan tersebut, rencana terapi dapat disesuaikan dengan kondisi anatomi, kebutuhan fungsional, sekaligus mempertimbangkan hasil estetik yang diharapkan pasien.
Selain menangani pasien di ruang praktik, drg. Christine juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi sejak dini. Menurutnya, banyak kasus kehilangan gigi sebenarnya dapat dihindari apabila pemeriksaan rutin dilakukan dan gangguan ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat.
“Tujuan kami bukan hanya mengobati, tetapi juga membantu masyarakat memahami bahwa kesehatan gigi merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh. Semakin dini masalah terdeteksi, semakin besar peluang untuk mempertahankan gigi alami,” tutupnya.
Dengan memadukan keahlian di bidang konservasi gigi, implantologi, pendidikan internasional, serta pemanfaatan teknologi modern, drg. Christine Hendriono terus mengembangkan layanan kedokteran gigi yang mengutamakan diagnosis yang akurat, keputusan klinis berbasis ilmu pengetahuan, dan hasil perawatan yang optimal bagi setiap pasien. (her)


















