INDOPOSCO.ID – The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026 kembali memperkuat identitasnya sebagai festival jazz dengan menghadirkan deretan kolaborasi musisi lintas generasi. Memasuki tahun ke-11, TPJF mengusung tema “Sound to the Soul” dan akan digelar pada 3-4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung.
Rangkaian program TPJF 2026 diperkenalkan dalam konferensi pers yang digelar TP Jazz Management di Djakarta Theater XXI – The Club, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Festival tahun ini menghadirkan lebih dari 50 program musik yang tersebar di enam area. Sekitar 70 persen program yang dikurasi berada dalam spektrum jazz, mulai dari traditional jazz, contemporary jazz, fusion hingga eksplorasi musik lintas genre.
Event Director TP Jazz Management Tyagita R. Hermawan mengatakan, TPJF tidak hanya dirancang sebagai ajang pertunjukan musik, tetapi juga ruang pertemuan bagi komunitas, budaya, kreativitas, dan berbagai generasi.
“Tahun ini kami menghadirkan lebih banyak proyek kolaborasi, lebih banyak ruang bagi musisi untuk bereksplorasi, dan lebih banyak pengalaman yang bisa dinikmati pengunjung,” ujar Tyagita.
Menurut dia, konsep tersebut menjadi bagian dari upaya TPJF mempertahankan identitas festival sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi para musisi untuk menghadirkan karya dan pertunjukan sesuai karakter masing-masing.
Kurator TPJF 2026 Hari Pochang dan Venche Manuhutu menjelaskan, kurasi tahun ini diarahkan untuk memperlihatkan perkembangan wajah jazz yang semakin luas dan relevan dengan dinamika musik saat ini.
Sejumlah proyek spesial yang dihadirkan antara lain A Night of Frank Sinatra by Dwiki Dharmawan & Friends, Tribute to Koes Plus by The Gentlemen’s Club, Freedom Jazz Society feat. Rinni, serta kolaborasi Barry Likumahuwa feat. TPJC Collective.
Kolaborasi lintas generasi juga menjadi salah satu kekuatan TPJF 2026. Festival ini mempertemukan musisi senior dan generasi baru dalam berbagai proyek musik yang dikemas khusus.
Musisi Rieka Roslan bersama personel Lalahuta juga akan tampil di BRI Stage pada hari pertama festival. Rieka menyebut TP Jazz memberikan ruang kreatif kepada musisi untuk mengeksplorasi konsep pertunjukan.
“Buat saya, TP Jazz selalu menjadi alasan yang menyenangkan untuk kembali ke Bandung. Ada banyak kenangan dan karya yang lahir dari kota ini,” kata Rieka.
Dia menilai kebebasan dalam menentukan konsep dan materi pertunjukan menjadi salah satu hal yang membuat musisi dapat menghadirkan penampilan yang lebih personal.
Selain pertunjukan musik, TPJF 2026 juga menghadirkan sejumlah program pendukung. Salah satunya TPJF Lifetime Achievement Award yang tahun ini diberikan kepada grup musik BIMBO.
Festival tersebut turut menghadirkan Mojang Jajaka Stage hasil kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung serta Pasar Jazz yang menyediakan ruang bagi pelaku kuliner, fashion, lifestyle, alat musik, dan produk kreatif lainnya.
Enam area festival yang disiapkan untuk TPJF 2026 meliputi Kota Baru Parahyangan Stage, BRI Stage, RON88 Stage, TP Stage, Mojang Jajaka Stage, dan Pasar Jazz.
Sejumlah musisi yang dijadwalkan tampil di antaranya Mahalini, Ruth Sahanaya, Diskoria feat. Andien, Dwiki Dharmawan & Friends, SimakDialog, Andre Dinuth Group feat. Matthew Sayersz, Rafi Sudirman, T-Five x Melly Mono, Batavia Collective, Reyharp feat. Balawan Project, Arumtala, dan Ambon Jazz Rock by Barry Likumahuwa.
Dengan tema “Sound to the Soul”, TPJF 2026 diarahkan tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah kolaborasi, regenerasi, dan apresiasi terhadap perkembangan musik jazz di Indonesia.
Festival akan berlangsung selama dua hari pada 3-4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung.
Adapun informasi dalam materi yang disampaikan menyebutkan tiket tersedia dalam kategori Silver Pass, Gold Pass, dan Platinum Pass dengan cakupan akses panggung yang berbeda. (srv)















