INDOPOSCO.ID – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat budaya inovasi dan berani melakukan terobosan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kampus diminta tidak terjebak pada prosedur administratif yang justru dapat menghambat kreativitas dan kemajuan institusi. “Kalau ingin berinovasi, jangan hanya melihat aturan. Kalau hanya melihat aturan, kita tidak akan menemukan inovasi. Perguruan tinggi harus berani melompat lebih jauh untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” tegas Fauzan dalam keterangan, Minggu (9/8/2026).
Menurut Fauzan, tantangan perguruan tinggi saat ini tidak sebatas memperluas akses pendidikan. Kampus juga harus memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Lulusan, kata dia, tidak cukup hanya mengantongi ijazah. Mereka harus memiliki keterampilan, daya saing, serta kemampuan menciptakan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
“Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus mendorong transformasi pendidikan tinggi melalui penguatan tridarma yang berdampak, peningkatan kolaborasi dengan industri, serta pengembangan budaya inovasi di lingkungan kampus,” katanya.
Fauzan menilai perguruan tinggi juga perlu melakukan terobosan akademik yang relevan dengan perkembangan zaman. Ukuran keberhasilan kampus tidak boleh hanya dilihat dari proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga dari kemampuan memastikan mahasiswa memiliki kompetensi yang dibutuhkan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Perguruan tinggi harus mampu memberikan kepastian dan harapan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengatakan semuanya tergantung mahasiswa, tetapi harus menyiapkan sistem yang membuat mahasiswa mampu lulus tepat waktu, mandiri, dan siap menghadapi dunia kerja,” ujarnya.
Dia mencontohkan berbagai inovasi akademik yang dapat dilakukan perguruan tinggi untuk mempercepat masa studi mahasiswa sekaligus meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja.
“Kami meminta kampus memberikan ruang lebih luas kepada mahasiswa berprestasi. Capaian mahasiswa, baik akademik maupun nonakademik, harus mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari proses pembelajaran,” terangnya.
Menurut dia, prestasi tersebut dapat memperkuat kompetensi sekaligus membentuk karakter mahasiswa. Karena itu, perguruan tinggi perlu memiliki sistem yang mampu mengakomodasi berbagai potensi dan capaian mahasiswa.
Lebih jauh, Fauzan menegaskan perguruan tinggi harus membumi dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tridarma perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada aktivitas akademik, tetapi harus memberikan dampak nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Kampus, lanjutnya, dapat berkontribusi dalam berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pangan, energi, kesehatan hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Keberhasilan perguruan tinggi dapat dilihat dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kehadiran dan kontribusi perguruan tinggi,” katanya. (nas)


















