INDOPOSCO.ID – Terdapat kesenjangan besar dalam penyerapan tenaga kerja internasional. Berdasarkan data SIP2MI per 15 April 2026, dari 327.658 peluang kerja yang tersedia, baru 69.187 posisi atau sekitar 21,12 persen yang berhasil terisi.
Hal itu disampaikan Mukhtarudin usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah mitra strategis, mulai dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Yayasan MATAULI, hingga delapan universitas ternama di Indonesia, Kamis (16/4/2026).
“Masih terdapat 258.471 peluang kerja atau sekitar 78,88 persen yang terbuka lebar,” ungkap Mukhtarudin di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Oleh karena itu, ia menyerukan sinergi lintas sektor dalam membekali calon pekerja migran dengan kompetensi yang memadai agar besarnya peluang pasar global tidak tersia-siakan dan tetap berada dalam koridor hukum.
“Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyiapkan SDM yang kompeten agar peluang ini tidak terbuang sia-sia dan diisi melalui jalur yang legal serta aman,” ucap Mukhtarudin.
Sesuai dengan mandat Presiden Prabowo Subianto, Kementerian P2MI kini memfokuskan kinerjanya pada pembangunan ekosistem perlindungan yang terintegrasi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Pendekatan komprehensif ini mencakup fase pra-penempatan melalui penguatan pendidikan vokasi dan upskilling, perlindungan hak serta keamanan selama masa bekerja di luar negeri, hingga pemberdayaan ekonomi purna penempatan agar remitansi yang dihasilkan mampu memberikan dampak ekonomi yang luas bagi keluarga dan daerah asal.
“Strategi utama dalam melindungi Pekerja Migran Indonesia adalah melalui penguatan kompetensi yang berperan sebagai perisai bagi mereka di luar negeri,” imbuh Mukhtarudin. (dan)










