INDOPOSCO.ID – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa dalam kapasitasnya sebagai Ketua Komite ASEAN di Ottawa/ASEAN Committee in Ottawa (ACO) pada Semester II 2026 menjadi mitra penyelenggaraan ASEAN Economic Symposium 2026.
Forum yang bertema “Building Canada-ASEAN Economic Resilience and Accelerating Market Penetration” tersebut berlangsung di Telfer School of Management, University of Ottawa. Simposium ini terselenggara atas kerja sama ACO dengan York Centre for Asian Research (YCAR) melalui Canada-ASEAN Initiatives, Telfer School of Management – University of Ottawa, serta Asia Pacific Foundation of Canada.
Simposium dihadiri oleh sekitar 100 partisipan dari kalangan pemerintah, parlemen, korps diplomatik, akademisi, pelaku usaha, dan mahasiswa. Rangkaian acara meliputi keynote remarks, dua sesi panel, dan fireside chat yang menghadirkan para pembicara dari unsur parlemen, pemerintah, dunia usaha, dan korps diplomatik.
Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada, Muhsin Syihab, mengatakan tema simposium sangat relevan dengan dinamika global saat ini.
“Sistem perdagangan global dan rantai pasok tengah berada di bawah tekanan. Dalam situasi seperti ini, mitra yang meyakini perdagangan terbuka dan predictable akan semakin saling membutuhkan, dan ASEAN serta Kanada adalah mitra tersebut,” ujarnya.
Dubes Muhsin menyampaikan perdagangan barang dua arah Kanada-ASEAN mencapai CAD52,4 miliar pada 2025, naik hampir 24 persen dari 2024. Namun angka tersebut baru sekitar 3 persen dari total perdagangan Kanada dengan dunia, sehingga potensi kerja sama masih sangat besar.
Untuk itu, ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA), yang akan menjadi perjanjian dagang pertama ASEAN dengan mitra di Amerika Utara, dinilai menjadi instrumen kunci. Proses perundingan tersebut kini memasuki fase penentuan menuju substantial conclusion pada KTT ASEAN ke-49 November mendatang.
“Penandatanganan perjanjian hanyalah langkah awal. Pada akhirnya, nilai sebuah perjanjian ditentukan oleh implementasinya dan manfaat nyata yang dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat kita,” tegas Dubes Muhsin, seraya mendorong ACAFTA yang commercially meaningful dan membuka peluang bagi dunia usaha, termasuk UMKM.
Sesi panel dalam simposium menyoroti sejumlah isu kunci, antara lain pentingnya menuntaskan pending issues dalam perundingan ACAFTA, seperti akses pasar dan ketentuan asal barang (rules of origin), serta komitmen Kanada untuk mendiversifikasi mitra dagangnya dalam jangka panjang. Para peserta juga mengidentifikasi sektor-sektor dengan potensi kerja sama yang besar, antara lain jasa keuangan, energi, mineral, serta ketahanan pangan.
Diskusi juga menyoroti pengurangan hambatan non-tarif, peningkatan kapasitas untuk implementasi, pengakuan kualifikasi dan standar produk. Selain itu, penguatan hubungan antarmasyarakat dinilai sama pentingnya dengan pengurangan tarif agar pelaku usaha dapat memanfaatkan perjanjian secara optimal. Diskusi mencatat bahwa ASEAN bukan hanya pasar yang menjanjikan, tetapi juga sumber investasi alternatif bagi Kanada.
Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan untuk mempromosikan kekayaan budaya kuliner ASEAN, di mana masing-masing perwakilan negara anggota ASEAN di Ottawa menghadirkan kudapan khas negaranya. Indonesia menyajikan Mie Goreng Jawa dan pastel ayam serta Talam Ubi Ungu sebagai hidangan penutup.
Simposium ini merupakan bagian dari upaya ACO di bawah keketuaan Indonesia untuk memperkuat Kemitraan Strategis ASEAN-Kanada menjelang peringatan 50 tahun Hubungan Kanada sebagai Mitra Wicara ASEAN pada 2027.
“Mari kita pastikan Kemitraan Strategis ini menghadirkan peluang ekonomi yang nyata bagi dunia usaha dan masyarakat kita,” pungkas Dubes Muhsin.
Bagi Indonesia, ACAFTA diharapkan bersifat komplementer dengan ICA-CEPA (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement) sebagai perjanjian dagang bilateral dalam mendorong peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia-Kanada.(srv)

















