INDOPOSCO.ID – Popularitas Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya disebut tengah memasuki fase baru. Sosok yang selama ini dikenal sebagai orang dekat Presiden Prabowo Subianto itu kini dinilai mulai menjelma menjadi figur publik dengan daya tarik nasional.
Pengamat politik Hendri Satrio bahkan mengaku terkejut melihat antusiasme warga saat Teddy mendampingi Prabowo dalam kunjungan ke Pulau Miangas, salah satu wilayah terluar Indonesia.
Sorakan warga yang menyebut nama Teddy dianggap bukan sekadar euforia biasa. Menurut Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa, momen itu memperlihatkan bahwa publik mulai mengenali Teddy sebagai sosok tersendiri, bukan hanya bagian dari lingkaran presiden.
“Kalau di daerah sejauh Miangas saja namanya sudah diteriakkan warga, itu menunjukkan tingkat pengenalan publiknya sudah meluas,” ujar Hensa melalui gawai, Minggu (10/5/2026).
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai kekuatan Teddy justru terletak pada konsistensi kemunculannya di berbagai momen penting negara. Bukan karena banyak bicara, melainkan karena sering terlihat hadir di situasi yang penuh simbol dan emosi.
Dalam pandangannya, publik Indonesia cenderung cepat akrab dengan figur yang terlihat “turun langsung”, hadir ke daerah jauh, berjalan sederhana, dan tidak terlalu dibatasi protokol yang kaku.
“Kadang yang paling diingat masyarakat bukan siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling sering hadir,” kata Hensa.
Ia juga melihat Teddy memiliki kemampuan membaca situasi ketika berada di tengah masyarakat. Ada momen untuk aktif menyapa, tetapi ada pula saat cukup berdiri dan mendengarkan tanpa banyak gestur.
Menurutnya, pola seperti itu justru efektif di era media sosial, ketika visual dan kesan spontan sering kali lebih kuat dibanding penjelasan panjang.
“Publik sekarang mudah tersentuh dengan figur yang terlihat ikut merasakan situasi di lapangan. Itu membangun kedekatan emosional,” jelasnya.
Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa popularitas tinggi juga bisa menjadi titik sensitif. Ketika eksposur seseorang terus muncul secara konsisten, publik biasanya mulai menebak-nebak arah masa depannya.
“Ketika seseorang belum punya agenda politik apa-apa tapi sudah sangat recognizable, orang akan mulai bertanya sendiri, ‘Ini orang sebenarnya sedang dipersiapkan jadi apa?’, dan pertanyaan seperti itu biasanya muncul bukan karena pencitraan yang berlebihan, tapi karena eksposurnya konsisten,” ungkap penulis buku Riah Riuh Komunikasi itu
Ia menilai momentum yang kini dimiliki Teddy sebaiknya dijaga tetap alami. Sebab, popularitas yang tumbuh secara natural cenderung lebih kuat dibanding pencitraan yang dipaksakan.
“Kalau dijaga tetap natural, efeknya justru bisa lebih besar dalam jangka panjang,” tutupnya. (her)











