INDOPOSCO.ID – Upaya menekan angka kemiskinan di Indonesia kembali menunjukkan hasil positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 22,93 juta jiwa atau 8,07 persen dari total populasi. Capaian tersebut menjadi tingkat kemiskinan terendah dalam lebih dari satu dekade sekaligus menandai berlanjutnya tren perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Data BPS menunjukkan, dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 430 ribu orang, sementara jika dibandingkan Maret 2025 penurunannya mencapai 920 ribu orang.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud mengatakan bahwa penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa proses pemulihan ekonomi nasional terus memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa pekerjaan rumah pemerintah belum selesai.
“Meski capaian tersebut menunjukkan perbaikan yang konsisten, tantangan pembangunan belum sepenuhnya selesai,” ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
“Selain masih terdapat hampir 23 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, ketimpangan pengeluaran masyarakat atau kesenjangan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus diperbaiki agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif,” lanjutnya.
Angka terbaru tersebut dipublikasikan BPS melalui Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 80/08/Th. XXIX tentang Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2026, yang disusun berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026.
Jika melihat perjalanan selama sebelas tahun terakhir, penurunan kemiskinan berlangsung cukup konsisten. Pada Maret 2015, jumlah penduduk miskin masih mencapai 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari total penduduk. Tren itu sempat terganggu akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dan kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2022, sebelum kembali menurun seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional.
“Perbaikan juga terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan. Di kawasan perkotaan, jumlah penduduk miskin turun dari 11,18 juta menjadi 10,83 juta orang, dengan tingkat kemiskinan menyusut dari 6,60 persen menjadi 6,34 persen, jelas Edy.
Sementara itu, di wilayah perdesaan jumlah penduduk miskin berkurang dari 12,18 juta menjadi 12,10 juta orang. Persentase kemiskinan desa juga turun tipis dari 10,72 persen menjadi 10,67 persen.
Meski demikian, kesenjangan antara desa dan kota masih cukup lebar.
“Tingkat kemiskinan di wilayah perdesaan tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan kawasan perkotaan, menunjukkan bahwa pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa masih menjadi fokus penting dalam agenda pembangunan nasional,” tambahnya.
Dengan capaian terbaru ini, Indonesia mencatatkan level kemiskinan terendah dalam sebelas tahun terakhir. Tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan tren penurunan tersebut, tetapi juga memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat. (her)


















