INDOPOSCO.ID – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) memberikan klarifikasi mengenai ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung pada laporan polisi. JK menegaskan bahwa kehadirannya saat itu murni untuk memenuhi undangan ceramah bertajuk tema perdamaian.
“Saya diundang (Ramadan 2026), datang, karena temanya adalah perdamaian. Perdamaian. Jadi khususnya temanya tentang langkah-langkah ke perdamaian, apa itu, kurang lebih begitu,” kata JK di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).
JK memaparkan definisi sederhana namun mendalam mengenai perdamaian, dengan menyebutkan bahwa perdamaian hadir saat konflik usai, dan sebaliknya, konflik muncul ketika perdamaian telah berakhir.
“Saya jelaskan tentang apa itu perdamaian. Perdamaian itu adalah akhir daripada konflik. Apa itu konflik? Akhir perdamaian,” ujar JK.
Dalam ceramahnya, JK menguraikan sejarah konflik dunia, mulai dari Perang Dunia I di Eropa hingga 15 konflik yang pernah terjadi di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa penyebab konflik tersebut sangat beragam, meliputi perbedaan ideologi seperti peristiwa Madiun, persoalan wilayah seperti terjadi di Timor Timur, hingga masalah ekonomi seperti di Aceh.
“Saya jelaskan satu per satu. Kemudian satu menit saja, eh satu dua menit, bicarakan konflik karena agama. Itulah antara lain Ambon-Poso,” tutur JK.
Ia memang dikenal sebagai tokoh kunci yang mendamaikan konflik di Ambon dan Poso melalui inisiatif dialog dan perjanjian damai yang bersejarah pada tahun 2002.
Sementara itu, rekaman atau materi yang disampaikan dalam ceramah tersebut dapat dipelajari kembali untuk membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat menista agama.
Ia justru mempertanyakan tuduhan tersebut mengingat besarnya risiko jiwa yang ia ambil bersama Hamid Awaluddin (tim mediasi perdamaian) saat memasuki daerah konflik demi mewujudkan perdamaian.
“Hanya mengatakan, ini nanti dibagikan sama Anda untuk Anda pelajari kembali, benar enggak saya menista agama? Saya damaikan ini, apa saya menista agama?,” ucap JK.
“Saya pertaruhkan jiwa saya dengan Hamid, masuk ke daerah yang Anda lihat tadi itu. Masuk ke daerah itu. Tidak ada Menteri, Presiden Gus Dur, Ibu Megawati tidak ada yang bisa,” tambahnya.
Terkait diksi ‘mati syahid’ dalam ceramahnya, menurut JK, istilah syahid dalam Islam dan martir dalam Kristen sebenarnya merujuk pada konsep yang hampir serupa, yaitu penghormatan bagi mereka yang meninggal demi keyakinan, walaupun teknis pelaksanaannya berbeda.
“Sebenarnya saya berada di masjid dan tidak mengerti martir. Yang saya katakan ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma bedanya caranya,” imbuhnya. (dan)










