INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan penerapan pembelajaran mendalam atau Deep Learning tidak sekadar berkaitan dengan perubahan metode mengajar. Lebih dari itu, pendekatan tersebut harus berangkat dari filosofi memuliakan murid dalam setiap proses pembelajaran.
Mu’ti mengatakan, transformasi pendidikan perlu dilakukan dari akar persoalan, yakni pendekatan pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas. Karena itu, Kemendikdasmen mendorong penerapan pembelajaran mendalam dengan mengedepankan pengalaman belajar yang berkesadaran (Mindful), bermakna (Meaningful), dan menyenangkan (Joyful).
“Kita ingin memperbaiki problematika pendidikan kita itu dari hulunya, yaitu dari pendekatan pembelajaran yang kita kembangkan, yang kita sebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam,” ujar Mu’ti dalam keterangan, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, prinsip Mindful, Meaningful, dan Joyful menempatkan pengalaman belajar murid sebagai pusat proses pendidikan. Kualitas proses pembelajaran menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan belajar.
Namun, Mu’ti menekankan terdapat hal yang lebih mendasar dibandingkan sekadar teknik atau metode pembelajaran. Hal tersebut adalah cara pandang pendidik terhadap murid.
“Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang ingin kita lakukan dengan prinsip dasar memuliakan. Kata kuncinya adalah memuliakan: memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu,” tegasnya.
Dia menjelaskan, pendekatan Deep Learning memiliki keterkaitan kuat dengan teori Information Processing yang menekankan pentingnya kualitas proses dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Karena itu, setiap murid harus dipandang sebagai individu yang memiliki nilai dan potensi.
“Di atas itu semua adalah sikap pandang kita dalam memandang setiap murid, murid itu harus kita muliakan apa pun kemampuan akademiknya, apa pun latar belakang ekonominya, apa pun latar belakang (lainnya) dalam Pembelajaran Mendalam itu,” jelas Mu’ti.(nas)


















