• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Retorika Penyelamatan atau Sekadar Bertahan: Menguji Apologia Pertamina di Tengah Krisis Legitimasi

Pertamina dalam Pusaran Actional Legitimation Crisis

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 23 Februari 2026 - 11:37
in Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: Medila Sisca Arimi, Mahasiswa Prodi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

INDOPOSCO.ID – Belakangan ini, publik disuguhi drama sosial yang menempatkan Pertamina di “kursi terdakwa” (standing in the dock). Serangkaian isu, mulai dari fluktuasi kualitas BBM hingga sorotan tajam atas tata kelola korporat, bukan sekadar masalah operasional biasa. Dalam perspektif komunikasi krisis, Pertamina sedang mengalami apa yang disebut Boyd (2000) sebagai actional legitimation crisis.

BacaJuga:

BRIN Dorong Hilirisasi Teknologi Air, dari Modifikasi Cuaca hingga Desalinasi

Akademisi Nilai Pengangkatan Guru PPPK sebagai Wujud Demokrasi yang Bekerja

Guru Besar IPDN: Bila Bencana Lampaui Kapasitas Daerah, Pusat Jangan Tunggu Status

Krisis ini muncul ketika tindakan atau ketidaktindakan organisasi menciptakan isu serius yang menantang tujuan prioritas mereka, meskipun belum mengancam eksistensi perusahaan secara total. Tuduhan (kategoria) yang muncul di media sosial tidak lagi sekadar keluhan teknis, melainkan serangan terhadap kejujuran, tanggung jawab, dan kendali diri organisasi (Hearit, 1995).

Narasi “Kekuasaan” di Tengah Badai Ketidakmampuan

Dalam menghadapi krisis ini, retorika pemimpin Pertamina tampak mengadopsi pola yang dijelaskan oleh Denise M. Bostdorff, di mana komunikasi krisis digunakan untuk mempertahankan kekuasaan dan legitimasi institusional. Di satu sisi, ada “Krisis” (tuduhan ketidakmampuan), dan di sisi lain, pemimpin membangun narasi “Kekuasaan” (Power) melalui retorika keberlanjutan energi nasional.

Retorika yang muncul sering kali merupakan bentuk bolstering menonjolkan peran vital Pertamina sebagai penjaga kedaulatan energi untuk menutupi keraguan publik atas efisiensi mereka. Pemimpin organisasi berusaha membangun “skrip yang mapan” (settled script) untuk dikonsumsi publik, yang menampilkan organisasi dalam sudut pandang yang menguntungkan (Fisher, 1989). Narasi keberlanjutan energi ini digunakan sebagai perisai: seolah-olah mengkritik Pertamina sama dengan mengganggu stabilitas energi nasional.

Antara Kejujuran dan Upaya Mempertahankan Status Quo

Namun, pertanyaannya adalah: apakah strategi ini merupakan upaya tulus untuk pemulihan, atau sekadar manuver untuk mempertahankan posisi kekuasaan? Teks klasik tentang apologia menyebutkan bahwa organisasi sering terjebak dalam respons bipolar karena ketakutan akan liabilitas hukum (Tyler, 1997). Di sinilah Pertamina kerap terjebak dalam strategi differentiation (diferensiasi). Mereka mungkin mengakui adanya masalah, namun mencoba “mengambil jalan tengah” dengan membedakan antara kesalahan sistemik dan kesalahan oknum atau faktor eksternal yang tidak terkendali.

Sesuai pandangan Bostdorff, komunikasi krisis semacam ini berisiko menjadi sekadar alat mempertahankan legitimasi jika tidak dibarengi dengan tindakan korektif yang nyata. Sebuah apologia yang efektif haruslah merupakan “ritual pemulihan sekuler” yang mengakui kesalahan dan mengabadikannya dalam catatan publik (Hearit, 2006). Jika narasi keberlanjutan energi hanya digunakan untuk membungkam kritik tanpa adanya transparansi atas kegagalan teknis, maka retorika tersebut gagal memenuhi syarat narrative fidelity (keselarasan naratif) yaitu kesesuaian antara cerita yang disampaikan dengan fakta yang dirasakan masyarakat di lapangan.

Pemulihan Tatanan atau Jurang Ketidakpercayaan?

Pada akhirnya, tujuan akhir (telos) dari apologia bukanlah sekadar kata-kata maaf, melainkan restorasi ke dalam komunitas melalui penegasan kembali nilai-nilai yang sempat dilanggar. Jika Pertamina terus menggunakan komunikasi krisis hanya sebagai alat untuk “bertahan” (sebagaimana kekhawatiran Bostdorff tentang penggunaan kekuasaan dalam krisis), maka yang terjadi bukanlah pemulihan tatanan sosial, melainkan justru memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.

Keberhasilan Pertamina keluar dari krisis ini tidak diukur dari seberapa canggih mereka berargumen di media, melainkan dari keberanian mereka untuk tampil autentik, mengakui kegagalan secara jujur, dan melakukan pembersihan internal. Tanpa itu, narasi keberlanjutan energi hanya akan terdengar seperti slogan kosong di tengah tangki kepercayaan publik yang kian mengering. (*)

Tags: FISIP UMJMedila Sisca ArimiPertaminaumj

Berita Terkait.

Polisi Kantongi Identitas Penyuplai Narkoba ke Aktor Revaldo
Nasional

BRIN Dorong Hilirisasi Teknologi Air, dari Modifikasi Cuaca hingga Desalinasi

Rabu, 26 Agustus 2026 - 15:35
Guru-PPPK
Nasional

Akademisi Nilai Pengangkatan Guru PPPK sebagai Wujud Demokrasi yang Bekerja

Rabu, 26 Agustus 2026 - 13:15
Djohermansyah-Djohan
Nasional

Guru Besar IPDN: Bila Bencana Lampaui Kapasitas Daerah, Pusat Jangan Tunggu Status

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:31
Truk
Nasional

Stok Beras Pemerintah Diklaim Amankan Fenomena Iklim dan Korban Bencana

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:21
PLTS
Nasional

Bahlil Ungkap Dampak Dahsyat 100 GWp PLTS, Hemat APBN hingga Rp73 Triliun

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:01
PLTS 100 GWp Diluncurkan, Prabowo Sekaligus “Sentil” Kabinet Merah Putih
Nasional

PLTS 100 GWp Diluncurkan, Prabowo Sekaligus “Sentil” Kabinet Merah Putih

Rabu, 26 Agustus 2026 - 01:05
Persija
Olahraga

TC di Thailand Usai, Shin Tae-yong Pamerkan Persija yang Berbeda

Editor Nelly Marinda Situmorang
Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:02

INDOPOSCO.ID - Dua pekan di Thailand bukan sekadar perjalanan pramusim bagi Persija. Dari panasnya latihan fisik di Hua Hin hingga...

SelengkapnyaDetails
Pemain-Persib

Persib Rilis 32 Pemain untuk 4 Kompetisi, Duo Timnas Turut Hiasi Skuad

Rabu, 26 Agustus 2026 - 08:40
Gustavo Almeida Cabut, Persija Mulai Era Baru di Lini Depan

Gustavo Almeida Cabut, Persija Mulai Era Baru di Lini Depan

Selasa, 25 Agustus 2026 - 22:40
Hasil Liga Inggris: City Comeback Dramatis, Liverpool Selamat di Ujung Laga

Hasil Liga Inggris: City Comeback Dramatis, Liverpool Selamat di Ujung Laga

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:56
Luis-Diaz

Bekuk Dortmund di Signal Iduna Park, Bayern Angkat Trofi Piala Super Jerman 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:02

BERITA POPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.