INDOPOSCO.ID – Di tengah kekhawatiran masyarakat soal ketatnya persaingan masuk sekolah negeri, pemerintah justru menyebut peserta didik dari keluarga kurang mampu memiliki peluang sangat besar untuk diterima di sekolah tujuan melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD Dikdas PNFI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Gogot Suharwoto, mengatakan bahwa keberpihakan sistem itu hadir lewat kombinasi jalur afirmasi, domisili, hingga prestasi yang bisa dimanfaatkan sekaligus oleh siswa miskin.
“Jalurnya tetap sama. Jalur domisili, prestasi, afirmasi, dan mutasi. Persentasenya juga tetap sama karena memang Permen (Peraturan Menteri)-nya nggak berubah,” kata Gogot dalam diskusi santai dengan media bertajuk ‘Ngopi Bareng Dirjen PAUD Dikdas PNFI’ di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Ia menjelaskan, kuota domisili untuk SD mencapai 70 persen, SMP minimal 40 persen, dan SMA minimal 30 persen. Sementara jalur afirmasi dialokasikan minimal 15 persen untuk SD, 20 persen SMP, dan 30 persen SMA.
“Di SD itu domisili 70 persen. SMP minimal 40 persen. SMA minimal 30 persen. Jalur afirmasi, SD itu minimal 15 persen, SMP 20 persen, SMA 30 persen. Tadi saya cek prestasi minimal SMP 25 persen, SMA 30 persen,” jelasnya.
Menurut Gogot, siswa dari keluarga kurang mampu memiliki keuntungan berlapis karena dapat bersaing di beberapa jalur sekaligus. Jika rumah dekat sekolah, mereka berpeluang lolos lewat domisili. Jika punya capaian akademik atau nonakademik, kesempatan terbuka di jalur prestasi. Di sisi lain, mereka juga mendapat akses melalui jalur afirmasi.
“Sebenarnya kalau kita mau menganalisa lebih dalam, kalau murid dari keluarga yang tidak mampu, dia dapat privilege di jalur afirmasi 30 persen. Dia kurang mampu namun dekat dengan sekolah, dia dapat privilege domisili. Dia tidak mampu namun berprestasi, maka dia dapat privilege prestasi,” jelasnya.
Ia bahkan menyebut peluang siswa miskin untuk masuk sekolah tujuan bisa mencapai 90 persen.
“Jadi keluarga tidak mampu itu justru punya 90 persen kesempatan untuk masuk di sekolah yang diinginkan. Ya, karena jalur domisili kalau dia deket dapat, kalau berprestasi dia juga dapat. Kalau sudah tidak deket dengan sekolah, prestasi nggak dapat, paling nggak afirmasi dia juga dapat tiga puluh persen,” ungkapnya.
Meski demikian, Gogot menilai peluang itu tetap bergantung pada posisi dan kondisi masing-masing siswa.
“Ya, kalau dia kurang mampu, tapi domisilinya tidak jauh, tapi dia berprestasi 60 persen ya. Keluarga tidak mampu domisilinya jauh, tidak berprestasi, masih 30 persen. Kurang apa lagi? Ini keberpihakan dari sistem ini untuk orang tidak mampu sangat luar biasa,” tambahnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin mengubah stigma lama soal sekolah favorit yang selama ini dianggap sulit diakses kelompok ekonomi bawah. Lewat SPMB, pemerintah mengeklaim sistem penerimaan kini semakin berpihak pada pemerataan akses pendidikan.(her)











