INDOPOSCO.ID – Jika dulu membayangkan mengurus sertipikat tanah identik dengan antrean panjang, loket yang membingungkan, dan bayang-bayang calo, gambaran itu kini perlahan dipatahkan di sebuah kantor di Jalan Tanjung Barat, Jagakarsa.
Di Kantor Pertanahan (Kantah) Kota Administrasi Jakarta Selatan, suasana itu telah berubah. Lebih terang, lebih tertib, lebih senyap. Tidak ada lagi teriakan nomor antrean secara manual. Semua terpampang di layar digital. Masyarakat cukup duduk, memindai QR code, dan memantau berkasnya lewat gawai di genggaman.
Inilah yang disebut Kepala Sub Bagian Tata Usaha BPN Jakarta Selatan, Muhammad Mauludy, sebagai ‘Wajah Baru, Semangat Baru’
“Hal ini merupakan arahan dari Pak Darman Simanjuntak Kakantah kami yang menginginkan masyarakat merasakan langsung perbedaannya saat masuk ke kantor. Lebih tertib, lebih transparan, dan tidak ada lagi praktik percaloan,” ujar Mauludy saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (14/10/2026)
Tagline itu bukan sekadar slogan yang ditempel di dinding. Ia menjelma menjadi pengalaman.
Bagi warga Jakarta Selatan, perubahan paling terasa ada pada tiga hal. Pertama, hilangnya kertas-kertas analog. Kini semua sudah beralih ke Sertipikat Elektronik. Cukup buka aplikasi ‘Sentuh Tanahku’ sertipikat ada di dalam ponsel, aman dan tidak bisa lagi difotokopi sembarangan oleh oknum.
Kedua, kepastian. Ini yang paling sering dikeluhkan masyarakat selama bertahun-tahun: kapan tanah saya diukur? Kini jawabannya pasti. Melalui program Pengukuran Terjadwal, yang sudah diterapkan di lebih dari 400 Kantah se-Indonesia termasuk Jaksel, jadwal ukur dipastikan maksimal 7 hari sejak berkas lengkap, dan selesai dalam 12 hari kerja.
Tidak ada lagi cerita petugas ukur datang sebulan kemudian tanpa kabar.
“Kepala BPN Jakarta Selatan selalu menekankan kerja cepat dan tepat. Dampaknya juga harus dirasakan masyarakat. BPN harus hadir di tengah masyarakat dan memberi solusi,” tegas Mauludy.
Dan ketiga, adalah semangat jemput bolanya.
Jika dulu warga Pondok Labu harus meluangkan waktu, naik kendaraan, dan cuti kerja hanya untuk sekadar bertanya tentang balik nama, kini ceritanya terbalik.
Mobil layanan khusus BPN Jakarta Selatan yang menjadi bagian dari program Larasita (Layanan Rakyat untuk Sertipikasi Tanah) masuk langsung ke Kelurahan Pondok Labu. Parkir di balai warga, membuka tenda, melayani konsultasi, pengecekan, hingga pendaftaran awal.
Ibu-ibu yang biasanya hanya mengantar anak ke posyandu, kini bisa sambil bertanya soal sertipikat. Bapak-bapak yang warungnya buka dari pagi, tak perlu tutup warung hanya untuk ke Tanjung Barat.
Inilah makna terdalam dari transformasi yang diinstruksikan Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid: pelayanan yang pasti, cepat, dan terukur.
Transformasi ini juga dibarengi dengan komitmen membangun Zona Integritas menuju Wilayah Tertib Administrasi Berintegritas (WTAB). Sebuah janji untuk anti pungli dan anti calo yang tidak hanya diucapkan, tapi diawasi dengan sistem.
Di ujung wawancara, Mauludy tersenyum. Baginya, Wajah Baru bukan soal cat tembok yang baru atau seragam yang baru. Tapi tentang rasa aman warga Jakarta Selatan ketika mengurus hak atas tanahnya.
Karena pada akhirnya, sertipikat bukan sekadar kertas. Ia adalah rasa tenang, kepastian untuk anak cucu, dan bukti bahwa negara hadir, bahkan sampai ke gang terkecil di Pondok Labu.(yas)

















