INDOPOSCO.ID – PT United Tractors Tbk (Perseroan atau UT) membuka tahun 2026 dengan dinamika yang tidak ringan. “Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp28,6 triliun atau turun sebesar 17 persen dari Rp34,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2025,” kata Corporate Secretary UT, Ari Setiyawan dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).
Penurunan ini menjadi sorotan utama, mencerminkan tekanan dari beberapa lini bisnis sekaligus, terutama absennya penjualan emas serta penyesuaian industri batu bara akibat kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nasional.
Struktur pendapatan memperlihatkan kontras yang tajam antar segmen. Kontraktor penambangan tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp11,9 triliun, meski turun 6 persen.
Sementara itu, sektor batu bara justru mencatat kenaikan 13 persen menjadi Rp8,0 triliun, ditopang harga jual yang lebih tinggi. Di sisi lain, mesin konstruksi mengalami penurunan paling dalam sebesar 31 persen menjadi Rp7,5 triliun, seiring tertahannya permintaan alat berat dari sektor tambang.
Tekanan terbesar datang dari bisnis emas. “Segmen usaha Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 76 persen menjadi Rp691,6 miliar, terutama disebabkan oleh tidak adanya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe,” jelasnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada laba bersih yang anjlok 44 persen menjadi Rp1,8 triliun, di luar beban nonrecurring.
Kinerja operasional juga mencerminkan perlambatan. Volume pekerjaan pemindahan tanah turun 7 persen menjadi 236 juta bcm, sementara produksi batu bara klien turun 4 persen menjadi 31 juta ton.
“Di sisi lain, penjualan batu bara milik sendiri justru meningkat, menandakan adanya pergeseran kontribusi bisnis yang mulai mengandalkan komoditas ini,” jelasnya.
Perseroan juga menghadapi tekanan tambahan dari beban nonrecurring sebesar Rp1,2 triliun, termasuk kewajiban terkait kawasan hutan dan penurunan nilai investasi panas bumi. Kondisi ini ikut mendorong perubahan posisi keuangan, dari kas bersih menjadi utang bersih Rp5,5 triliun per akhir Maret 2026.
“Meski demikian, langkah ekspansi tetap berjalan. Akuisisi tambang emas baru di Sulawesi Utara serta program pembelian kembali saham hingga Rp2 triliun menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang,” terangnya.
Di tengah tekanan, strategi ini menjadi sinyal bahwa perusahaan tidak sekadar bertahan, tetapi juga menyiapkan fondasi untuk fase pertumbuhan berikutnya.
“Di luar angka, United Tractors tetap menjaga reputasi keberlanjutan dengan meraih predikat Hijau dan Biru dalam PROPER 2024–2025. Pengakuan ini mempertegas bahwa transformasi bisnis tidak hanya berfokus pada kinerja finansial, tetapi juga pada aspek lingkungan dan tata kelola,” tambahnya.
Triwulan pertama ini pada akhirnya menjadi cermin perubahan arah. Ketika emas berhenti bersinar dan alat berat melambat, batu bara mengambil peran lebih besar. Namun pertanyaannya bukan hanya soal angka hari ini, melainkan seberapa cepat Perseroan mampu menyeimbangkan kembali portofolionya di tengah lanskap industri yang terus berubah. (her)










