INDOPOSCO.ID – Tiga penumpang tewas dan sedikitnya lima orang terinfeksi dalam wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik. Kasus baru juga terdeteksi di Pulau Tristan da Cunha, memicu pelacakan kontak internasional.
Diketahui, MV Hondius, kapal ekspedisi berbendera Belanda milik Oceanwide Expeditions, berangkat dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026 untuk pelayaran “Atlantic Odyssey” menuju Kepulauan Canary, Spanyol.
Kasus pertama muncul pada 6 April 2026, saat seorang pria warga negara Belanda mengalami demam, sakit kepala, dan diare ringan. Ia meninggal di atas kapal pada 11 April 2026 setelah mengalami gangguan pernapasan. Jenazahnya baru diturunkan di Pulau St. Helena pada 24 April 2026.
Istrinya, yang ikut turun di St. Helena, jatuh sakit dan diterbangkan ke Johannesburg, Afrika Selatan. Ia meninggal di rumah sakit pada 26 April 2026 setelah dinyatakan positif hantavirus melalui tes PCR.
Korban tewas ketiga adalah perempuan warga negara Jerman yang meninggal di kapal pada 2 Mei 2026. Jenazahnya masih berada di kapal saat MV Hondius berlayar menuju Tenerife.
Hingga 7 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 5 kasus terkonfirmasi dan 9 kasus suspek hantavirus terkait MV Hondius, dengan 3 kematian. Empat pasien lain – dua warga Inggris, satu warga Belanda, dan satu warga Swiss – dirawat di Belanda, Afrika Selatan, dan Swiss.
Sementata itu, toritas kesehatan Inggris melaporkan kasus suspek baru pada seorang pria Inggris di Tristan da Cunha, wilayah seberang laut Inggris di Atlantik Selatan. Kapal Hondius sempat singgah di pulau berpenduduk 200 orang itu pada 15 April 2026. Seorang warga pulau dirawat di rumah sakit dan istrinya melakukan isolasi mandiri. Empat warga pulau lain yang sempat menumpang Hondius menuju St. Helena diminta isolasi mandiri.
Selain itu, Spanyol mengonfirmasi kasus suspek pada perempuan di Provinsi Alicante yang satu penerbangan dengan penumpang Hondius yang meninggal di Johannesburg. Seorang pramugari KLM juga dites di Amsterdam setelah menunjukkan gejala.
WHO menyatakan wabah disebabkan oleh virus Andes, strain hantavirus yang endemik di Argentina dan Chili.
“Tidak seperti strain hantavirus lain yang menular lewat kotoran tikus, virus Andes dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat berkepanjangan. Tingkat kematian hantavirus jenis ini mencapai 40%,” kata Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan Epidemi WHO.
Maria mengatakan, penularan antarmanusia “terjadi di antara kontak sangat dekat. Namun WHO menegaskan risiko bagi masyarakat umum tetap rendah.
Belum ada obat atau vaksin spesifik untuk hantavirus. Perawatan bersifat suportif, termasuk penggunaan ventilator pada kasus berat. (bro)











