INDOPOSCO.ID – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menegaskan larangan pelaksanaan city tour atau ziarah bagi jemaah haji Indonesia sebelum rangkaian puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) selesai dilaksanakan. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan kondisi fisik jemaah tetap prima menjelang fase terpenting ibadah haji.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, Ichsan Marsha, mengatakan bahwa Armuzna merupakan inti pelaksanaan ibadah haji yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan spiritual yang kuat.
“Larangan ini bukan untuk membatasi aktivitas jemaah, tetapi sebagai langkah perlindungan agar jemaah tidak kelelahan dan tetap fokus menghadapi fase Armuzna,” ujar Ichsan dalam keterangan pers yang diterima INDOPOSCO.ID, Kamis (7/5/2026).
Melalui surat edaran terbaru, Kemenhaj meminta seluruh jemaah serta pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) tidak menyelenggarakan kegiatan city tour di luar Makkah dan Madinah sebelum seluruh rangkaian Armuzna selesai.
Selain itu, pembimbing KBIHU diminta memfokuskan pembinaan pada kesiapan fisik, mental, dan pemahaman manasik agar jemaah siap menjalankan wukuf di Arafah hingga rangkaian ibadah di Mina.
Kemenhaj juga mewajibkan seluruh pergerakan jemaah dilaporkan dan dikoordinasikan dengan petugas resmi untuk menjaga ketertiban dan keselamatan.
Hingga 6 Mei 2026, tercatat 267 kloter dengan lebih dari 103 ribu jemaah telah diberangkatkan dari Indonesia menuju Tanah Suci. Sementara itu, sebagian jemaah telah tiba di Madinah dan Makkah untuk melaksanakan umrah wajib dan persiapan puncak haji.
Kemenhaj juga mengingatkan larangan keras penggunaan visa non-haji untuk keberangkatan ibadah haji. Pemerintah menegaskan bahwa hanya visa haji resmi yang diperbolehkan, karena penggunaan visa lain berisiko menimbulkan masalah hukum hingga deportasi di Arab Saudi.
Dari sisi kesehatan, ribuan jemaah tercatat telah mendapatkan layanan medis, termasuk rawat jalan dan perawatan di fasilitas kesehatan Indonesia maupun Arab Saudi. Dengan suhu ekstrem di kisaran 38-44 derajat Celsius, jemaah diimbau menjaga hidrasi, mengurangi aktivitas berat, dan segera melapor jika mengalami gangguan kesehatan.
“Disiplin menjaga kesehatan menjadi kunci agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan khusyuk,” tutup Ichsan.(dil)











