INDOPOSCO.ID – Capaian lima medali emas Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 bukan alasan untuk berpuas diri. Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari justru melihat hasil tersebut sebagai momentum untuk membongkar kelemahan sekaligus mengevaluasi sistem pembinaan olahraga nasional.
Tim Indonesia menutup Aichi-Nagoya 2026 dengan koleksi lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Hasil ini melampaui target pemerintah sebanyak empat emas. Namun, seluruh medali emas hanya berasal dari empat cabang olahraga, yakni bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
“Lima emas tentu harus kita apresiasi. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan apakah target tercapai. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana lima emas ini bisa menjadi sepuluh dan bagaimana kita memperluas jumlah cabang olahraga yang mampu berprestasi di level elite,” ujar Okto -sapaan Raja Sapta Oktohari- dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Bagi Okto, pekerjaan berikutnya bukan sekadar mengejar tambahan medali, melainkan mencari tahu mengapa sejumlah cabang mampu berprestasi sementara cabang lain belum menunjukkan hasil serupa. Keberhasilan empat cabang penyumbang emas perlu dibedah agar faktor pendukungnya bisa dipelajari dan diterapkan secara tepat.
“Kita harus membedah apa yang membuat mereka berhasil, mulai dari pembinaan, scouting, kompetisi, pelatih, sport science, dukungan organisasi hingga ekosistemnya. Kalau kita tahu faktornya, kita bisa mencari apa yang relevan untuk cabang olahraga lain,” jelasnya.
Okto menilai Indonesia memiliki modal besar berupa populasi, ribuan sekolah dan klub, serta keragaman potensi fisik. Tantangannya adalah memastikan setiap talenta ditemukan, diarahkan, dan dikembangkan sesuai potensinya.
“Talenta itu bukan milik satu cabang olahraga. Itu talenta Indonesia. Kalau setelah diuji dengan pendekatan sport science seorang atlet ternyata lebih cocok di cabang lain, kenapa harus takut memindahkannya? Kepentingan nasional harus lebih besar daripada ego sektoral,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong penerapan *cross-sport talent*, scouting berbasis data, dan pembinaan jangka panjang. Pengembangan atlet elite, menurutnya, membutuhkan pelatih berkualitas, kompetisi yang memadai, sport science, nutrisi, fasilitas, kedokteran olahraga, serta dukungan anggaran berkelanjutan.
Di tengah kebutuhan tersebut, Okto mengingatkan bahwa pembinaan prestasi harus memiliki prioritas. Pemerataan dukungan tidak berarti setiap cabang olahraga harus mendapat perlakuan dan sumber daya yang sama.
“Kita tidak harus menang di semua cabang olahraga. Tetapi kita harus tahu cabang olahraga mana yang harus kita menangkan. Kalau orientasinya medali, dukungannya juga jangan setengah-setengah,” tutur Okto.
Ia juga meminta kritik terhadap pembinaan olahraga ditempatkan sebagai bagian dari evaluasi, bukan dianggap sebagai serangan terhadap individu atau organisasi. Menurutnya, setiap masukan harus berujung pada keputusan dan perbaikan yang terukur.
“Kritik harus kita ubah menjadi data, data menjadi evaluasi, evaluasi menjadi keputusan, dan keputusan menjadi perbaikan. Olahraga modern harus berbicara dengan data,” ungkapnya.
Okto menegaskan, keberhasilan melampaui target empat emas menjadi awal dari pekerjaan yang lebih besar. Indonesia perlu berani mengubah sistem, menjaga konsistensi kebijakan, dan memperkuat integrasi antarpemangku kepentingan agar prestasi tidak berhenti sebagai pencapaian sesaat.
“Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah sistem, konsistensi menjalankan keputusan, integrasi antarpemangku kepentingan, dan kemauan membongkar kebiasaan lama. Lima emas adalah pencapaian yang harus diapresiasi, tetapi juga menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: bagaimana kita membangun Indonesia sebagai kekuatan olahraga dunia?” tambahnya.(her)
















