INDOPOSCO.ID – Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang melesat ke angka 5,61 persen dinilai menyimpan kejanggalan. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda membeberkan empat anomali data, dengan fokus utama pada validitas perhitungan konsumsi rumah tangga oleh BPS.
Padahal, jika kita melihat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, di Maret 2026 sebesar 122,9 basis poin, turun dibandingkan bulan Januari 2026 sebesar 127,0 basis poin.
Tahun lalu juga mengalami penurunan serupa meskipun lebih tajam. Biasanya, IKK itu mencerminkan pergerakan konsumsi rumah tangga, namun menurut data BPS, ternyata tidak.
Lebih menarik lagi, pertumbuhan konsumsi pakaian, alas kaki, dan jasa perawatannya mengalami perlambatan dibandingkan TW1 2025. Padahal ada momen Ramadan-Lebaran yang seharusnya dapat mendongkrak. Sedangkan tahun lalu, tumbuh 6,86 persen tapi konsumsi rumah tangga jauh lebih lambat.
“Jadi ada anomali dalam perhitungan konsumsi rumah tangga yang dilakukan oleh BPS,” kata Huda dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Anomali Pertama, Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di TW1 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan TW1 2025 di mana tumbuh sebesar 5,52 persen (2026) dari 4,96 persen (2025).
Anomali Kedua, ada konsumsi transportasi dan komunikasi yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan 4 triwulan sebelumnya. Pada TW1 2026, konsumsi transportasi dan komunikasi tumbuh 6,91.
Secara berurutan pertumbuhan konsumsi ini adalah 6,15 persen (TW1 2025), 6,48 persen (TW2), 6,41 persen (TW3), dan 6,35 persen (TW4). Namun demikian, jasa transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 8,04 persen.
“Jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu (TW1-4) dimana hanya tumbuh secara berurutan 9,01 persen, 8,52 persen, 8,62 persen, dan 8,98 persen,” tutur Huda.
Begitu pula dengan jasa informasi dan komunikasi yang mengalami perlambatan di periode yang sama. “Anomali di sektor ini sangat terasa ketika konsumsi kita tidak ditopang oleh jasa terkait,” beber Huda.
Anomali Ketiga, Dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB), kali ini yang tumbuh tinggi adalah PMTB sub kendaraan. Sama seperti mesin pada tahun lalu yang dianggap sebagai penyumbang signifikan PMTB, kendaraan yang jadi penyumbang PMTB juga dihasilkan dari IMPOR kendaraan.
“PMTB sub kendaraan berhasil tumbuh sebesar 12,39 persen, namun di satu sisi pertumbuhan untuk industri alat angkutan terkontraksi hingga -5,02 persen,” ujar Huda.
Anomali Keempat, Industri pengolahan mengalami tekanan yang cukup tinggi sehingga melambat di TW1 2026 jika dibandingkan 3 triwulan sebelumnya, hanya tumbuh sebesar 5,04 persen. Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga mengalami penurunan di Maret 2026 dibandingkan Februari 2026.
“Pada bulan Februari, PMI manufaktur meningkat karena kegiatan stok untuk momen lebaran (Maret 2026), kemudian turun lagi karena situasi ekonomi. April 2026, PMI manufaktur sudah di bawah level ekspansi,” imbuhnya. (dan)











