INDOPOSCO.ID – Universitas Terbuka (UT) terus berlari melakukan transformasi pendidikan tinggi berbasis digital. Kampus negeri dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini bahkan menyiapkan UT Jakarta 2 yang seluruh layanan perkuliahannya bakal dilakukan secara digital.
Pernyataan tersebut diungkapkan Rektor UT Prof Ali Muktiyanto ditemui indoposco.id di sela-sela wisuda mahasiswa UT Jakarta di kampus UT Pusat di Tangerang Selatan, Minggu (27/9/2026).
Menurutnya, UT Jakarta menjadi miniatur idealitas UT karena mahasiswanya tersebar di lebih dari 200 kabupaten dan kota. Kehadiran jajaran pimpinan, rektor, hingga senat dalam prosesi wisuda tersebut menegaskan bahwa kualitas dan makna wisuda di daerah tetap setara dengan pelaksanaan wisuda di UT Pusat.
“Wisuda ini menjadi pembuktian bahwa UT benar-benar ingin berdampak bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Ali.
Dia mengungkapkan, sekitar 80 persen mahasiswa UT sudah bekerja ketika pertama kali bergabung. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 90 persen menjelang mereka menyelesaikan pendidikan.
Ia menambahkan, untuk mendorong 10 persen lulusan lainnya agar lebih cepat terserap dunia kerja maupun sektor informal, UT mulai mewajibkan mahasiswa memiliki sertifikasi kompetensi dan profesi.
Kebijakan tersebut, lanjutnya, diselaraskan dengan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), sehingga kompetensi lulusan diharapkan lebih relevan dengan kebutuhan dunia industri.
Lebih jauh ia mengungkapkan, transformasi dilakukan UT pada sistem layanan. UT kini mengembangkan Learning Management System (LMS) yang dapat diakses sejak mahasiswa melakukan registrasi hingga menjelang ujian, disertai bahan ajar modular dan ujian online berbasis perangkat mobile.
Tak hanya itu, lanjut dia, sistem registrasi terintegrasi disiapkan agar mahasiswa memperoleh notifikasi jadwal dan berbagai persiapan studi secara lebih terstruktur sejak awal perkuliahan.
“UT juga mulai menggeser konsep pembelajaran dari Open and Distance Learning (ODL) menuju Open, Distance, Digital, and Flexible Learning (ODFL). Transformasi ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan generasi digital, terutama Gen Z dan Gen Alpha,” ungkapnya.
“Mudah-mudahan bagi Gen Z merasa nyaman dan cocok untuk pendidikan jarak jauh yang full digital. Dengan transformasi dari ODL menjadi ODFL, kita berharap pendidikan semakin fleksibel,” imbuhnya.
Langkah tersebut, dikatakan dia, diwujudkan melalui rencana pembukaan UT Jakarta 2 (Full Digital). Berbeda dengan layanan konvensional, seluruh rantai perkuliahan di Jakarta 2 akan dilakukan secara daring, mulai registrasi, pembelajaran, komunikasi akademik, hingga ujian.
Meski demikian, masih ujar dia, UT memastikan prosesi wisuda tetap dilaksanakan secara tatap muka. “Wisudanya tetap tidak digital, tetap tatap muka. Itu penting,” tegasnya.
Ali menambahkan, pada tahap awal, operasional UT Jakarta 2 akan dikendalikan UT Pusat melalui Direktorat Pendukung Digital sembari menyiapkan gedung dan kantor tersendiri yang futuristik dan representatif.
Ali mengingatkan para wisudawan bahwa kelulusan bukan akhir dari proses belajar. Mereka diharapkan menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner) dan membawa ilmu yang diperoleh untuk memberikan manfaat di tengah masyarakat.
“Menjadi sarjana bukan lagi barang mewah. Pendidikan tinggi merupakan kesempatan yang dapat diraih semua orang,” pesannya.
Direktur UT Jakarta Moh Muzzammil Yusuf menambahkan, ekspansi tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan jumlah mahasiswa yang signifikan. Setiap tahun, rata-rata mahasiswa baru yang diterima mencapai sekitar 20 ribu orang.
“Kalau dihitung, yang masuk ada 20 ribu, sementara yang lulus akumulasi sekitar 10 ribu,” ujarnya.
Menurutnya, ketimpangan antara jumlah mahasiswa baru dan lulusan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan UT Jakarta 2. Penambahan fasilitas diharapkan mampu mengantisipasi pertumbuhan mahasiswa sekaligus meningkatkan efisiensi layanan pendidikan.(nas)















