• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

50 Tahun Lembaga Kebudayaan Betawi dan Paradoks Pembangunan Jakarta

Usni Hasanudin, Kaukus Muda Betawi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 17 Juli 2026 - 17:09
in Megapolitan
KMB
Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Lima puluh tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum untuk melakukan refleksi. Bagi Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), usia emas ini menjadi kesempatan untuk menilai kembali sejauh mana perjuangan menjaga identitas budaya Betawi mampu berjalan beriringan dengan laju pembangunan Jakarta.

Pertanyaan yang patut diajukan bukan hanya apakah budaya Betawi masih hidup, tetapi juga apakah pembangunan Jakarta benar-benar memberi ruang bagi kebudayaan yang menjadi akar sejarah kota ini. Lebih jauh lagi, apakah LKB sebagai organisasi kebudayaan tertua Betawi masih mampu menjawab tantangan zaman, atau justru ikut terjebak dalam paradoks pembangunan Jakarta itu sendiri.

BacaJuga:

Ada Demo Mahasiswa di Monas, Polisi Siapkan Penyekatan Jalan Protokol

Terdesak Ekonomi, Kasus Pria Gendong Bayi Diduga Curi Kosmetik Berakhir Damai

Rano Karno Siapkan Harmoni Ibu Kota, Swara Jakarta 80 Ditargetkan Tampil Spektakuler pada 2027

Selama lebih dari lima dekade, Jakarta berkembang menjadi metropolitan sekaligus pusat pemerintahan, ekonomi, dan investasi nasional. Gedung pencakar langit, jaringan transportasi modern, kawasan bisnis baru, dan berbagai proyek strategis menjadi simbol kemajuan yang terus dibanggakan. Namun, di balik capaian tersebut tersimpan sebuah paradoks. Semakin modern Jakarta, semakin menyusut ruang hidup masyarakat Betawi sebagai penduduk asli kota ini.

Paradoks itu tampak dari hilangnya kampung-kampung Betawi akibat tekanan urbanisasi, kenaikan harga tanah, dan perubahan tata ruang yang lebih berpihak pada investasi daripada pelestarian komunitas. Banyak keluarga Betawi berpindah ke wilayah penyangga karena tidak lagi mampu bertahan di tanah leluhurnya. Bersamaan dengan itu, berbagai ekspresi budaya seperti lenong, gambang kromong, rebana biang, hingga tradisi lisan semakin kehilangan ruang hidup. Budaya Betawi lebih sering tampil sebagai ornamen dalam seremoni pemerintahan daripada menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta.

Dalam situasi seperti ini, keberadaan LKB seharusnya menjadi semakin strategis. Selama lima dekade, lembaga ini telah berjasa mengonsolidasikan para budayawan, seniman, dan pegiat budaya Betawi. Berbagai festival, dokumentasi, pembinaan sanggar, hingga advokasi kebijakan budaya merupakan kontribusi yang tidak dapat diabaikan. Tanpa LKB, mungkin sebagian warisan budaya Betawi telah lebih dahulu tergerus oleh arus modernisasi.

Namun, memasuki usia lima puluh tahun, LKB tidak cukup hanya merayakan sejarah panjangnya. Sebuah organisasi yang telah matang justru dituntut memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kritik terhadap LKB semakin sering terdengar. Sebagian kalangan memandang organisasi ini cenderung eksklusif, kurang membuka ruang bagi gagasan baru, dan belum sepenuhnya menjadi rumah bersama bagi seluruh ekosistem kebudayaan Betawi.

Kesan tersebut tentu tidak muncul begitu saja. Banyak komunitas budaya independen, akademisi, pegiat seni muda, hingga kreator digital merasa hubungan mereka dengan LKB belum terbangun secara organik. Ruang dialog masih terbatas, regenerasi berjalan lambat, dan kepemimpinan organisasi dipersepsikan lebih banyak berputar di lingkaran yang sama. Akibatnya, LKB kerap dipandang lebih sebagai penjaga legitimasi budaya daripada sebagai motor inovasi kebudayaan.

Padahal, sejarah Betawi justru dibangun oleh keterbukaan. Identitas Betawi lahir dari perjumpaan berbagai etnis, agama, bahasa, dan tradisi yang kemudian melahirkan karakter masyarakat yang adaptif dan inklusif. Karena itu, apabila organisasi kebudayaan menjadi tertutup terhadap kritik dan partisipasi publik, ia sesungguhnya sedang menjauh dari nilai dasar kebudayaan Betawi itu sendiri.

Akan tetapi, paradoks terbesar Jakarta sesungguhnya bukan hanya menyusutnya ruang budaya atau tertutupnya kelembagaan budaya. Paradoks yang lebih mendasar adalah belum terbangunnya sumber daya manusia (SDM) Betawi yang mampu menjadi pelaku utama pembangunan kota.

Selama ini perhatian terhadap kebudayaan Betawi lebih banyak diarahkan pada pelestarian kesenian, tradisi, dan simbol-simbol identitas. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena festival terus diselenggarakan atau warisan budaya terus didokumentasikan. Kebudayaan hanya akan hidup apabila manusianya memiliki kapasitas untuk belajar, bersaing, berinovasi, dan memimpin di tengah perubahan zaman.

Jakarta telah berkembang menjadi pusat pendidikan, industri kreatif, birokrasi, dan ekonomi nasional. Namun, muncul pertanyaan yang layak diajukan pada usia emas LKB: sudah sejauh mana masyarakat Betawi memperoleh manfaat dari kemajuan tersebut? Berapa banyak akademisi, peneliti, birokrat, profesional, pengusaha, teknokrat, maupun pemimpin publik dari kalangan Betawi yang lahir melalui ekosistem pembinaan yang dibangun lembaga-lembaga kebudayaan? Jika jawabannya masih terbatas, berarti pembangunan Jakarta masih menyisakan paradoks yang belum terselesaikan.

Di sinilah tantangan baru LKB berada. Selama lima puluh tahun, LKB berhasil menjaga memori kolektif kebudayaan Betawi. Namun, tantangan abad ke-21 menuntut perluasan mandat. Lembaga kebudayaan tidak lagi cukup menjadi penjaga tradisi, melainkan harus menjadi penggerak transformasi sosial.

Kebudayaan perlu diterjemahkan menjadi investasi pada manusia melalui pendidikan, kaderisasi, riset, literasi, kepemimpinan, kewirausahaan, serta penguasaan teknologi. Budaya bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi juga modal sosial untuk meningkatkan daya saing masyarakat Betawi.

Paradoksnya, di saat identitas Betawi semakin sering digunakan sebagai wajah resmi Jakarta dalam berbagai seremoni dan promosi kota, masyarakat Betawi sendiri belum sepenuhnya menempati posisi strategis dalam pembangunan. Pengakuan simbolik belum selalu diikuti oleh penguatan kapasitas sosial, ekonomi, maupun intelektual. Betawi hadir sebagai identitas yang dirayakan, tetapi belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang menentukan arah pembangunan Jakarta.

Karena itu, momentum lima puluh tahun LKB semestinya menjadi titik balik. Organisasi ini perlu bergerak dari paradigma pelestarian menuju paradigma pemberdayaan. Dari sekadar menyelenggarakan festival menuju membangun ekosistem pengetahuan. Dari menjaga warisan menjadi melahirkan pemimpin. Dari organisasi yang berorientasi pada simbol budaya menjadi lembaga yang berinvestasi pada kualitas manusia Betawi.

Langkah konkret dapat dimulai dengan membangun pusat kajian Betawi yang kuat, memperluas program kaderisasi generasi muda, mengembangkan beasiswa kebudayaan, membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, mendampingi komunitas kreatif, serta mendorong lahirnya wirausahawan, peneliti, birokrat, dan profesional Betawi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Dengan cara itulah kebudayaan tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, melainkan menjadi kekuatan pembangunan masa depan.

Pada akhirnya, Jakarta yang maju bukan hanya diukur dari tingginya gedung, besarnya investasi, atau panjangnya jalan tol. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang mampu menjaga identitasnya sekaligus membangun manusianya. Demikian pula LKB. Kehormatan sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kemampuannya membaca perubahan zaman, membuka diri terhadap kritik, dan melahirkan generasi Betawi yang unggul. Sebab, masa depan kebudayaan Betawi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya warisan budaya yang berhasil dipertahankan, tetapi oleh lahirnya manusia-manusia Betawi yang berpendidikan, berdaya saing, dan mampu menghidupkan kebudayaannya di ruang-ruang strategis pembangunan Jakarta.*

Tags: kaukus muda betawilembaga kebudayaan betawiLKBMasyarakat betawiPembangunan JakartaSuku Betawiusni hasanudin

Berita Terkait.

Demo
Megapolitan

Ada Demo Mahasiswa di Monas, Polisi Siapkan Penyekatan Jalan Protokol

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:35
CCTV
Megapolitan

Terdesak Ekonomi, Kasus Pria Gendong Bayi Diduga Curi Kosmetik Berakhir Damai

Jumat, 17 Juli 2026 - 10:52
Rano Karno Siapkan Harmoni Ibu Kota, Swara Jakarta 80 Ditargetkan Tampil Spektakuler pada 2027
Megapolitan

Rano Karno Siapkan Harmoni Ibu Kota, Swara Jakarta 80 Ditargetkan Tampil Spektakuler pada 2027

Kamis, 16 Juli 2026 - 21:15
Dipantau Langsung Ketua PN Jakpus, Pengosongan Aset Hotel Sultan Berjalan Lancar
Megapolitan

Dipantau Langsung Ketua PN Jakpus, Pengosongan Aset Hotel Sultan Berjalan Lancar

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:11
Kafe
Megapolitan

Polisi Limpahkan Tersangka Don Ritto ke Kejagung Besok

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:23
Cerah
Megapolitan

Suhu Menghangat, Sepanjang Hari Cuaca di Jakarta Cenderung Cerah Merata

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:20

BERITA POPULER

  • messi

    Piala Dunia: Jelang Semifinal Kontra Inggris, Messi Pamitan dari Markas Argentina di Kansas

    12477 shares
    Share 4991 Tweet 3119
  • Suzuki Fronx Kuasai 35 Persen Pasar SUV Kompak di Indonesia

    2792 shares
    Share 1117 Tweet 698
  • Piala Dunia 2026: Wasit Kontroversial AS Pimpin Semifinal Argentina vs Inggris

    1276 shares
    Share 510 Tweet 319
  • Eks Jampidsus Febrie Ardiansyah Resmi Ditetapkan Jadi Tersangka

    1189 shares
    Share 476 Tweet 297
  • Sah Jadi WNI, Mitchell Baker Bawa Postur Tinggi dan Insting Gol Mumpuni

    1067 shares
    Share 427 Tweet 267
Timnas-Argentina
Olahraga

FIFA Mulai Investigasi Soal Pembentangan Spanduk Las Malvinas

Editor Ali Rachman
Jumat, 17 Juli 2026 - 12:14

INDOPOSCO.ID - Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mulai menyelidiki aksi para pemain Argentina yang memamerkan spanduk bermuatan politik usai laga...

SelengkapnyaDetails
Timnas-Argentina

Pemain Argentina Bentangkan Spanduk Klaim Falkland, Inggris Desak FIFA Turun Tangan

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:31
Kane

Hasil Piala Dunia: Inggris Ditekuk Argentina, Harry Kane Sesali Strategi Parkir Bus yang Berujung Petaka

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:30
Enzo

Hasil Piala Dunia: Comeback Dramatis! Argentina Bekuk Inggris, Tantang Spanyol di Final

Kamis, 16 Juli 2026 - 07:17
Mbapee

Curhat Mbappe Setelah Prancis Ditekuk Spanyol, Singgung Kegagalan Taktik di Semifinal

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:24
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.