INDOPOSCO.ID – Di Kamojang, panas bumi tidak berhenti sebagai sumber energi. Dari uap yang keluar dari perut bumi, muncul inovasi yang membawa manfaat hingga ke lahan pertanian, mengubah limbah menjadi pupuk, mempercepat proses produksi, menekan biaya usaha tani, dan pada akhirnya membantu petani menghasilkan pangan.
Cerita itu tumbuh dari lereng pegunungan Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu wilayah pengembangan panas bumi, masyarakat memanfaatkan potensi energi terbarukan bukan hanya untuk kebutuhan kelistrikan, tetapi juga untuk menjawab persoalan yang sangat dekat dengan keseharian petani.
Salah satunya adalah persoalan pupuk organik.
Bagi petani, membuat pupuk organik secara mandiri bukan perkara sederhana. Kondisi udara yang sejuk, curah hujan tinggi, serta kelembapan yang relatif tinggi membuat proses pengeringan secara konvensional bisa memakan waktu hingga dua pekan.
Pada saat yang sama, ketersediaan pupuk bersubsidi yang terbatas dan harga pupuk kimia yang tinggi turut menambah beban biaya produksi.
Dari persoalan itulah Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang, bagian dari Pertamina, mengembangkan GeO-Fert melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah.
Konsepnya sederhana, tetapi berdampak besar. Excess steam panas bumi dimanfaatkan untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik.
Dengan panas bersuhu sekitar 60–70 derajat Celsius, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu hingga 14 hari kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 12 jam.
Limbah yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal pun memperoleh kehidupan baru. Hingga 2026, sekitar 600 ton limbah organik telah diolah menjadi 300 ton pupuk GeO-Fert.
Pupuk tersebut kemudian dikembalikan ke lahan pertanian. Sekitar 15 hektare lahan telah menggunakannya dan manfaatnya dirasakan sekitar 950 petani.
Namun, keberhasilan inovasi ini tidak berhenti pada angka produksi pupuk.
Bagi petani Kamojang, ukuran paling nyata justru terlihat ketika pupuk yang dihasilkan kembali ke tanah dan menghasilkan tanaman yang bisa dipanen.
Semangat itu tergambar dalam kegiatan HAREPAN – Panen Hasil Bumi dengan Pupuk GeO-Fert. Dari lahan yang menggunakan pupuk tersebut, petani berhasil menghasilkan sekitar 15 ton kentang dan 40 ton kol.
Pemanfaatan GeO-Fert juga memberikan dampak ekonomi. Dari kegiatan tersebut, penghematan biaya tercatat mencapai sekitar Rp82 juta.
“Bagi kami, yang paling penting bukan hanya bisa membuat pupuk sendiri, tetapi bagaimana pupuk ini kembali ke tanah dan menghasilkan panen. Dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah, sekarang bisa memberikan manfaat untuk pertanian dan petani,” ujar Hendro Gunawan, Local Hero KTH Cikondang dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Ketika Energi Bertemu Kebutuhan Petani
Kisah di Kamojang memperlihatkan bagaimana energi terbarukan dapat memiliki fungsi yang jauh lebih luas ketika pemanfaatannya terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Panas bumi yang selama ini identik dengan pembangkit listrik, di tangan masyarakat Kamojang menjadi bagian dari rantai produksi pertanian. Energi panas bumi dimanfaatkan untuk mempercepat pengeringan pupuk, sementara limbah organik menjadi bahan bakunya.
Setelah selesai diproses, pupuk kembali digunakan di lahan. Dari tanah tersebut kemudian tumbuh berbagai komoditas pangan yang dapat dipanen petani.
Sebuah siklus terbentuk: limbah diolah, energi dimanfaatkan, pupuk dihasilkan, tanah dirawat, lalu pangan dipanen.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, Hari Tani Nasional menjadi momentum untuk kembali melihat pentingnya peran petani sekaligus mendorong inovasi yang dapat memperkuat produktivitas dan kemandirian mereka.
“Petani adalah bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan. Melalui Desa Energi Berdikari, Pertamina berupaya menghadirkan energi terbarukan agar semakin dekat dengan kebutuhan produktif masyarakat. Di Kamojang, panas bumi ikut membantu petani mengolah limbah menjadi pupuk, merawat lahan hingga menghasilkan pangan,” ujar Baron.
Menurut Baron, GeO-Fert menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat menciptakan manfaat yang lebih luas ketika dipadukan dengan kebutuhan produktif masyarakat.
Di Kamojang, panas bumi tidak hanya menghasilkan energi. Pemanfaatannya juga merambah aktivitas lain, mulai dari mendukung pengeringan kopi hingga membantu kegiatan pertanian.
Pendekatan tersebut membuat energi tidak berhenti pada titik konsumsi, tetapi menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Dari Energi, Kembali ke Tanah
Model pemanfaatan energi untuk kegiatan produktif juga terus dikembangkan Pertamina melalui Program Desa Energi Berdikari di berbagai wilayah Indonesia.
Hingga 2026, terdapat 269 program DEB yang dijalankan Pertamina. Sebanyak 166 program di antaranya berfokus pada ketahanan pangan.
Program-program tersebut telah mendukung sekitar 2.091 hektare lahan pertanian dengan total hasil panen mencapai 21.357 ton.
Melalui DEB, pemanfaatan energi terbarukan dipadukan dengan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Orientasinya bukan semata menghadirkan akses energi, tetapi juga menciptakan aktivitas produktif yang memberi nilai tambah bagi lingkungan dan perekonomian warga.
Di Kamojang, cerita itu terlihat dari sesuatu yang sangat sederhana: limbah yang kembali menjadi pupuk, panas bumi yang membantu proses pengeringan, pupuk yang kembali ke tanah, lalu tanaman yang tumbuh dan dipanen.
Pada Hari Tani Nasional 2026, perjalanan GeO-Fert menunjukkan bahwa kemandirian petani dapat dibangun dari potensi yang tersedia di sekitar mereka.
Energi tidak hanya menghasilkan listrik. Limbah tidak sekadar menjadi sisa. Tanah bukan hanya tempat menanam.
Ketika semuanya dirangkai dalam satu siklus, panas bumi dapat membantu melahirkan pupuk, pupuk membantu menumbuhkan pangan, dan hasil panen pada akhirnya menjadi sumber harapan baru bagi petani. (her)















