INDOPOSCO.ID – Di tengah meningkatnya konflik geopolitik yang melanda berbagai kawasan dunia, Indonesia didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun diplomasi perdamaian global. Seruan tersebut mengemuka dalam peringatan International Day for Dialogue Among Civilizations yang digelar di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Forum yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI itu dihadiri tokoh nasional, pemimpin organisasi masyarakat, akademisi, serta perwakilan diplomatik dari sekitar 30 negara sahabat. Pertemuan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan untuk memperkuat dialog di tengah semakin kompleksnya konflik dan ketegangan antarnegara.
Dalam kesempatan tersebut, inisiator World Peace Parliamentary Caucus (WPPC) Ahmad Doli Kurnia Tandjung, mengusulkan pembentukan Kaukus Parlemen Dunia untuk Perdamaian Dunia sebagai wadah kolaborasi lintas negara dalam meredakan konflik dan memperkuat stabilitas global.
“Saya kira sudah waktunya kita membentuk Kaukus Parlemen Dunia untuk Perdamaian Dunia. Agar keraguan dan ketidakpercayaan terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) seperti yang disampaikan tadi, pelan-pelan bisa kita perbaiki apabila negara-negara mendukung pandangan yang sama bahwa membangun peradaban harus dimulai dengan membangun perdamaian dunia,” ujar Doli.
Menurut Wakil Ketua Badan Legislasi DPR RI tersebut, parlemen memiliki posisi strategis untuk menjembatani komunikasi antarmasyarakat dan antarnegara, terutama ketika jalur diplomasi formal menghadapi kebuntuan. Melalui diplomasi parlemen, berbagai kepentingan dapat dipertemukan dalam semangat dialog dan kerja sama.
Dalam pidatonya, Doli menekankan bahwa perdamaian merupakan nilai universal yang diajarkan oleh seluruh agama besar dunia. Ia mengutip berbagai ajaran dan tokoh lintas agama sebagai bukti bahwa kemanusiaan sejatinya dibangun di atas fondasi perdamaian, bukan konflik.
Dari ajaran Islam, Doli mengutip Surah Al-A’raf ayat 56 yang mengingatkan manusia untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Sementara dari tradisi Kristen, ia mengingatkan pesan damai yang juga ditegaskan oleh Paus Fransiskus bahwa “perang selalu merupakan kekalahan bagi kemanusiaan.”
Ia juga mengutip filosofi Hindu, Ahimsa Paramo Dharma, yang menempatkan anti-kekerasan sebagai kebajikan tertinggi. Sedangkan dalam ajaran Buddha, kebencian diyakini tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kebencian, melainkan hanya dapat dihentikan melalui cinta kasih.
“Meskipun berbeda dalam teologi dan tradisi, kelima agama tersebut memiliki pesan moral yang sangat serupa. Bahwasanya manusia adalah penjaga kehidupan, bukan perusak kemanusiaan. Dunia dipandang sebagai amanah atau ruang bersama yang harus dirawat, sementara perang dan kekerasan hanya dibenarkan dalam kondisi yang sangat terbatas atau bahkan dihindari sejauh mungkin,” tegas Doli.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus menjadi landasan dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan harmonis, terutama ketika berbagai konflik internasional terus berlangsung tanpa penyelesaian yang jelas.
WPPC sendiri dibentuk pada April 2026 sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan global, mulai dari perang Rusia-Ukraina, konflik berkepanjangan di Palestina, hingga berbagai eskalasi geopolitik lain yang berdampak pada stabilitas internasional.
Para peserta forum menilai bahwa kondisi dunia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog dan kerja sama dibandingkan pendekatan konfrontatif. Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai memiliki modal diplomasi yang kuat karena konsisten mengedepankan prinsip perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan dalam hubungan internasional.
Melalui forum Dialog Antar-Peradaban ini, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara yang aktif memperjuangkan perdamaian dunia. Harapannya, pertemuan tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan semata, melainkan mampu melahirkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat diplomasi perdamaian dan membangun kembali kepercayaan antarbangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (rmn)










