INDOPOSCO.ID – Masa depan kelistrikan Indonesia tidak lagi semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak pembangkit baru yang dibangun. Ketika energi surya berkembang pesat, industri terus berekspansi, elektrifikasi meningkat, dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar, kemampuan sistem untuk beradaptasi menjadi sama pentingnya dengan kapasitas pembangkit itu sendiri.
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga 2034. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan 10,3 GW dari kapasitas gas baru.
Komposisi tersebut menunjukkan arah transisi energi Indonesia yang semakin kuat. Namun, semakin besar porsi pembangkit surya dan angin, semakin besar pula kebutuhan terhadap sumber listrik yang mampu merespons perubahan produksi energi secara cepat.
Pesan tersebut mengemuka dalam Enlit Asia 2026 x MKI Electricity Connect bertema “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience” di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Rabu (23/9/2026).
Managing Director PT Wärtsilä Indonesia, Ossi Yline, mengatakan ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan digital. Dengan arsitektur sistem tenaga yang tepat, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, mengintegrasikan lebih banyak energi bersih secara signifikan, serta menyediakan fondasi yang andal untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan,” ujar Ossi kepada awak media.
Ambisi Indonesia mengembangkan 100 GW tenaga surya semakin memperbesar kebutuhan akan kapasitas penyeimbang. Pembangkit surya menghasilkan listrik secara fluktuatif dan produksinya berhenti ketika matahari terbenam. Karena itu, dibutuhkan pembangkit yang dapat merespons perubahan pasokan dengan cepat tanpa mengorbankan keandalan jaringan.
Vice President, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Frederic Carron menjelaskan, pembangkit berbasis mesin Wärtsilä dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel.
“Mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta outputnya dapat disesuaikan dengan cepat sesuai kebutuhan jaringan. Hal ini memungkinkan pembangkit memberikan kapasitas penyeimbang saat produksi energi terbarukan berfluktuasi, sehingga keandalan dan stabilitas sistem tetap terjaga,” kata Frederic.
Kebutuhan fleksibilitas juga semakin penting karena karakteristik sistem kelistrikan Indonesia tidak seragam. Jaringan nasional membentang dari sistem interkoneksi besar dan kawasan industri hingga pulau-pulau kecil dengan sistem kelistrikan yang terisolasi.
Energy Solutions Director PT Wärtsilä Indonesia, Febron Siregar mengatakan, tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan.
“Tahap berikutnya dalam transisi energi Indonesia bukan hanya mengenai seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga seberapa efektif energi tersebut dapat diintegrasikan dan dimanfaatkan,” jelas Febron.
“Perencanaan sistem tenaga yang lebih fleksibel sejak saat ini dapat membantu Indonesia menghindari tantangan keandalan dan stabilitas ketika penetrasi energi terbarukan semakin tinggi,” sambungnya.
Gambaran manfaat fleksibilitas itu sudah terlihat di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pembangkit berkapasitas 135 MW dengan 13 mesin dual-fuel Wärtsilä 34DF memasok hampir 40 persen kebutuhan listrik pulau tersebut. Sebagian kapasitasnya juga digunakan untuk menyeimbangkan jaringan.
Fleksibilitas pembangkit tersebut membantu sistem mengintegrasikan 20 MW PLTS, sekaligus menunjukkan bagaimana pembangkit yang dapat merespons cepat dapat berjalan berdampingan dengan energi terbarukan.
Menurut Frederic, dekarbonisasi tidak cukup dilakukan dengan mengganti satu jenis pembangkit dengan jenis lainnya. Energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi, dan pembangkit fleksibel harus dirancang sebagai satu sistem.
Pendekatan Wärtsilä menggabungkan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan energi, serta pembangkit mesin fleksibel untuk menjaga keseimbangan sistem. Portofolio mesinnya juga terus dikembangkan agar dapat menggunakan bahan bakar berkelanjutan ketika tersedia secara komersial dalam skala besar.
“Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan aspek ekonomi dan ketahanan sistem tenaga listrik Indonesia di masa depan,” tutur Frederic.
“Dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel, Indonesia dapat memperkuat keandalan jaringan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan mendukung perjalanan menuju target net-zero,” lanjutnya.
Di luar sistem jaringan utama, tantangan serupa muncul pada sistem off-grid. Director Decarbonisation Services, Christoffer Ek, mengatakan kombinasi energi terbarukan dan baterai saja tidak otomatis menjamin keandalan, keterjangkauan, serta keberlanjutan.
“Namun, solusinya bukan sekadar menambahkan tenaga surya dan baterai pada pembangkit berbasis mesin. Untuk mencapai ketiganya, dibutuhkan sistem manajemen energi yang canggih, seperti yang kami miliki, yang mampu mengintegrasikan seluruh aset pembangkitan dan mengoptimalkan sistem kelistrikan sebagai satu kesatuan,” ucap Christoffer.
Wärtsilä juga menawarkan layanan siklus hidup yang mencakup perjanjian layanan jangka panjang, peningkatan aset, layanan dekarbonisasi, penyediaan suku cadang, serta layanan lapangan untuk membantu pelanggan mengoptimalkan pembangkit yang sudah ada sekaligus menyiapkan jalur menuju emisi lebih rendah.
Di saat yang sama, pertumbuhan AI, cloud computing, dan layanan digital menciptakan tantangan baru. Pusat data membutuhkan daya besar dan terkonsentrasi, sementara lokasi yang dipilih pengembang belum tentu memiliki kapasitas jaringan yang siap dalam waktu sesuai jadwal pembangunan.
Akibatnya, pembangkitan listrik di lokasi atau onsite generation mulai menjadi salah satu opsi untuk mengatasi keterbatasan jaringan.
Wärtsilä melihat peluang tersebut juga berkembang di Asia, termasuk Indonesia. Pembangkit modular berbasis mesin gas dapat menyediakan pasokan utama di lokasi dengan jaringan terbatas dan kapasitasnya dapat ditambah mengikuti pertumbuhan kebutuhan pusat data.
Ketika koneksi jaringan akhirnya tersedia, aset tersebut tidak harus kehilangan fungsi. Pembangkit dapat dialihkan menjadi kapasitas penyeimbang atau peaking plant untuk membantu merespons perubahan pasokan dan permintaan listrik.
General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wärtsilä Energy, Patrik Farkas menerangkan, bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri.
“Para pengembang semakin menilai infrastruktur energi sebagai bagian strategis dari keputusan investasi mereka. Pembangkitan listrik onsite yang dapat diskalakan memungkinkan proyek berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas, sambil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan fungsi aset tersebut ketika sistem tenaga di sekitarnya berkembang,” ucap Patrik.
Wärtsilä menyebut telah menjual proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa. Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia dinilai sebagai pasar yang menawarkan peluang jangka menengah hingga panjang untuk solusi kelistrikan pusat data.
Febron melihat transisi energi dan pertumbuhan digital Indonesia kini bergerak bersamaan.
“Peluangnya terletak pada pengembangan infrastruktur yang mampu mendukung keduanya. Akses terhadap pasokan listrik yang andal dapat membuka investasi digital, sementara aset energi yang adaptif dapat terus memberikan nilai saat jaringan berkembang dan bauran pembangkitan berubah,” tutup Febron.
Enlit Asia x MKI Electricity Connect yang berlangsung 22–24 September 2026 di ICE BSD City mempertemukan lebih dari 11 ribu profesional dan lebih dari 280 peserta pameran internasional. Forum tersebut membahas tantangan ketahanan energi, dekarbonisasi, serta munculnya sumber permintaan listrik baru di Asia Tenggara.
Di ajang tersebut, Wärtsilä menampilkan teknologi sistem tenaga, solusi penyeimbang jaringan, dan layanan siklus hidup yang ditujukan untuk membantu Indonesia mengintegrasikan energi terbarukan dalam skala lebih besar, memenuhi pertumbuhan permintaan listrik, serta membangun sistem tenaga yang adaptif terhadap perubahan kebutuhan di masa depan. (her)















