INDOPOSCO.ID – Di tengah keyakinan pemerintah bahwa kondisi ekonomi nasional masih berada di jalur aman, muncul suara yang mengingatkan bahwa rasa optimistis belum tentu benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai optimisme pemerintah memang penting dalam menghadapi tekanan ekonomi. Namun, menurutnya, keyakinan itu tidak boleh berhenti sebagai pernyataan normatif tanpa dampak nyata yang dirasakan publik.
Pernyataan tersebut merespons pandangan pemerintah terkait kondisi ekonomi Indonesia yang disebut tetap kuat. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena ekonomi Indonesia dinilai masih dalam kondisi baik.
Pria yang akrab disapa Hensa itu mengatakan, pemerintah memang perlu menjaga optimisme di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. Meski begitu, ia menilai penyampaian optimisme tidak cukup hanya hadir dalam ruang konferensi pers atau pernyataan resmi.
“Pemerintah tentu boleh optimistis, bahkan memang harus optimistis. Tapi optimisme itu jangan hanya sekedar ‘lip service’ saja ke masyarakat, namun juga berdampak,” ujar Hensa melalui gawai, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, saat ini terdapat kesenjangan antara narasi pemerintah dan realitas yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan harga kebutuhan pokok hingga melemahnya nilai tukar rupiah dinilai membuat publik belum sepenuhnya merasakan situasi yang disebut terkendali.
“Masalahnya, masyarakat belum ikut merasa optimistis, kalau di atas bilang semuanya baik-baik saja, tapi di bawah harga naik dan rupiah melemah, pada akhirnya jadi wajar kalau publik bertanya-tanya,” jelasnya.
Hensa juga menyoroti gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya konsisten menampilkan semangat nasionalisme dan optimisme terhadap masa depan Indonesia.
Namun ia mengingatkan, optimisme tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret yang langsung menyentuh masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah yang belakangan dinilai menghadapi tekanan ekonomi cukup berat.
“Pak Prabowo itu jelas nasionalis dan optimistis, tapi optimisme itu harus diturunkan jadi sesuatu yang bisa dirasakan. Jangan sampai optimisme hanya jadi semacam slogan yang indah didengar, tapi enggak bisa dirasakan,” tutur founder KedaiKOPI itu.
Lebih jauh, Hensa menilai pola komunikasi pemerintah ke depan perlu lebih membumi dan memperlihatkan empati terhadap kondisi yang benar-benar dialami masyarakat.
“Kalau pemerintah ingin publik percaya, jangan hanya bilang ‘semua terkendali’. Tunjukkan apa yang membuat kita bisa percaya bahwa semuanya memang terkendali. Karena kepercayaan publik itu bukan diminta, tapi dibangun,” kata Hensa.
Ia menambahkan, keterbukaan pemerintah dalam menyampaikan kondisi ekonomi justru menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Optimisme itu penting, tapi jangan sampai terasa seperti menenangkan diri sendiri. Publik butuh alasan untuk optimistis, bukan sekadar ajakan,” tambahnya. (her)










