• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Membaca Pesan Besar dari Sambutan Milad Perak Forum Betawi Rempug

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:13
in Megapolitan
Usni-Hasanudin
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Usni Hasanudin, Kaprodi Magister Ilmu Politik FISIP UMJ

Ada pidato yang selesai ketika tepuk tangan berhenti. Namun, ada pula pidato yang justru memulai percakapan baru tentang masa depan. Saya menempatkan sambutan Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR), KH. Lutfi Hakim, pada Milad ke-25 FBR dalam kategori yang kedua.

BacaJuga:

Amankan Zikir Kebangsaan, Polda Metro Kerahkan 7.643 Personel Aparat Gabungan

Minta Pagar Besi Mal Dilepas, Pramono: Jangan Khawatir Berlebihan

Hotel Pullman Central Park Kebakaran, 14 Mobil Damkar Dikerahkan

Di balik tema Merawat Akar, Merajut Masa Depan”, saya menangkap sebuah pesan yang jauh melampaui batas organisasi. Sambutan itu sesungguhnya mengajukan pertanyaan mendasar kepada kita semua: mampukah Jakarta menjadi kota global tanpa memuliakan akar budayanya sendiri?

Pandangan itu tidak lahir dalam ruang hampa. Saya pertama kali mengenal KH. Lutfi Hakim pada Sarasehan Kebudayaan Betawi di sebuah hotel di Jakarta pada tahun 2022. Pertemuan tersebut berlangsung pada momentum yang sangat menentukan perjalanan masyarakat Betawi. Saat itu, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi tengah menghadapi dinamika dua kepemimpinan. Pada saat yang sama, Pemerintah Presiden Joko Widodo sedang mempersiapkan transformasi besar melalui kebijakan pemindahan Ibu Kota Negara yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.

Bagi saya, kedua momentum itu saling bertemu dalam satu persimpangan sejarah. Ketika Jakarta sedang menata masa depannya sebagai kota global, masyarakat Betawi justru dihadapkan pada tantangan konsolidasi internal. Dalam forum itulah saya mendengar kegelisahan KH. Lutfi Hakim yang hingga kini masih saya ingat: jangan sampai masyarakat Betawi sibuk memperdebatkan siapa yang mewakili Betawi, tetapi terlambat memperjuangkan posisi Betawi dalam desain besar masa depan Jakarta.

Selepas pertemuan di hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta itu, komunikasi kami terus berlanjut. Saya bersama KH. Lutfi Hakim, Bang Beky Mardani selaku Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi, serta rekan-rekan di Kaukus Muda Betawi mengawal, merumuskan, dan memperjuangkan berbagai gagasan agar kepentingan kebudayaan Betawi memperoleh tempat yang layak dalam perubahan regulasi Jakarta. Berbagai forum akademik, diskusi kebijakan, penyusunan naskah konseptual, hingga dialog dengan para pemangku kepentingan menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Ikhtiar itu tidak mungkin berlangsung tanpa dukungan banyak tokoh. Saya masih mengingat bagaimana Babeh Dedy Syukur dan Babeh Nachrowi Ramli berkali-kali membuka ruang, menyediakan tempat, dan memfasilitasi diskusi yang mempertemukan ulama, budayawan, akademisi, aktivis, dan organisasi-organisasi Betawi. Dalam forum-forum itu, pemikiran KH. Lukman Hakim Hamid memperkaya perspektif keislaman dan kebangsaan, sementara Prof. Agus Suradika memberikan landasan akademik mengenai kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan kebudayaan. Dari ruang-ruang diskusi itulah saya belajar bahwa perjuangan kebudayaan tidak pernah lahir dari satu tokoh atau satu organisasi, melainkan dari gotong royong gagasan dan kesediaan menempatkan kepentingan Betawi di atas kepentingan kelompok.

Karena itu, ketika saya mendengar kembali sambutan KH. Lutfi Hakim pada Milad Perak FBR, saya menemukan benang merah yang sama dengan percakapan kami empat tahun lalu. Yang berubah hanyalah momentum. Substansinya tetap sama: memastikan kebudayaan Betawi menjadi fondasi pembangunan Jakarta.

Apa yang paling menarik dari sambutan tersebut adalah cara memaknai Betawi. Betawi tidak ditempatkan sekadar sebagai identitas etnis, tetapi sebagai kumpulan nilai yang membentuk karakter Jakarta: keramahan, penghormatan kepada ulama, keberanian membela kebenaran, gotong royong, dan keterbukaan kepada siapa pun yang datang. Dalam perspektif itu, menjadi Betawi bukan semata persoalan keturunan, melainkan komitmen menjaga nilai-nilai yang membentuk peradaban Jakarta.

Karena itu pula, saya tidak membaca sambutan tersebut sebagai penolakan terhadap globalisasi. Sebaliknya, sambutan itu mengakui bahwa Betawi lahir dari perjumpaan berbagai budaya. Yang dipersoalkan bukanlah globalisasi, melainkan kemungkinan tercerabutnya akar budaya apabila pembangunan hanya diukur dari investasi, gedung pencakar langit, dan pertumbuhan ekonomi. Sebuah kota memang dapat dibangun dengan beton, tetapi sebuah peradaban hanya dapat dibangun dengan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Di sinilah saya melihat urgensi Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Dalam sambutannya dijelaskan bahwa regulasi tersebut telah melalui proses akademik dan harmonisasi hukum. Pergub itu diproyeksikan bukan hanya menjadi payung hukum bagi kelembagaan adat, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi, perlindungan sanggar budaya, penguatan para seniman, budayawan, pesilat, guru ngaji, hingga pembukaan peluang ekonomi bagi generasi muda Betawi. Dengan kata lain, kebudayaan diposisikan sebagai modal pembangunan, bukan sekadar simbol identitas.

Pada titik inilah saya memandang sambutan Milad Perak FBR memiliki relevansi yang jauh melampaui peringatan ulang tahun organisasi. Sambutan tersebut sesungguhnya mengingatkan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta bahwa amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tidak boleh berhenti sebagai norma hukum. Amanat itu harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang hidup, memberikan manfaat nyata, dan menghadirkan perlindungan yang berkelanjutan bagi kebudayaan Betawi.

Karena itu, Peraturan Gubernur tentang Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi memiliki arti yang jauh lebih strategis daripada sekadar pembentukan sebuah lembaga. Pergub tersebut merupakan instrumen cultural governance yang akan menentukan bagaimana pemerintah mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan, memperkuat pendidikan budaya, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, serta memastikan masyarakat Betawi menjadi pelaku utama dalam pembangunan kebudayaan Jakarta. Dengan demikian, Pergub ini merupakan salah satu batu uji awal keseriusan Pemerintah Daerah Khusus Jakarta dalam menerjemahkan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 ke dalam kebijakan yang nyata.

Yang juga menarik perhatian saya adalah keberanian sambutan tersebut melakukan refleksi ke dalam. Hambatan terhadap lahirnya regulasi itu, menurut sambutan tersebut, sebagian justru muncul dari dinamika internal masyarakat Betawi sendiri. Saya membaca bagian ini bukan sebagai upaya mencari siapa yang salah, melainkan sebagai ajakan untuk mengakhiri ego sektoral. Terlalu banyak energi dihabiskan dalam perdebatan mengenai representasi dan kepemimpinan, sementara substansi perjuangan justru tertunda. Padahal, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras berbicara. Sejarah akan mengingat siapa yang berhasil meninggalkan warisan kelembagaan yang menjaga kebudayaan tetap hidup lintas generasi.

Menjelang lima abad Jakarta, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi siapa yang paling berhak berbicara atas nama Betawi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kita memiliki keberanian politik untuk memuliakan kebudayaan Betawi sebagai fondasi pembangunan Jakarta.

Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung pencakar langit, dan investasi. Sebuah kota dibangun oleh ingatan kolektif, nilai-nilai yang diwariskan, dan kebudayaan yang dimuliakan.

Sambutan Milad Perak FBR mengingatkan kita akan hal itu. Dan bagi saya, pesan tersebut patut didengar bukan semata-mata karena disampaikan oleh Ketua Umum FBR, tetapi karena ia berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada organisasi itu sendiri: masa depan Jakarta.

Jika Jakarta benar-benar ingin berdiri sejajar dengan kota-kota dunia, maka keberanian terbesarnya bukan hanya membangun infrastruktur kelas dunia, melainkan memastikan bahwa pembangunan itu tetap berpijak pada akar budayanya. Sebab kota global yang benar-benar besar bukanlah kota yang melupakan asal-usulnya, melainkan kota yang menjadikan identitas lokal sebagai sumber kekuatan peradaban.

Dalam konteks Jakarta, identitas itu bernama Betawi.*

Tags: budaya betawifbrMilad ke-25 FBRMilad Perak FBRusni hasanudin

Berita Terkait.

Apel
Megapolitan

Amankan Zikir Kebangsaan, Polda Metro Kerahkan 7.643 Personel Aparat Gabungan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:31
pram
Megapolitan

Minta Pagar Besi Mal Dilepas, Pramono: Jangan Khawatir Berlebihan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:13
pullman
Megapolitan

Hotel Pullman Central Park Kebakaran, 14 Mobil Damkar Dikerahkan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:58
Berawan
Megapolitan

Akhir Pekan Ini Cuaca di Jakarta Cenderung Cerah Berawan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 08:13
pram
Megapolitan

Pramono Ajak Legislatif Bergerak Bersama, Jakarta Siapkan Lompatan Menuju Kota Global

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:09
grogol
Megapolitan

Polisi Tangkap Pelaku Pembunuhan Perempuan di Indekos Grogol Petamburan

Kamis, 30 Juli 2026 - 18:08

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    2071 shares
    Share 828 Tweet 518
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    2042 shares
    Share 817 Tweet 511
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    1038 shares
    Share 415 Tweet 260
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3152 shares
    Share 1261 Tweet 788
  • Sertifikasi Mutu KKP Dorong Belut Kalimantan Tembus Pasar Global

    820 shares
    Share 328 Tweet 205
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.