• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Membaca Pesan Besar dari Sambutan Milad Perak Forum Betawi Rempug

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:13
in Megapolitan
Usni-Hasanudin
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Usni Hasanudin, Kaprodi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ

Ada pidato yang selesai ketika tepuk tangan berhenti. Namun, ada pula pidato yang justru memulai percakapan baru tentang masa depan. Saya menempatkan sambutan Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH. Lutfi Hakim, pada Milad ke-25 FBR dalam kategori yang kedua.

BacaJuga:

Dibimbing Senior Pers, Peserta Asal Aceh Ungkap Pelajaran Berharga UKW INDOPOSCO

Pasca OTT KPK , Kantah Kota Bogor 1 Pastikan Pelayanan Tetap Normal dan Buka Akhir Pekan

Wali Kota New York Dukung Rencana Pramono Terbitkan Obligasi

Di balik tema Merawat Akar, Merajut Masa Depan”, saya menangkap sebuah pesan yang jauh melampaui batas organisasi. Sambutan itu sesungguhnya mengajukan pertanyaan mendasar kepada kita semua: mampukah Jakarta menjadi kota global tanpa memuliakan akar budayanya sendiri?

Pandangan itu tidak lahir dalam ruang hampa. Saya pertama kali mengenal KH. Lutfi Hakim pada Sarasehan Kebudayaan Betawi di sebuah hotel di Jakarta pada tahun 2022. Pertemuan tersebut berlangsung pada momentum yang sangat menentukan perjalanan masyarakat Betawi. Saat itu, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi tengah menghadapi dinamika dua kepemimpinan. Pada saat yang sama, Pemerintah Presiden Joko Widodo sedang mempersiapkan transformasi besar melalui kebijakan pemindahan Ibu Kota Negara yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.

Bagi saya, kedua momentum itu saling bertemu dalam satu persimpangan sejarah. Ketika Jakarta sedang menata masa depannya sebagai kota global, masyarakat Betawi justru dihadapkan pada tantangan konsolidasi internal. Dalam forum itulah saya mendengar kegelisahan KH. Lutfi Hakim yang hingga kini masih saya ingat: jangan sampai masyarakat Betawi sibuk memperdebatkan siapa yang mewakili Betawi, tetapi terlambat memperjuangkan posisi Betawi dalam desain besar masa depan Jakarta.

Selepas pertemuan di hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta itu, komunikasi kami terus berlanjut. Saya bersama KH. Lutfi Hakim, Bang Beky Mardani selaku Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi, serta rekan-rekan di Kaukus Muda Betawi mengawal, merumuskan, dan memperjuangkan berbagai gagasan agar kepentingan kebudayaan Betawi memperoleh tempat yang layak dalam perubahan regulasi Jakarta. Berbagai forum akademik, diskusi kebijakan, penyusunan naskah konseptual, hingga dialog dengan para pemangku kepentingan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Ikhtiar itu tidak mungkin berlangsung tanpa dukungan banyak tokoh. Saya masih mengingat bagaimana Babeh Dedy Syukur dan Babeh Nachrowi Ramli berkali-kali membuka ruang, menyediakan tempat, dan memfasilitasi diskusi yang mempertemukan ulama, budayawan, akademisi, aktivis, dan organisasi-organisasi Betawi. Dalam forum-forum itu, pemikiran KH. Lukman Hakim Hamid memperkaya perspektif keislaman dan kebangsaan, sementara Prof. Agus Suradika memberikan landasan akademik mengenai kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan kebudayaan. Dari ruang-ruang diskusi itulah saya belajar bahwa perjuangan kebudayaan tidak pernah lahir dari satu tokoh atau satu organisasi, melainkan dari gotong royong gagasan dan kesediaan menempatkan kepentingan Betawi di atas kepentingan kelompok.

Karena itu, ketika saya mendengar kembali sambutan KH. Lutfi Hakim pada Milad Perak FBR, saya menemukan benang merah yang sama dengan percakapan kami empat tahun lalu. Yang berubah hanyalah momentum. Substansinya tetap sama: memastikan kebudayaan Betawi menjadi fondasi pembangunan Jakarta.

Apa yang paling menarik dari sambutan tersebut adalah cara memaknai Betawi. Betawi tidak ditempatkan sekadar sebagai identitas etnis, tetapi sebagai kumpulan nilai yang membentuk karakter Jakarta: keramahan, penghormatan kepada ulama, keberanian membela kebenaran, gotong royong, dan keterbukaan kepada siapa pun yang datang. Dalam perspektif itu, menjadi Betawi bukan semata persoalan keturunan, melainkan komitmen menjaga nilai-nilai yang membentuk peradaban Jakarta.

Karena itu pula, saya tidak membaca sambutan tersebut sebagai penolakan terhadap globalisasi. Sebaliknya, sambutan itu mengakui bahwa Betawi lahir dari perjumpaan berbagai budaya. Yang dipersoalkan bukanlah globalisasi, melainkan kemungkinan tercerabutnya akar budaya apabila pembangunan hanya diukur dari investasi, gedung pencakar langit, dan pertumbuhan ekonomi. Sebuah kota memang dapat dibangun dengan beton, tetapi sebuah peradaban hanya dapat dibangun dengan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Di sinilah saya melihat urgensi Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Dalam sambutannya dijelaskan bahwa regulasi tersebut telah melalui proses akademik dan harmonisasi hukum. Pergub itu diproyeksikan bukan hanya menjadi payung hukum bagi kelembagaan adat, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi, perlindungan sanggar budaya, penguatan para seniman, budayawan, pesilat, guru ngaji, hingga pembukaan peluang ekonomi bagi generasi muda Betawi. Dengan kata lain, kebudayaan diposisikan sebagai modal pembangunan, bukan sekadar simbol identitas.

Pada titik inilah saya memandang sambutan Milad Perak FBR memiliki relevansi yang jauh melampaui peringatan ulang tahun organisasi. Sambutan tersebut sesungguhnya mengingatkan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta bahwa amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tidak boleh berhenti sebagai norma hukum. Amanat itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang hidup, memberikan manfaat nyata, dan menghadirkan perlindungan yang berkelanjutan bagi kebudayaan Betawi.

Karena itu, Peraturan Gubernur tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi memiliki arti yang jauh lebih strategis daripada sekadar pembentukan sebuah lembaga. Pergub tersebut merupakan instrumen cultural governance yang akan menentukan bagaimana pemerintah mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan, memperkuat pendidikan budaya, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, serta memastikan masyarakat Betawi menjadi pelaku utama dalam pembangunan kebudayaan Jakarta. Dengan demikian, Pergub ini merupakan salah satu batu uji awal keseriusan Pemerintah Daerah Khusus Jakarta dalam menerjemahkan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 ke dalam kebijakan yang nyata.

Yang juga menarik perhatian saya adalah keberanian sambutan tersebut melakukan refleksi ke dalam. Hambatan terhadap lahirnya regulasi itu, menurut sambutan tersebut, sebagian justru muncul dari dinamika internal masyarakat Betawi sendiri. Saya membaca bagian ini bukan sebagai upaya mencari siapa yang salah, melainkan sebagai ajakan untuk mengakhiri ego sektoral. Terlalu banyak energi dihabiskan dalam perdebatan mengenai representasi dan kepemimpinan, sementara substansi perjuangan justru tertunda. Padahal, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras berbicara. Sejarah akan mengingat siapa yang berhasil meninggalkan warisan kelembagaan yang menjaga kebudayaan tetap hidup lintas generasi.

Menjelang lima abad Jakarta, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi siapa yang paling berhak berbicara atas nama Betawi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kita memiliki keberanian politik untuk memuliakan kebudayaan Betawi sebagai fondasi pembangunan Jakarta.

Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung pencakar langit, dan investasi. Sebuah kota dibangun oleh ingatan kolektif, nilai-nilai yang diwariskan, dan kebudayaan yang dimuliakan.

Sambutan Milad Perak FBR mengingatkan kita akan hal itu. Dan bagi saya, pesan tersebut patut didengar bukan semata-mata karena disampaikan oleh Ketua Umum FBR, tetapi karena ia berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada organisasi itu sendiri: masa depan Jakarta.

Jika Jakarta benar-benar ingin berdiri sejajar dengan kota-kota dunia, maka keberanian terbesarnya bukan hanya membangun infrastruktur kelas dunia, melainkan memastikan bahwa pembangunan itu tetap berpijak pada akar budayanya. Sebab kota global yang benar-benar besar bukanlah kota yang melupakan asal-usulnya, melainkan kota yang menjadikan identitas lokal sebagai sumber kekuatan peradaban.

Dalam konteks Jakarta, identitas itu bernama Betawi.*

Tags: budaya betawifbrMilad ke-25 FBRMilad Perak FBRusni hasanudin

Berita Terkait.

ukww
Megapolitan

Dibimbing Senior Pers, Peserta Asal Aceh Ungkap Pelajaran Berharga UKW INDOPOSCO

Senin, 21 September 2026 - 20:29
wendi
Megapolitan

Pasca OTT KPK , Kantah Kota Bogor 1 Pastikan Pelayanan Tetap Normal dan Buka Akhir Pekan

Senin, 21 September 2026 - 18:04
Wali Kota New York Dukung Rencana Pramono Terbitkan Obligasi
Megapolitan

Wali Kota New York Dukung Rencana Pramono Terbitkan Obligasi

Senin, 21 September 2026 - 14:08
Pelayanan Pertanahan di Kabupaten Bogor Tetap Berjalan Pascapenangkapan Kepala BPN
Megapolitan

Pelayanan Pertanahan di Kabupaten Bogor Tetap Berjalan Pascapenangkapan Kepala BPN

Senin, 21 September 2026 - 13:58
Produksi 1.250 Ton per Hari, Pabrik RDF Bekasi Ditargetkan Beroperasi Januari 2027
Megapolitan

Produksi 1.250 Ton per Hari, Pabrik RDF Bekasi Ditargetkan Beroperasi Januari 2027

Senin, 21 September 2026 - 12:23
Pakar: Karhutla Kejahatan Serius, Sanksi Pelaku Harus Diperkuat
Megapolitan

Pramono Bertemu Wali Kota New York: Bahas Macet, Banjir hingga Giant Sea Wall

Senin, 21 September 2026 - 11:41

OLAHRAGA

ole
Olahraga

Ole dan Paes Tiba di Jakarta, Siap Bela Garuda di FIFA ASEAN Cup 2026

Editor Dilianto
Senin, 21 September 2026 - 20:12

INDOPOSCO.ID - Penyerang Timnas Indonesia Ole Romeny dan penjaga gawang Maarten Paes sudah berada di Jakarta pada Senin (21/9/2026). Kehadiran...

SelengkapnyaDetails
Darurat Evaluasi Wasit Usia Dini: Ketika Peluit Membunuh Kompas Moral dan Mental Anak

Darurat Evaluasi Wasit Usia Dini: Ketika Peluit Membunuh Kompas Moral dan Mental Anak

Minggu, 20 September 2026 - 20:05
persib

Persijap vs Persib: Maung Bandung Bidik Revans, Laskar Kalinyamat Siap Tunjukkan Karakter

Minggu, 20 September 2026 - 12:38
pss

Dewa United vs PSS: Banten Warriors Kantongi Bekal Pramusim dan Filosofi Permainan

Minggu, 20 September 2026 - 11:21
borneo

Borneo FC vs Bali United: Pesut Etam Dituntut Bangkit

Minggu, 20 September 2026 - 10:30

BERITA POPULER

  • sudaryono

    Tuding Guru dan Media ‘Goreng’ Isu Keracunan MBG, Kepala BGN Didesak Mundur

    5538 shares
    Share 2215 Tweet 1385
  • Dilema Revitalisasi Sekolah di Lebak: Terima Bantuan, Kepala Sekolah Malah Tertekan

    1246 shares
    Share 498 Tweet 312
  • Ekonom Sebut Pencopotan Purbaya Hanya Berdampak Sesaat terhadap Rupiah

    1165 shares
    Share 466 Tweet 291
  • Komisi I Soroti Tanggung Jawab Vendor Asing dalam RUU KKS

    1044 shares
    Share 418 Tweet 261
  • Kementerian ATR/BPN Tancap Gas Kejar Target Sertipikasi 3 Juta Bidang Tanah MBR di 2027

    965 shares
    Share 386 Tweet 241
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.