• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

50 Tahun Lembaga Kebudayaan Betawi dan Paradoks Pembangunan Jakarta

Usni Hasanudin, Kaukus Muda Betawi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 17 Juli 2026 - 17:09
in Megapolitan
KMB
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Lima puluh tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum untuk melakukan refleksi. Bagi Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), usia emas ini menjadi kesempatan untuk menilai kembali sejauh mana perjuangan menjaga identitas budaya Betawi mampu berjalan beriringan dengan laju pembangunan Jakarta.

Pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya apakah budaya Betawi masih hidup, tetapi juga apakah pembangunan Jakarta benar-benar memberi ruang bagi kebudayaan yang menjadi akar sejarah kota ini. Lebih jauh lagi, apakah LKB sebagai organisasi kebudayaan tertua Betawi masih mampu menjawab tantangan zaman, atau justru ikut terjebak dalam paradoks pembangunan Jakarta itu sendiri.

BacaJuga:

Cegah Balap Liar, JLNT Antasari Dipasang Portal 14 November

Pramono Kukuhkan Duta Antihoaks 2026, Penggerak Perubahan Perilaku Digital

Pramono Minta Perang Lawan Narkoba di Jakarta Tak “Anget-anget Tahi Ayam”

Selama lebih dari lima dekade, Jakarta berkembang menjadi metropolitan sekaligus pusat pemerintahan, ekonomi, dan investasi nasional. Gedung pencakar langit, jaringan transportasi modern, kawasan bisnis baru, dan berbagai proyek strategis menjadi simbol kemajuan yang terus dibanggakan. Namun, di balik capaian tersebut tersimpan sebuah paradoks. Semakin modern Jakarta, semakin menyusut ruang hidup masyarakat Betawi sebagai penduduk asli kota ini.

Paradoks itu tampak dari hilangnya kampung-kampung Betawi akibat tekanan urbanisasi, kenaikan harga tanah, dan perubahan tata ruang yang lebih berpihak pada investasi daripada pelestarian komunitas. Banyak keluarga Betawi berpindah ke wilayah penyangga karena tidak lagi mampu bertahan di tanah leluhurnya. Bersamaan dengan itu, berbagai ekspresi budaya seperti lenong, gambang kromong, rebana biang, hingga tradisi lisan semakin kehilangan ruang hidup. Budaya Betawi lebih sering tampil sebagai ornamen dalam seremoni pemerintahan daripada menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta.

Dalam situasi seperti ini, keberadaan LKB seharusnya menjadi semakin strategis. Selama lima dekade, lembaga ini telah berjasa mengonsolidasikan para budayawan, seniman, dan pegiat budaya Betawi. Berbagai festival, dokumentasi, pembinaan sanggar, hingga advokasi kebijakan budaya merupakan kontribusi yang tidak dapat diabaikan. Tanpa LKB, mungkin sebagian warisan budaya Betawi telah lebih dahulu tergerus oleh arus modernisasi.

Namun, memasuki usia lima puluh tahun, LKB tidak cukup hanya merayakan sejarah panjangnya. Sebuah organisasi yang telah matang justru dituntut memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kritik terhadap LKB semakin sering terdengar. Sebagian kalangan memandang organisasi ini cenderung eksklusif, kurang membuka ruang bagi gagasan baru, dan belum sepenuhnya menjadi rumah bersama bagi seluruh ekosistem kebudayaan Betawi.

Kesan tersebut tentu tidak muncul begitu saja. Banyak komunitas budaya independen, akademisi, pegiat seni muda, hingga kreator digital merasa hubungan mereka dengan LKB belum terbangun secara organik. Ruang dialog masih terbatas, regenerasi berjalan lambat, dan kepemimpinan organisasi dipersepsikan lebih banyak berputar di lingkaran yang sama. Akibatnya, LKB kerap dipandang lebih sebagai penjaga legitimasi budaya daripada sebagai motor inovasi kebudayaan.

Padahal, sejarah Betawi justru dibangun oleh keterbukaan. Identitas Betawi lahir dari perjumpaan berbagai etnis, agama, bahasa, dan tradisi yang kemudian melahirkan karakter masyarakat yang adaptif dan inklusif. Karena itu, apabila organisasi kebudayaan menjadi tertutup terhadap kritik dan partisipasi publik, ia sesungguhnya sedang menjauh dari nilai dasar kebudayaan Betawi itu sendiri.

Akan tetapi, paradoks terbesar Jakarta sesungguhnya bukan hanya menyusutnya ruang budaya atau tertutupnya kelembagaan budaya. Paradoks yang lebih mendasar adalah belum terbangunnya sumber daya manusia (SDM) Betawi yang mampu menjadi pelaku utama pembangunan kota.

Selama ini perhatian terhadap kebudayaan Betawi lebih banyak diarahkan pada pelestarian kesenian, tradisi, dan simbol-simbol identitas. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena festival terus diselenggarakan atau warisan budaya terus didokumentasikan. Kebudayaan hanya akan hidup apabila manusianya memiliki kapasitas untuk belajar, bersaing, berinovasi, dan memimpin di tengah perubahan zaman.

Jakarta telah berkembang menjadi pusat pendidikan, industri kreatif, birokrasi, dan ekonomi nasional. Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan pada usia emas LKB: sudah sejauh mana masyarakat Betawi memperoleh manfaat dari kemajuan tersebut? Berapa banyak akademisi, peneliti, birokrat, profesional, pengusaha, teknokrat, maupun pemimpin publik dari kalangan Betawi yang lahir melalui ekosistem pembinaan yang dibangun lembaga-lembaga kebudayaan? Jika jawabannya masih terbatas, berarti pembangunan Jakarta masih menyisakan paradoks yang belum terselesaikan.

Di sinilah tantangan baru LKB berada. Selama lima puluh tahun, LKB berhasil menjaga memori kolektif kebudayaan Betawi. Namun, tantangan abad ke-21 menuntut perluasan mandat. Lembaga kebudayaan tidak lagi cukup menjadi penjaga tradisi, melainkan harus menjadi penggerak transformasi sosial.

Kebudayaan perlu diterjemahkan menjadi investasi pada manusia melalui pendidikan, kaderisasi, riset, literasi, kepemimpinan, kewirausahaan, serta penguasaan teknologi. Budaya bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi juga modal sosial untuk meningkatkan daya saing masyarakat Betawi.

Paradoksnya, di saat identitas Betawi semakin sering digunakan sebagai wajah resmi Jakarta dalam berbagai seremoni dan promosi kota, masyarakat Betawi sendiri belum sepenuhnya menempati posisi strategis dalam pembangunan. Pengakuan simbolik belum selalu diikuti oleh penguatan kapasitas sosial, ekonomi, maupun intelektual. Betawi hadir sebagai identitas yang dirayakan, tetapi belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang menentukan arah pembangunan Jakarta.

Karena itu, momentum lima puluh tahun LKB semestinya menjadi titik balik. Organisasi ini perlu bergerak dari paradigma pelestarian menuju paradigma pemberdayaan. Dari sekadar menyelenggarakan festival menuju membangun ekosistem pengetahuan. Dari menjaga warisan menjadi melahirkan pemimpin. Dari organisasi yang berorientasi pada simbol budaya menjadi lembaga yang berinvestasi pada kualitas manusia Betawi.

Langkah konkret dapat dimulai dengan membangun pusat kajian Betawi yang kuat, memperluas program kaderisasi generasi muda, mengembangkan beasiswa kebudayaan, membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, mendampingi komunitas kreatif, serta mendorong lahirnya wirausahawan, peneliti, birokrat, dan profesional Betawi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Dengan cara itulah kebudayaan tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, melainkan menjadi kekuatan pembangunan masa depan.

Pada akhirnya, Jakarta yang maju bukan hanya diukur dari tingginya gedung, besarnya investasi, atau panjangnya jalan tol. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang mampu menjaga identitasnya sekaligus membangun manusianya. Demikian pula LKB. Kehormatan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kemampuannya membaca perubahan zaman, membuka diri terhadap kritik, dan melahirkan generasi Betawi yang unggul. Sebab, masa depan kebudayaan Betawi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya warisan budaya yang berhasil dipertahankan, tetapi oleh lahirnya manusia-manusia Betawi yang berpendidikan, berdaya saing, dan mampu menghidupkan kebudayaannya di ruang-ruang strategis pembangunan Jakarta.*

Tags: kaukus muda betawilembaga kebudayaan betawiLKBMasyarakat betawiPembangunan JakartaSuku Betawiusni hasanudin

Berita Terkait.

Cegah Balap Liar, JLNT Antasari Dipasang Portal 14 November
Megapolitan

Cegah Balap Liar, JLNT Antasari Dipasang Portal 14 November

Senin, 2 November 2026 - 20:31
Pramono Kukuhkan Duta Antihoaks 2026, Penggerak Perubahan Perilaku Digital
Megapolitan

Pramono Kukuhkan Duta Antihoaks 2026, Penggerak Perubahan Perilaku Digital

Senin, 2 November 2026 - 17:46
Pramono Minta Perang Lawan Narkoba di Jakarta Tak “Anget-anget Tahi Ayam”
Megapolitan

Pramono Minta Perang Lawan Narkoba di Jakarta Tak “Anget-anget Tahi Ayam”

Senin, 2 November 2026 - 15:00
bocelli
Megapolitan

Pemprov DKI Manut Keputusan Pusat soal Konser Andrea Bocelli di Jakarta

Senin, 2 November 2026 - 11:21
ancol
Megapolitan

Menuju 5 Abad Jakarta, Warga Jadikan Ancol Gratis sebagai Kado Istimewa

Minggu, 1 November 2026 - 22:02
Stasiun
Megapolitan

Berlibur di Akhir Pekan, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Hari Ini

Minggu, 1 November 2026 - 08:18

OLAHRAGA

Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak
Olahraga

Kalahkan Juara Olimpiade, Ceyco Georgia Raih Emas dan Zaskia Sabet Perak

Editor Ali Rachman
Senin, 2 November 2026 - 21:22

INDOPOSCO.ID - Karateka Indonesia kembali mengukir prestasi di panggung internasional. Ceyco Georgia Zefanya sukses meraih medali emas, sedangkan Zaskia Putri...

SelengkapnyaDetails
bca

Runvestasi 2026 Dimulai, BCA Ajak Masyarakat Lari Sehat Sekaligus Belajar Investasi

Senin, 2 November 2026 - 04:14
Arisan Elqueen Berujung Buntung, 24 Warga Lebak-Pandeglang Tertipu Rp1,34 Miliar

Hadapi Duel Papan Atas, Stjepan Loncar Pastikan Persija Siap Tempur

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:13
Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:39
Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13

BERITA POPULER

  • MUI

    Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1836 shares
    Share 734 Tweet 459
  • Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5162 shares
    Share 2065 Tweet 1291
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1156 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1009 shares
    Share 404 Tweet 252
  • Resmi Dirilis, Ini Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala Asia 2027

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.