INDOPOSCO.ID – Pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, KH Dr. Sofwan Manaf, menghadiri pertemuan para pengasuh pesantren (Multaqa Ru’asa al-Ma’ahid) yang diselenggarakan Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat bekerja sama dengan Kementerian Agama di Kota Kediri, Jawa Timur, Juni 2026. Forum tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian menuju Kongres Umat Islam Indonesia yang akan digelar pada 23–26 Juli 2026 di Jakarta.
KH Sofwan Manaf hadir bersama Wakil Rektor Universitas Darunnajah, Dr. Irfanuddin, serta dosen Universitas Darunnajah, Hj. Rizma Ilfi, M.I.Kom. Pertemuan ini mempertemukan para pengasuh pesantren dari berbagai daerah untuk membahas arah kebijakan dan masa depan pesantren di tengah dinamika perubahan sosial dan teknologi.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar, Wakil Menteri Agama Prof. Dr. H. Amien Suyitno, Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said, dan Sekretaris Jenderal MUI Dr. H. Amirsyah Tambunan.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan produktif, mengemuka berbagai isu strategis, mulai dari penegasan tanggung jawab negara terhadap pesantren, penguatan perlindungan santri, hingga transformasi pola kepengasuhan yang lebih ramah anak dan responsif terhadap tantangan era digital.
KH Sofwan Manaf menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, pertemuan para pengasuh pesantren menjadi momentum penting untuk memperkuat ukhuwah sekaligus merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam ke depan.
“Kami mengapresiasi MUI dan Kementerian Agama yang telah mempertemukan para pengasuh pesantren untuk bermusyawarah secara terbuka. Forum seperti ini memperkuat ukhuwah sekaligus menjadi ruang merumuskan solusi bersama bagi kemajuan pesantren,” ujar KH Sofwan Manaf.
Ia juga menyoroti pentingnya penegasan bahwa dukungan negara terhadap pesantren merupakan amanat konstitusi, bukan sekadar bentuk bantuan sukarela. Menurutnya, pesantren telah berperan besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka.
“Pesantren bukan peminta-minta. Pesantren adalah pemangku kepentingan utama bangsa ini yang ikut membentuk akhlak dan spiritualitas generasi. Karena itu, penguatan regulasi dan keberpihakan anggaran adalah keniscayaan,” tegasnya.
Selain itu, KH Sofwan Manaf menyambut positif gagasan transformasi kepengasuhan pesantren menuju pendekatan yang lebih humanis dan ramah anak. Menurutnya, pembaruan tersebut harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai-nilai disiplin, adab, dan tradisi pesantren yang telah menjadi kekuatan pendidikan Islam selama berabad-abad.
Forum pra-kongres ini diharapkan menghasilkan berbagai rekomendasi strategis yang akan disampaikan kepada pemerintah, termasuk Presiden dan Menteri Agama, sebagai bahan penguatan kebijakan nasional yang berpihak kepada pesantren. Salah satu usulan yang mengemuka adalah percepatan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama agar fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan pesantren dapat semakin optimal.
Menutup kehadirannya, KH Sofwan Manaf mengajak seluruh jaringan pesantren di Indonesia untuk terus memperkuat kebersamaan dan kolaborasi dalam membangun masa depan umat dan bangsa.
“Mari kita jaga kebersamaan ini. Pesantren yang kuat adalah pesantren yang mau bergandengan tangan, saling menguatkan, demi agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (srv)










