INDOPOSCO.ID – Ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan listrik nasional mendorong PT PLN (Persero) memperkuat strategi pengamanan pasokan gas bumi dan Liquefied Natural Gas (LNG). Di tengah percepatan transisi energi, LNG dinilai akan menjadi energi penyeimbang yang berperan penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN (Persero) sekaligus Pelaksana Harian Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Rakhmad Dewanto, saat menjadi pembicara dalam The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, kebutuhan listrik Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan sektor industri, elektrifikasi transportasi, berkembangnya kawasan ekonomi baru, serta pesatnya pembangunan pusat data (data center). Dalam lima tahun ke depan, pusat data diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan listrik hingga 15 gigawatt (GW).
“Permintaan listrik Indonesia akan terus meningkat. Karena itu kita membutuhkan pasokan energi yang aman, andal, dan fleksibel. Dalam konteks tersebut, gas tidak hanya berperan sebagai energi transisi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional,” ujarnya.
Rakhmad menjelaskan, kebutuhan energi primer nasional diproyeksikan tumbuh sekitar 2 persen per tahun, sedangkan permintaan listrik meningkat lebih tinggi, yakni 4,6-5,4 persen per tahun. Kondisi tersebut menuntut ketersediaan pasokan gas dan LNG yang makin andal guna menjaga fleksibilitas sistem tenaga listrik sekaligus mendukung peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT).
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, produksi listrik nasional diperkirakan meningkat dari 304,4 terawatt hour (TWh) menjadi 584,3 TWh. Dalam periode yang sama, porsi pembangkit berbahan bakar batu bara diproyeksikan turun menjadi sekitar 47 persen, sementara kontribusi pembangkit energi baru terbarukan meningkat hingga 33 persen.
Dalam bauran energi tersebut, LNG akan memegang peran sebagai balancing fuel atau energi penyeimbang yang menjaga stabilitas sistem ketika pembangkit berbasis surya dan angin mengalami fluktuasi produksi.
PLN memproyeksikan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik nasional akan meningkat rata-rata 4,5 persen per tahun, dari 1.748 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD) pada 2026 menjadi hampir 2.490 BBTUD pada 2034. Seiring pertumbuhan tersebut, kontribusi LNG dalam pasokan gas PLN diperkirakan naik dari 57 persen menjadi 67 persen, mempertegas posisinya sebagai salah satu tulang punggung sistem kelistrikan nasional.
Untuk menjamin keandalan pasokan, PLN EPI telah memperkuat kontrak gas dan LNG jangka panjang dengan sejumlah mitra strategis, antara lain West Natuna Exploration Limited (WNEL), Mubadala Energy, INPEX, dan South Hub. Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD serta kontrak LNG lebih dari 49 juta ton, sehingga memberikan kepastian pasokan energi primer dalam jangka panjang.
Selain itu, PLN juga mempercepat pembangunan infrastruktur LNG nasional melalui pengembangan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Cilegon, pembangunan klaster gasifikasi di Indonesia Timur, serta peningkatan kapasitas penyimpanan LNG nasional menjadi sekitar 1,2 juta meter kubik dengan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD.
Pengembangan infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan fleksibilitas distribusi LNG, memperkuat rantai pasok energi nasional, sekaligus meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan menghadapi dinamika geopolitik global.
“Kita tetap mendorong peningkatan energi baru dan terbarukan. Namun sistem kelistrikan juga harus tetap andal. Di sinilah gas memiliki peran strategis untuk menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan,” kata Rakhmad.
Melalui penguatan kontrak pasokan jangka panjang, percepatan pembangunan infrastruktur LNG, serta diversifikasi sumber energi primer, PLN terus membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, fleksibel, dan berkelanjutan. Strategi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan energi nasional, mempercepat integrasi energi baru terbarukan, sekaligus mendukung implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia.(rmn)


















