INDOPOSCO.ID – Kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan mengubah wajah dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengingatkan di tengah derasnya transformasi digital generasi muda Indonesia harus memiliki keterampilan yang relevan dan karakter yang kuat.
Yassierli mengatakan, perubahan dunia kerja kini berlangsung sangat cepat. Perkembangan AI, otomatisasi, ekonomi hijau, digitalisasi hingga pola kerja jarak jauh telah mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
“Lanskap dunia kerja terus berubah. Karena itu, generasi masa depan harus memiliki kemampuan untuk terus berkembang dan mampu menghadapi setiap perubahan (perkembangan AI,red),” ujar Yassierli dalam keterangan, Minggu (21/6/2026).
Ia mengutip laporan Future of Jobs Report 2025 yang menyebut sekitar 22 persen jenis pekerjaan diperkirakan mengalami perubahan hingga 2030. Dalam periode yang sama diproyeksikan akan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan akibat perkembangan teknologi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan kompetensi tenaga kerja ikut berubah. Penguasaan teknologi memang penting, namun tidak lagi cukup. Kemampuan belajar sepanjang hayat, beradaptasi dengan perubahan, serta meningkatkan keterampilan secara berkelanjutan menjadi modal utama menghadapi pasar kerja masa depan.
Yassierli menilai penguatan keterampilan masa depan menjadi salah satu syarat penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, Indonesia ditargetkan masuk lima besar ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita mencapai USD 23.000 hingga USD 30.300.
Target tersebut, lanjutnya, hanya dapat dicapai jika Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Momentum bonus demografi juga harus dimanfaatkan untuk melahirkan generasi yang kompeten dan siap bersaing.
Selain keterampilan teknis, Yassierli menekankan pentingnya membangun karakter. Integritas, disiplin, tanggung jawab, etika, dan empati dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan talenta berkualitas.
Ia menambahkan, semakin pesat perkembangan AI, semakin tinggi pula nilai kemampuan yang hanya dimiliki manusia. Kepercayaan, empati, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama merupakan kompetensi yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.
“Semakin canggih AI, semakin bernilai kemampuan manusia yang tidak bisa ditiru mesin. Karena itu, sentuhan manusia akan menjadi keunggulan tersendiri di masa depan,” ujarnya. (nas)
















