INDOPOSCO.ID — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN kembali menegaskan pentingnya literasi dan pengelolaan keuangan keluarga sebagai pilar penting dalam mendukung tumbuh kembang anak serta memperkuat ketahanan keluarga. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Kelas Orang Tua Hebat (KERABAT) Seri 36 bertajuk “Bijak Mengelola Keuangan Keluarga, Optimal Mendukung Tumbuh Kembang Anak” bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube pada Kamis (29/10/2026).
Kegiatan ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) di KERABAT Tahun 2026. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, saat membuka acara menegaskan pentingnya kecakapan finansial dalam ranah domestik.
“Setiap keluarga perlu memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, merencanakan kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, serta mengalokasikan sumber daya untuk mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Nopian.
Ia menambahkan bahwa kualitas pengasuhan sangat bergantung pada kemampuan orang tua dalam mengelola sumber daya secara terarah, mengingat pemenuhan hak anak tidak sebatas pangan dan pakaian, tetapi juga mencakup akses layanan kesehatan, gizi seimbang, stimulasi, serta lingkungan yang aman.
Nopian menjelaskan bahwa materi literasi keuangan pada seri terakhir ini diangkat sebagai bagian dari Dimensi Keamanan dan Keselamatan dalam pengasuhan anak berdasarkan prinsip Nurturing Care Framework yang dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama UNICEF untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini secara menyeluruh. Menurutnya, pemenuhan nutrisi dan kesehatan anak dapat dijangkau tanpa harus mengeluarkan biaya besar, asalkan orang tua memiliki pemahaman mendasar dan konsistensi dalam menerapkan skala prioritas. Sepanjang pelaksanaannya di tahun 2026, program TAMASYA di KERABAT telah mencatat dampak luas dengan melayani lebih dari 656 ribu peserta terdaftar, menerbitkan 459 ribu sertifikat, serta menembus lebih dari 500 ribu penayangan di kanal YouTube.
Di sisi lain, pemenuhan nutrisi dan stimulasi anak pada masa-masa kritis seperti 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menuntut perencanaan keuangan keluarga yang disiplin dan terarah. Evaluasi skala prioritas secara berkala serta kemampuan memisahkan antara pos kebutuhan pokok dan keinginan konsumtif menjadi kunci agar alokasi anggaran keluarga tetap proporsional dan tidak mengorbankan gizi maupun kesehatan buah hati.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Direktur Madya (Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Halimatus Sa’diyah, selaku narasumber menekankan pentingnya eksekusi penganggaran yang logis dan tepat sasaran di tingkat keluarga.
“Kunci utama dari smart spending dalam keluarga adalah ketegasan memisahkan antara kebutuhan dan keinginan,” jelas Halimatus Sa’diyah. Ia menguraikan bahwa alokasi anggaran untuk asupan gizi berkualitas dan kesehatan anak jauh lebih mendesak daripada pengeluaran konsumtif yang tidak memberi dampak pada tumbuh kembang. (ney)


















