INDOPOSCO.ID – Transformasi digital di sektor jasa keuangan menuntut hadirnya sumber daya manusia yang adaptif, menguasai teknologi, sekaligus berintegritas. Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Banking School, Prof. Dana S. Saroso mengatakan, digitalisasi telah mengubah wajah industri jasa keuangan secara fundamental sehingga kebutuhan terhadap talenta berkualitas semakin besar.
“Transformasi digital telah mengubah wajah industri jasa keuangan secara fundamental. Oleh karena itu, Indonesia Banking School (IBS) berkomitmen menyiapkan talenta yang mampu menjawab tantangan tersebut melalui pendidikan yang relevan, adaptif, dan berbasis kompetensi,” ujar Dana di sela-sela wisuda XIX yang mengusung tema “Transformasi Talenta Perbankan Menuju Ekosistem Keuangan Digital Inklusif sebagai Pilar Penguatan Ekonomi Indonesia” di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Menurut dia, IBS ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang memperkuat ekosistem keuangan digital Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
“Pada prosesi kali ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 22 tahun perjalanan IBS sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada bidang perbankan, keuangan, bisnis, dan ekonomi digital,” tuturnya.
Menurutnya, memasuki usia ke-22 tahun, IBS terus memperkuat kurikulum berbasis kebutuhan industri, pengembangan kompetensi digital, sertifikasi profesi, pemanfaatan teknologi pembelajaran. Dan, memperluas kolaborasi dengan regulator, industri jasa keuangan serta perguruan tinggi internasional.
Dalam upaya memperkuat internasionalisasi, lanjutnya, IBS telah menjalin kemitraan dengan FHNW–University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland, Tshwane University of Technology Afrika Selatan, Vasile Alecsandri University of Bacău Rumania, serta Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
“Kerja sama ini meliputi riset bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, hingga kuliah tamu internasional,” bebernya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala LLDIKTI Wilayah III DKI Jakarta Henri Togar Hasiholan Tambunan menuturkan, tema wisuda XIX IBS relevan dengan kondisi saat ini. Transformasi industri perbankan berubah drastis. “Dulu pembukaan cabang terus dilakukan, hari ini beralih di layar cerdas. Dan teller digantian aplikasi,” ujar Henri.
Kendati demikian, dikatakan dia tingkat kepatuhan masyarakat meningkat tajam di tengah pesatnya transformasi digital keuangan. Untuk itu lulusan perguruan tinggi, menurutnya, dituntut lincah di tengah distrupsi digital.
“Perguruan tinggi tidak bisa hanya menyampaikan teori di kelas. Tetapi harus bisa memberikan solusi nyata kepada masyarakat. Dengan menghasilkan talenta dengan ilmu berdampak pada pengelolaan ekonomi,” ujarnya.
Hal yang sama diungkapkan Direktur Eksekutif Sumber Daya Manusia (SDM) dan Administrasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Samsu Adi Nugroho. Dia mengatakan, dunia keuangan saat ini dikuasai digital. Oleh karena itu kepercayaan menjadi modal utama pengelolaan keuangan.
“Ada Rp90 ribu triliun uang yang dititipkan di lembah perbankan. Dan untuk itu dibutuhkan talenta-talenta yang bisa membangun kepercayaan di era digital saat ini,” katanya.
Sementara itu, Kepala PPATK Ivan Yustiavandana mengungkapkan, mengungkapkan, kasus judi online (Judol) menjadi fenomena saat ini. Sedikitnya ada perputaran uang Rp36 triliun di sana. “Para lulusan perguruan tinggi harus menjadi garda terdepan penjaga sistem keuangan,” katanya.
Karena, menurutnya, 45 persen aplikasi lembaga perbankan digunakan para pengelola Judol. Selain itu beberapa sarana digital keuangan pun digunakan mereka.
“Dengan banyaknya aduan masyarakat ini mencerminkan keresahan sosial. Dan fungsi kami melakukan pengawasan dan pencegahan,” ucapnya.(nas)


















