INDOPOSCO.ID – PLN Nusantara Power (PLN NP) terus memperkuat langkah transisi energi melalui pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pendamping batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Strategi cofiring yang dijalankan perusahaan menunjukkan perkembangan positif sepanjang semester I 2026, baik dari sisi produksi energi bersih maupun pengurangan emisi karbon.
Hingga akhir Juni 2026, implementasi cofiring biomassa di sejumlah pembangkit PLN NP berhasil menghasilkan energi hijau mencapai 490,5 Gigawatt hour (GWh). Di saat yang sama, program tersebut mampu menekan emisi karbon hingga 590,9 ribu ton CO2e, memperkuat kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, mengatakan pemanfaatan cofiring menjadi salah satu solusi transisi energi yang dapat diterapkan secara bertahap tanpa harus membangun pembangkit baru.
“Melalui program cofiring biomassa, PLN Nusantara Power berupaya mengoptimalkan aset pembangkit eksisting agar dapat menghasilkan energi yang lebih bersih tanpa mengurangi keandalan sistem kelistrikan. Program ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung percepatan transisi energi nasional,” ungkap Ruly dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Teknologi cofiring dilakukan dengan mencampurkan biomassa ke dalam bahan bakar batu bara yang digunakan PLTU. Pendekatan ini dinilai efektif untuk mengurangi konsumsi energi fosil sekaligus menekan emisi gas rumah kaca, tanpa memerlukan perubahan besar pada fasilitas pembangkit yang telah beroperasi.
Kinerja pada enam bulan pertama tahun ini juga menjadi kelanjutan dari pencapaian sepanjang 2025. Tahun lalu, PLN NP telah mengimplementasikan cofiring secara komersial di 25 PLTU, dengan produksi energi hijau mencapai 1.041 GWh. Program tersebut juga berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon sebesar 1,17 juta ton CO2e, menegaskan peran cofiring sebagai salah satu instrumen penting dalam memperbesar bauran energi bersih nasional.
Menurut Ruly, keberhasilan implementasi di puluhan PLTU membuktikan bahwa proses transformasi menuju pembangkit rendah emisi dapat dilakukan secara bertahap tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik.
“Penerapan cofiring pada 25 PLTU menjadi bukti bahwa transformasi menuju sistem pembangkitan rendah emisi dapat dilaksanakan secara terukur, dengan tetap menjaga kontinuitas dan keandalan pasokan listrik kepada masyarakat,” ujarnya.
Selain memberikan manfaat lingkungan, pengembangan cofiring biomassa juga menghadirkan dampak ekonomi bagi daerah. Kebutuhan biomassa membuka peluang tumbuhnya rantai pasok baru yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, hingga mitra lokal dalam penyediaan bahan baku.
Sumber biomassa yang dimanfaatkan berasal dari berbagai potensi lokal, mulai dari limbah pertanian, hasil samping perkebunan dan kehutanan, hingga limbah organik yang dapat diolah menjadi bahan bakar pembangkit. Pemanfaatan sumber daya tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan, tetapi juga memperkuat penerapan konsep ekonomi sirkular.
Ruly menambahkan, capaian semester pertama tahun ini menjadi fondasi untuk meningkatkan kontribusi PLN NP dalam menghadirkan pembangkit listrik yang semakin ramah lingkungan.
“Produksi energi hijau sebesar 490,5 GWh pada semester pertama tahun 2026 menjadi modal penting untuk terus meningkatkan kontribusi PLN NP dalam menghadirkan pembangkitan yang lebih ramah lingkungan. Kami akan terus memperkuat implementasi cofiring dengan memastikan aspek keandalan, efisiensi, dan keberlanjutan rantai pasok biomassa,” tuturnya.
Ke depan, PLN Nusantara Power menargetkan penguatan implementasi cofiring melalui berbagai inovasi di sektor pembangkitan serta kolaborasi yang lebih luas dengan para pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem biomassa yang berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung transformasi sektor ketenagalistrikan nasional sekaligus mempercepat pencapaian target Net Zero Emissions Indonesia.(her)


















