INDOPOSCO.ID – Lanskap ekonomi global terus berubah. Kekayaan sumber daya alam (SDA) tak lagi menjadi penentu utama kejayaan ekonomi suatu negara. Penguasaan teknologi, inovasi, serta kualitas sumber daya manusia atau human capital justru menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan, perubahan tersebut sejalan dengan konsep pertumbuhan ekonomi baru atau endogenous growth theory. Teori ini menempatkan human capital dan teknologi sebagai faktor dominan dalam membentuk kekuatan ekonomi suatu negara.
Dia menyebut, berdasarkan laporan World Economic Forum, porsi human capital dalam kekuatan ekonomi dunia meningkat dari 39 persen menjadi 44 persen. Sebaliknya, kontribusi natural capital atau modal alam yang bersumber dari SDA menurun dari 44 persen menjadi 31 persen.
“Ke depan, ekonomi kita tidak bisa lagi sekadar mengandalkan kekayaan alam. Kuncinya ada pada human capital dan penguasaan teknologi,” ujar Arif di sela-sela Galeri PJJ Universitas Terbuka (UT) di kampus UT, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan pentingnya Indonesia melakukan transformasi basis ekonomi. Pengelolaan SDA tetap diperlukan, namun harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas manusia, pengembangan teknologi, serta riset dan inovasi.
Ia menuturkan, perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu faktor yang mempercepat perubahan kebutuhan dunia kerja. Pengguna AI secara global kini disebut telah menembus 1 miliar orang.
“Perkembangan tersebut turut mengubah kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan industri,” katanya.
Dikatakan dia, pada periode 2023–2025 kemampuan seperti analytical thinking, resiliensi, dan critical thinking menjadi sejumlah kemampuan yang banyak dicari, penguasaan AI diproyeksikan semakin dominan pada 2027.
“Keahlian terkait AI diprediksi menjadi salah satu skill utama yang dibutuhkan pasar kerja. Kondisi itu membuat peningkatan literasi dan kompetensi teknologi menjadi kebutuhan penting bagi tenaga kerja Indonesia,” terangnya.
Arif menilai, negara yang mampu menyiapkan sumber daya manusia dengan kemampuan teknologi akan memiliki kapasitas lebih besar untuk beradaptasi terhadap perubahan ekonomi global.
Di sisi lain, masih ujar dia, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun ekosistem inovasi. Dalam Global Innovation Index (GII) 2024–2025, Indonesia berada di peringkat ke-54.
Kondisi tersebut juga tercermin dari jumlah pendaftaran hak paten. Pada 2024, Indonesia disebut hanya mencatat sekitar 2.460 paten. Angka itu masih jauh dibandingkan Tiongkok yang mencapai sekitar 1,7 juta paten.
Karena itu, ia menambahkan, penguatan riset dan inovasi dinilai menjadi bagian penting untuk meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem inovasi global. Peningkatan kapasitas riset juga diharapkan berdampak terhadap produktivitas dan pertumbuhan GDP per capita.
Arif mengatakan, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak berdiri sendiri. Prosesnya dimulai dari penemuan (discovery), penguasaan teknologi, inovasi, hingga komersialisasi hasil riset.
“Peta kekuatan paten dunia dalam 30 tahun terakhir membuktikan bahwa negara yang berfokus pada riset mampu melesat. Indonesia harus bangkit, memperkuat riset, dan memperbanyak paten agar tidak tertinggal,” ujarnya. (nas)















